Beberapa waktu lalu ketika menggantikan clodi Khansa, saya temukan noda agak kecoklatan di insertnya. Tadinya saya anggap mungkin itu noda biasa. Beberapa waktu kemudian, noda kecoklatan itu berubah menjadi agak kemerahan. Panik dong. Tambah khawatir lagi sesudah nyeboki Khansa dan mau memakaikan clodi, saya lihat dari farjinya keluar semacam keputihan tapi warnanya agak keruh :’(

Dulu hal ini pernah saya tanyakan ke DS, bliau bilang katanya ngga apa-apa asalkan warnanya bening dan ngga bau. Stelah browsing mengenai keputihan pada bayi, saya dan zauji kemudian ada beberapa asumsi :

  1. Adanya benda asing yang masuk ke farji >> waktu nyeboki Khansa saya menemukan adanya salep yang mengumpul di an*snya, kemungkinan ummu bima memberikan salep untuk ruam popok Khansa dan karena terkena pipis jadi melebar kemana-mana
  2. Daerah kemaluan lembab sehingga menimbulkan jamur
  3. Jarak yang terlalu lama dalam mengganti clodi

Untuk butir yang ketiga, kalau siang memang Khansa seringkali diganti clodinya, kurang lebih 3-4 jam. Lha kalo malam itu yang agak-agak susah (susah ato males yak hehe). Jadi biasanya hanya dua kali saja saya ganti clodinya, jadi dari kurleb jam 9-10 maleman sampe jam 5.30-6an Khansa memakai clodi yang sama. Saya pakaikan clodi yang premium dan double insert, jadi sampe pagi pun -Insya Allah- ngga nembus. Sempet juga dimarahi zauji supaya tetep mengganti clodi walopun tengah malam, kasihan Khansanya katanya. Iya juga siy, tapi seringkali jam segitu masih ngantuk dan akhirnya bablas hingga subuh. Hmm.. sekilas jadi pengen mulai toilet training ke Khansa. Bisa ngga yaaa , mengingat kalo TT harus sering ngajak bolak balik ke kamar mandi. Belum lagi kalo pup or pipisnya kemana-mana -_-’

Sejak saat itu saya jadi lebih perhatian mengenai kebersihan farjinya Khansa. Saya bilang ummu bima untuk tidak memakaikan salep apapun di daerah kemaluan Khansa, lebih sering mengganti clodinya (err.. kecuali kalo malam *maapkeun simbok ya nduk), kalo eek harus langsung cepet-cepet diganti. Alhamdulillah tadi pagi siy saya lihat clodinya bersih. Bismillah.. mudah-mudahan Khansa terhindar dari kemadhorotan.

Sebagai info tambahan, berikut saya copas artikel Anak dan Keputihan  dari sini

**********

ANAK & KEPUTIHAN
Ternyata keputihan bukan monopoli wanita dewasa saja. Bahkan bayi bisa mengalaminya.

Benar, keputihan, kata Dr. Susmeiati H. Sabardi, SpKK dari RSAB Harapan Kita Jakarta, bisa terjadi pada siapa saja. Termasuk pada balita, bahkan bayi. Keputihan, menurut dokter yang akrab dipanggil Susi, adalah semua cairan yang keluar dari vagina selain darah. Dalam bahasa kedokteran, gejala ini disebut fluor albus, leukorrhea, vaginal discharge, atau awam sering menyebutnya pektai.

Keputihan dibedakan menjadi dua, yaitu keputihan fisiologi atau normal dan patologis atau penyakit. “Jadi, tidak semua keputihan adalah penyakit. Pada anak pun, keputihan normal juga bisa terjadi.” Cara membedakannya, jelas Susi, sebagai berikut.

* Jumlah cairan

Pada keputihan normal, jumlahnya sedikit. Sedangkan keputihan penyakit, jumlahnya lebih banyak.

* Warna

Putih jernih untuk keputihan normal dan kuning, cokelat, kehijauan, bahkan kemerahan pada keputihan penyakit.

* Bau

Pada keputihan normal, bau yang ditimbulkan tidak menyengat dan khas. Pada keputihan penyakit, bau yang ditimbulkan bisa asam, amis, atau bahkan busuk.

* Konsistensi atau kekentalan

Pada keputihan normal cairan yang keluar biasanya agak lengket, sedangkan pada keputihan penyakit, cairannya bisa cair atau putih kental seperti kepala susu.

