Ketika Syari’at Dihujat

Betapa sedihnya kita tatkala ada orang dekat kita men-judge kita dengan sesuatu yang buruk, padahal apa yang kita lakukan adalah termasuk salah satu syari’at Allah yang kita yakini kebenarannya.

Ya, dua hari yang lalu tiba-tiba ada yang berkata pada saya “kok, kamu bajunya lama-lama kaya taliban sih?jangan-jangan nanti jadi teroris”. Saya cukup kaget mendengarnya. Apalagi bliau adalah orang orang yang saya hormati dan telah mengenal saya sejak kecil (FYI, bukan ortu saya). Waktu itu saya pake gamis dan jilbab lebar warna coklat tua. Saya hanya bisa senyum mendengarnya dan bilang, “Insya Allah engga”.

Kemudian beliau menambahkan “bisa aja lho, berawal dari pakaian, kemudian dicuci otak, brainwashed, katanya pergi mau kerja ternyata jadi teroris”. I keep smiling, walopun ati agak panas. (sabar.. sabar..). Stelah itu ada orang lain (org yang saya hormati juga) yang menambahkan “betul itu, di mahasiswa juga banyak yang kaya gitu, mulainya dari pakaian (sambil tangannya mengarahkan dari atas ke lutut *maksudnya mungkin baju panjang)”. Suatu perkataan yang tanpa perhitungan dan asal diucapkan (maaf). Waktu itu saya hanya diam, karena saya tidak ingin berbantah-bantahan dengan mereka, apalagi mengingat kondisi saat itu yang sudah malam dan mereka berdua usai membahas satu masalah yang pelik.

Saya juga tidak menyalahkan mereka sepenuhnya, karena mungkin mereka terpengaruh dengan isu terorisme, dimana terdapat beberapa istri teroris yang memakai jilbab lebar atau mengenakan niqab (cadar). Well.. tapi bukan berarti kemudian mereka bisa seenaknya menyamaratakan tiap orang dengan ciri seperti itu dengan teroris.

Tahukah mereka kenapa saya berjilbab lebar dan mengenakan pakaian longgar? cukuplah ayat-ayat Allah yang menjawabnya..

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)

Tahukah mereka tentang hadist Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wassallam- ini?

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421)

Atau mungkinkah mereka lebih nyaman memandang wanita yang auratnya terbuka?menampakkan lekuk tubuh dan aroma wangi yang dapat menimbulkan fitnah dan birahi kaum adam?na’udzubillah.. wallahul musta’an.

Terkait dengan hal ini, seorang teman juga baru beberapa hari lalu bercerita, bahwa suaminya pernah dibilang oleh rekan kerja teman saya itu dengan sebutan teroris. Hal ini  karena penampilan suaminya yang berjenggot dan bercelana panjang tidak melebihi mata kaki (tidak isbal), atau lebih familiar dengan celana ngatung/cingkrang.

Belum tahukah mereka akan untaian hadits-hadits berikut ini tentang isbal?

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,

خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306). Orang yang isbal (musbil) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki.


إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ – أَوْ لاَ جُنَاحَ – فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shogir, 921)

Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا مَوْضِعُ الإِزَارِ فَإِنْ أَبِيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبِيْتَ فَلاَ حَقَّ لِلإِْزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ

“Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shohih)


Dan tentang jenggot..

Abdullah bin Umar berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah jenggot kamu dan tipiskanlah kumis kamu”. HR al Bukhari, Muslim dan al Baihaqi.

“Dari Abi Imamah : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu, tinggalkan (jangan meniru) Ahl al-Kitab”. Hadits sahih, HR Ahmad dan at Tabrani.

“Dari Aisyah berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Sepuluh perkara dari fitrah (dari sunnah nabi-nabi) diantaranya ialah mencukur kumis dan memelihara jenggot”. HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasaii dan Ibn Majah.

Lalu salahkah jika kami mengamalkan syari’at tersebut?

Wahai saudaraku, kami hanyalah  thollabul ilmi (penuntut ilmu) yang berusaha meraih surga, dengan sebanyak mungkin mempelajari ilmu syar’i sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan dengan kenistaan macam teroris.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu.

Kami hanya ingin mengamalkan tuntunan Allah, salah satunya dengan berpakaian dan berpenampilan sesuai sunnah Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Janganlah kalian menghakimi kami dengan pandangan yang salah, berdasar pemikiran yang dangkal dan informasi yang sepotong-sepotong.

Saya hanya bisa mendoakan, smoga Allah membukakan hati mereka akan petunjuk kebenaran-Nya, dan hanya kepada Allah-lah kami memohon pertolongan dan berserah diri..

Ya Allah , janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi karunia.” (QS. Âli ‘Imrân: 8)







2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s