“Metamorfosis” Jilbab

Bismillah..

Metamorfosis, yup.. mungkin itu kata yang tepat bagi saya. What kind of metamorphosis?

Begini ceritanya…

Seingat saya, saya memakai jilbab sejak tanggal 24 Juli 2000 (setelah lulus SMA). Waktu itu jilbabnya masih yang kecil.

Ketika kuliah, jilbab saya masih belum ada perkembangan. Masih nyumplik, bahkan kadang diikat di belakang leher. Baju juga masih terkontaminasi dengan  sifat tomboy saya, dalam arti masih suka pake celana panjang.

Kemudian saya ikut pengajian berkelompok. Di situ para akhwat memakai rok. Lumayan terpengaruh sih, kadang-kadang saya memakai rok .. walaupun masih lebih banyak bercelana ria. Pernah kena sindiran salah satu akhwat kenapa masih memakai celana. Alasan saya karena koleksi rok belum banyak (ngeless). Juga alasan praktis, karena saya sering naik motor kemana-mana.. kalo pake rok kok agak ribet. Jilbab juga jadi agak terpengaruh, kadang-kadang memakai yang lebar (terutama kalo pas pengajian atau ada acara keagamaan *bandel  ;p ).

Waktu bekerja juga belum ada perubahan berarti, masih suka bercelana panjang dan sering pake jilbab pendek. Kalopun jilbab agak panjang, ada belahan sampingnya (jilbab gaul). Ditambah lagi di tempat saya bekerja ada dinas lapangan dan membutuhkan kegesitan, skali lagi.. kalau memakai rok agak ribet. Nau’dzubillah, saya berlindung dari Allah dan memohon ampunan atas perbuatan diri saya waktu itu.

Kemudian saatnya perubahan, yaitu ketika saya mulai ta’aruf dengan zauji  (masih calon suami saat itu). Pada awal ta’aruf, saya bertemu suami masih dengan celana panjang. Suatu saat (calon) suami saya bilang, “saya cemburu kalau istri saya memakai celana”. Dia juga menjelaskan alasannya bahwa dia cemburu bila istrinya pake celana di tempat umum, karena jika seseorang mempunyai sesuatu yg berharga tentunya dia ingin menjaganya dengan baik. As we know, kalo pake celana itu menampakkan bentuk kaki dengan jelas. Mulai tergugahlah hati saya untuk memakai rok.

Setelah itu saya mencoba untuk memakai rok, walaupun awal-awalnya masih agak kagok, sering kesrimpet karena lebar rok tidak dapat mengimbangi panjang dan cepatnya langkah kaki saya *pfiiuh..

Kemudian proses ta’aruf dengan (calon) suami pun berjalan dan alhamdulillah diberkahi Allah kemudahan hingga pernikahan.  Setelah menikah ada  sedikit kendala tentang pemakaian rok, yaitu pada waktu saya membonceng motor ada keluarga yang bilang untuk memakai celana aja, karena kaki pegel kalau mbonceng menyamping dalam jarah jauh. Saya cuma  senyum dan bilang “ngga papa”, alhamdulillah keluarga saya sekarang sudah paham dan bisa menerima saya memakai rok tiap hari (dalam situasi apapun).

Zauji pun terus mengarahkan secara perlahan.  Dimulai dulu dari jilbab (karena pemakaian rok sudah tidak menjadi masalah). Satu per satu jilbab kecil mulai disingkirkan. Zauji siap sedia mengantar untuk hunting  jilbab besar, bahkan sampai ke Bogor.  Ketika memakai jilbab besar juga ada sedikit ganjalan. Beberapa saudara mempertanyakan perubahan saya, dan menyarankan untuk memakai jilbab yang “standar” aja supaya praktis. Tanggapan saya tetap sama, just smile dan tetap bersikap baik pada mereka. Smoga lama kelamaan mereka akan bisa memahami perubahan saya, Insya Allah.

Saya pun berusaha meningkatkan wawasan tentang adab berpakaian bagi muslimah, supaya menambah dasar dan pijakan saya dalam memahami dan mengamalkannya. Alhamdulillah sekarang saya memakai rok dan jilbab besar (dan panjang tentunya ^^), dan berusaha untuk istiqomah.  Alhamdulillah mempunyai suami yang sabar dan senantiasa mengingatkan dikala saya mulai lengah, lalai dan terbawa keinginan duniawi.

Saya ingin menjaga diri dari pandangan liar kaum lelaki dan dari fitnah, serta  menjaga keindahan yang dikaruniakan Allah hanya untuk dinikmati suami, Insya Allah..

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab:59)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”  ( Ali Imran : 8 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s