FAKTOR DARI DALAM

Ada dua hal yang menjadi faktor pendorong keputihan, yaitu faktor endogen dari dalam tubuh dan faktor eksogen dari luar tubuh yang keduanya saling mempengaruhi. Pada bayi atau anak, yang menjadi penyebab keputihan adalah kelainan pada lubang kemaluan. Di antaranya:

* Faktor endogen (sawar kulit) atau permukaan kulit sebagai pintu masuk mikroorganisme karena masih sangat tipis dan rentan, serta mudah mengalami peradangan.

* Bibir luar kemaluan belum berkembang, lemaknya masih tipis, dan menyebabkan lubang kencing maupun lubang kemaluan (vestibulum) belum terlindungi maksimal. Ini juga memudahkan terjadinya peradangan.

* Kemaluan belum ditumbuhi rambut, yang pada orang dewasa berfungsi sebagai pelindung.

* Letak lubang kemaluan pada bayi dan anak masih sangat dekat dengan anus, sehingga mudah terkontaminasi oleh bakteri dari anus maupun iritasi akibat feses (kotoran).

* PH atau keasaman vagina cenderung netral dan basa (alkalis). Ini memudahkan bakteri berkembang biak walau sulit bagi jamur yang lebih suka keadaan asam (seperti yang sering dijumpai pada wanita dewasa).

* Hingga usia 2 bulan, kadar hormon estrogen yang terbawa dari ibu masih tinggi. Keadaan ini mempengaruhi jumlah cairan vagina. Pada anak prapubertas, peningkatan kadar hormon estrogen terjadi lagi sehingga mempengaruhi peningkatan produksi cairan yang melapisi dinding vagina.

FAKTOR DARI LUAR

Sementara keputihan yang disebabkan faktor eksogen dibedakan menjadi 2, yaitu yang disebabkan oleh infeksi dan noninfeksi. Berikut hal-hal yang bisa menjadi penyebabnya.

* Infeksi:

* bakteri (Haemophilus influenzae, Shigella eischeria coli, Chlamydia trachomatis, dan sebagainya),

* jamur (candida),

* parasit (Trichomonas vaginalis, Oxyuris enterobius vermicularis)

* cacing kremi

* Noninfeksi:

* Masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak. Pada bayi, hal ini biasanya terjadi bila kapas atau tisu yang dipakai untuk membersihkan kotoran ada yang tertinggal. Sementara pada anak, benda asing yang masuk biasanya pasir karena anak-anak suka duduk dan bermain di atasnya, manik-manik, biji-bijian, atau bubuk krayon.

Akibatnya terjadi peradangan pada vulva (lubang luar vagina) atau pada liang vagina yang kemudian menimbulkan keputihan.

* Cebok tidak bersih. Anak bayi dan batita biasanya masih diceboki, sehingga sisa kotoran yang tertinggal bisa dibersihkan secara seksama. Namun setelah agak besar, biasanya anak sudah malu dan orang tua pun menganggapnya bisa cebok sendiri. Padahal, mungkin ceboknya tidak bersih benar. Akibatnya terjadi infeksi yang menyebabkan keputihan.

* Daerah sekitar kemaluan lembap. Misalnya setelah buang air kecil, daerah kemaluan anak tidak dikeringkan secara seksama sehingga celana dalamnya basah dan menimbulkan kelembapan di sekitarnya. Ditambah sisa air seni yang dapat menyebabkan iritasi dan gatal, sehingga nantinya muncul reaksi keputihan.

* Menahan buang air kecil karena asyik bermain. Akibatnya, air kencing menetes sedikit-sedikit yang membuat daerah itu rawan iritasi, lembap, dan gatal.

* Duduk dan jongkok sembarangan di tanah atau di lantai. Oleh karena vaginanya belum menutup sempurna, maka mudah saja jamur, bakteri, dan benda asing masuk ke daerah itu.

* Menggaruk daerah vagina dengan tangan yang kotor. Ini terjadi kalau anak merasa gatal di daerah itu. Akibatnya bibit penyakit di tangan pindah ke vagina dan menyebabkan keputihan.

MENCEGAH & MENGOBATI

Sebelum telanjur, keputihan pada anak dapat dicegah dengan beberapa hal:

* Jagalah kebersihan seputar kemaluan. Kalau pada bayi dan anak, tentunya masih tergantung pada orang tuanya.

* Ceboki bayi dan anak dengan benar. Mengelap daerah sekitar kemaluan dan anus hanya akan memperluas cairan kencing ke segala arah. Padahal, cairan kencing gampang menimbulkan iritasi.

