Safar ke Bandung

Keinginan zauji dan saya untuk mengamalkan sunnah diuji. Kali ini datang (untuk ke sekian kalinya) dari kantor saya.

Hari senin yang lalu (1 Maret 2009) saya ditugaskan kantor untuk mengikuti rapat di Bandung. Beberapa hari sebelumnya saya sudah berusaha minta atasan untuk menugaskan teman menggantikan saya. Tapi atasan menolak, dengan alasan rapat ini adalah bagian dari tanggung jawab saya. Ya sudah, akhirnya saya berdiskusi dengan zauji bagaimana mengatasi hal ini, karena sesuai ketentuan syariat tentang safar bagi muslimah, maka harus ada mahram yang menemani saya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahramnya.” Kemudian seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah ! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Keluarlah bersama istrimu (menunaikan haji).” (Dikeluarkan hadits ini oleh Muslim dan Ahmad)

Oleh karena ngga mungkin meminta abi ato mahram saya yang lain untuk menemani, akhirnya zauji mengantar jemput saya untuk dinas tersebut.  Saya kasihan juga dengan zauji, pasti capek karena bolak balik Cibinong-Bandung. Senin malam mengantar saya ke Bandung, pagi harinya (selasa jam 5.30) sudah kembali lagi ke Cibinong untuk pergi ke kantor. Kemudian sore harinya zauji pergi lagi ke Bandung untuk menjemput saya. Kami menginap satu malam lagi dan kembali bersama-sama ke Cibinong pada rabu pagi.

Ini adalah usaha minimal yang bisa kami lakukan saat ini dalam mengamalkan tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wassalam- . Kami sadar bahwa hal ini belumlah cukup, masih jauh dan tidak sepadan dengan perjuangan dan pengorbanan salafush shalih, atau bahkan saudara-saudara kami yang lain dalam menegakkan sunnah. Insya Allah, kami akan berusaha selangkah demi selangkah, semakin mendekati tuntunan Allah dan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wassalam- , dan hanya kepada Allah-lah kami mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kami.

وعن بن عمررضى اللّه عنهماعن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : كلّكم راع وكلّكم مسءول عن رعيّته ، والأميرراع ، والرّجل راع على أهل بيته ، والمرأةراعيّةعلى بيت زوجهاوولده ، فكلّكم راع وكلّكم مسءول عن رعيّته (متفق عليه)٠

Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Uhibbuka fillah zauji.. suatu kalimat yang takkan bosan saya ucapkan untuknya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s