Kajian di Istiqlal

Hari Minggu tanggal 17 Januari yang lalu saya dan zauji pergi ke masjid istiqlal menghadiri tabligh akbar Syaikh Abdur Rozzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr (Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana di Fakultas Aqidah & Ushuluddin Universitas Islam Madinah) temanya “Sebab-Sebab Datangnya Kebahagiaan”. Zauji tahu kegiatan ini dari sms teman kuliahnya.

Kami berangkat dari rumah skitar pukul 8.30. Naik bus jurusan cibinong-senen. Sampe di daerah atrium kami turun dan naik busway jurusan harmony, turun di halte istiqlal.

Subhanallah.. ketika sampai istiqlal ternyata pesertanya banyaaak banget. Sayangnya saya jumpai ada ikhtilath antara ikhwan akhwat, mungkin karena saking banyaknya peserta. Saya dan zauji pisah tempat, dan janjian  bertemu di tempat masuk ketika kajian sudah selesai.

Saya mendapat tempat kurang strategis, berkumpul bersama ummahat dan anak-anak yang agak jauh dari speaker. Jadi yaa.. begitulah keadaannya, suara ustadz hanya terdengar sayup-sayup ditengah keramaian suara tangis dan tawa anak-anak di sekitar saya. Hanya sedikit isi kajian yang saya bisa serap. Ya sudah, akhirnya saya putuskan untuk tutup buku dan menanyakan pada zauji isi kajiannya di rumah ato browsing di internet.

Ba’da dzuhur kajian pun selesai. Sambil menunggu keramaian agak surut, saya ngobrol dengan ummahat yang ada di dekat saya. Rumah bliau di daerah cimanggis, berangkat ke Istiqlal bersama suami dan ke 5 anaknya. Subahanallah.. jumlah semua anaknya ada 6 orang (hiks.. pengeeen). Blau lulusan D3 ekonomi undip, dan suaminya dari fakultas kelautan undip angk’92… *senyum* ternyata ngga jauh-jauh amat. Saya dari Fak hukum undip, dan suami saya Fak kelautan undip angk’00. Saya dan ummahat tersebut sama-sama di undip bawah, sedang suami sama-sama dari undip atas..*dipas-pasin ;p

Oh ya, kembali ke masalah kajian. Stelah semalam saya ngobrol dengan zauji dan hari ini browsing hasil kajian di sini dan sini , terdapat beberapa hal yang dapat saya ambil :

Tanda kebahagiaan adalah bila seseorang menjadikan kejelekannya di hadapan matanya sedangkan kebaikan-kebaikannya di masa lalu dia lupakan. Saking menyesalnya terhadap semua kejelekan yang telah ia perbuat maka tiap saat waktunya ia gunakan untuk beristighfar mohon ampun kepada Allah SWT. Dia tak perlu pedulikan lagi kebaikan-kebaikannya karena sudah dengan sundirinya diurus Allah karena Dia telah mencatatnya. Namun kejelekan harus selalu diperbaiki dengan istighfar.

Tanda musibah adalah bila seseorang menjadikan semua kejelekannya dia sembunyikan jauh-jauh tapi kebaikannya ditaruh di depan agar dipuji manusia. Ia senang membicarakan tentang amal baiknya kepada orang lain sehingga orang menjadi terkesima dengan amalan-amalannya. Di sini riya dan ujub mulai menjangkiti dirinya, maka mala petaka lah yang ia alami dan neraka lah ganjaran terbaik untuknya.

Ada delapan hal agar kita memiliki akhlak mulia (Ibnul Qayyim al Jauziah):

1. Tauhid
2. Menggali Ilmu
3. Kembali ke Allah
4. Selalu ingat Allah
5. Membantu orang lain
6. Keberanian
7. Menghilangkan penyakit hati
8. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan

Oya, satu hikmah yang dapat saya ambil.. tinggalkan sifat ujub dan riya… sang penghancur amal


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s