* Jangan membedaki daerah vagina. Serbuk bedak yang masuk ke dalamnya akan dianggap sebagai benda asing dan bisa menyebabkan peradangan untuk selanjutnya menjadi keputihan.

* Pada anak usia 5 sampai 10 tahun, lakukan pengecekan kebersihan alat kelamin dan anggota badannya paling tidak seminggu 2 kali. Di usia ini, anakpaling rentan mengalami keputihan karena ia sudah tidak mau diceboki sementara keterampilan merawat organ kelaminnya belum dikuasai benar.

Jika muncul gejala keputihan yang tidak normal, seperti buang air kecil yang disertai rasa sakit, segera bawa anak ke dokter. Tak perlu pula, saran Susi, membersihkan vagina anak dengan rebusan daun sirih atau cairan khusus pembersih vagina seperti yang kerap dilakukan orang dewasa. Menurut Susi, air untuk cebok bukan merupakan faktor penyebab keputihan, selama kebersihannya tidak tercemar.  

Cara Tepat Merawat Organ Intim

Seringkali membersihkan vagina dianggap sebagai urusan sepele. Padahal, kata Susi, diperlukan tata cara yang benar.

* PADA BAYI:

· Setelah buang air kecil atau besar, bersihkan dahulu kotorannya dengan kapas bulat yang telah dibasahi dengan air bersih, setelah itu guyur dengan air (jangan hanya dioles) agar kotoran terbuang seluruhnya. Setelah itu, keringkan dengan kain atau tisu tanpa parfum dan tak gampang robek.

· Jangan sabuni daerah vagina. Cukup bersihkan seputar kemaluannya dengan sabun bayi dan jangan terlalu digosokkan ke permukaan kulit.

· Pilih sabun yang tidak berparfum dan PH-nya seimbang.

· Pastikan ketika cebok, guyuran air dari depan ke belakang. Jangan terbalik, karena bisa menyebabkan masuknya bakteri anus ke vagina.

· Bedak tidak dianjurkan digunakan di daerah kemaluan. Bedak boleh digunakan sebatas di lipatan paha (selangkangan) untuk mencegah iritasi yang disebabkan gesekan. Jika di situ ada luka, bedak tidak boleh digunakan sama sekali.

* PADA BALITA:

· Ajarkan untuk membuka lutut lebar-lebar saat buang air kecil agar urin tidak terkumpul di vagina dan sekitarnya.

· Cebok diguyur dari depan ke belakang. Lebih bagus bila menggunakan shower/selang pancuran.

· Setelah cebok, keringkan daerah seputar kemaluan. Sediakan handuk kecil khusus untuk itu.

· Jangan gunakan sabun berparfum. Cukup gunakan busanya dan jangan sampai masuk ke dalam vagina.

· Saat mandi, jangan menggosok bagian vagina dengan sabun terlalu lama.

· Jangan biasakan anak berendam dengan bubble bath. Cairannya memudahkan terjadinya iritasi di daerah vagina.

· Saat berenang, hindari pakaian renang yang kesempitan.

· Kenakan pakaian yang tidak kelewat ketat.

7 Hal Yang Harus Diingat

1. Ajarkan pada anak menjaga kebersihan organ kewanitaannya.

2. Ajarkan cara cebok yang benar.

3. Waspadalah bila anak mulai sering menggaruk-garuk kemaluannya atau tidur tidak tenang karena menahan kencing.

4. Usahakan untuk sesekali mengecek celana dalam anak. Pastikan tidak ada vlek di situ.

5. Gunakan tisu dan sabun yang tidak berparfum untuk membersihkan daerah sekitar kemaluan.

6. Untuk mengeringkan, gunakan tisu yang tidak mudah hancur.

7. Ganti celana dalam anak minimal 2-3 kali sehari, supaya celana selalu dalam keadaan kering.

Marfuah Panji Astuti.

About these ads

About ummuyusufabdurrahman

Serius bisaa.. becanda bisa.. serius sambil becanda bisaa.. becanda sambil serius bisa.. :)) Translation : Serious yess.. joking yess.. seriously joking yess.. joking seriously yess.. halah yes yess.. :))

2 responses »

  1. novi lorita says:

    terima kasih buat infonya, bermanfaat bgt apalagi aku punya anak perempuan hrs pinter2 mengajarkan kebersihan terutama di daerah V ya ?

    • sama-sama mba novi :)
      iya, sedari kecil sudah harus dibiasakan bersih daerah V-nya.. sebenarnya udah pengen mulai toilet training biar ngga pake clodi/pampers lagi, tapi saya-nya masih belum bisa liat pipis dimana-mana *padahal males*:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s