Ayo Menanam!

Di teras depan rumah saya ada beberapa pot tanaman, tentu saja tak seindah image yang ada di samping ini.. tapi alhamdulillah cukup menyegarkan dan menghijaukan suasana. Pot-pot itu saya letakkan berbaris di samping kanan dan kiri pohon jambu yang sudah ada sebelumnya di teras.  Dari beberapa tanaman yang ada, hanya satu tanaman yang zauji beli sendiri yaitu lidah buaya, lainnya pemberian dari om dan tante ketika awal-awal saya pindahan rumah, juga pemberian teman zauji.

Saya sendiri hanya bertugas menyiram dan menyiangi tanaman liar yang ada di dalam pot, kalo untuk memisahkan “anakan” ke dalam pot baru, itu dilakukan zauji. Ketika awal-awal mempunyai tanaman, saya sempat heran, kok daun-daunnya banyak yang terkoyak.. tadinya saya sempat curiga kalo ada ulat, ternyata itu adalah ulah siput. Suatu saat pernah saya temukan sang siput sedang asyik ngendon di dalam pot, kemudian saya buang ke got. Eh, beberapa hari kemudian dia udah nongkrong lagi di pot. Terakhir kemarin saya buang ke tempat sampah, dan sudah beberapa hari ini ngga keliatan. Saya agak sebel juga, soalnya tanaman jadi rusak.

Kemarin saya browsing artikel, dan saya temukan satu bahasan yang menarik di web sini, judulnya Go Green, Sebuah Amal Jariyah. Di artikel itu saya membaca beberapa hadits disertai penjelasan dari ulama yang mengingatkan saya dengan sang siput. Berikut saya kutipkan hadits dan keterangannya.

***

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]

Al-Imam Ibnu Baththolrahimahullah– berkata saat mengomentari hadits ini, “Ini menunjukkan bahwa sedekah untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat pahala”. [Lihat Syarh Ibnu Baththol (11/473)]

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya” . [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiyrahimahullah– berkata menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang paling baik dan paling afdhol. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah bercocok tanam. Inilah pendapat yang benar. Aku telah memaparkan penjelasannya di akhir bab Al-Ath’imah dari kitab Syarh Al-Muhadzdzab. Di dalam hadits-hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin, dan bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya”. [Lihat Al-Minhaj (10/457) oleh An-Nawawiy, cet. Dar Al-Ma’rifah, 1420 H]

Pahala sedekah yang dijanjikan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam hadits-hadits ini akan diraih oleh orang yang menanam, walapun ia tidak meniatkan tanamannya yang diambil atau dirusak orang dan hewan sebagai sedekah.

Al-Hafizh Abdur Rahman Ibnu Rajab Al-Baghdadiyrahimahullah– berkata, “Lahiriah hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa perkara-perkara ini merupakan sedekah yang akan diberi ganjaran pahala bagi orang yang menanamnya, tanpa perlu maksud dan niat”. [Lihat Iqozh Al-Himam Al-Muntaqo min Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (hal. 360) oleh Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1419 H]

***

Subhanallah.. saya sama sekali tidak menyangka dan baru mengetahui akan hal ini, ternyata tanaman yang dimakan oleh hewan (dalam cerita saya sang siput) termasuk dalam sedekah, bahkan bila tanaman itu dicuri pun termasuk dalam sedekah dan mendapat ganjaran pahala dari Allah bagi yang menanam, tanpa dia berniat untuk menyedekahkannya.  Kalo begini, akan lebih memacu semangat saya untuk menanam tanaman, dan tidak hanya sekedar menyiram dan memelihara saja ;p

Hmm.. sepertinya profesi sebagai petani atau berkebun menarik juga, ditambah lagi dengan membaca hadits dan keterangannya yang satu ini :

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam hadits-hadits lainnya, seperti beliau pernah bersabda,

إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2068), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (479). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 9)]

Ahli Hadits Abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniyrahimahullah– berkata saat memetik faedah dari hadits-hadits di atas, “Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat menunjukkan anjuran bercocok tanam sebagaimana dalam hadits-hadits yang mulia ini, terlebih lagi hadits yang terakhir diantaranya, karena di dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai hari kiamat”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/1/38)]


2 Comments

  1. masyaAllah senang menanam ya..
    saya juga senang berkebun sejak kecil..
    sayangnya di jakarta belum menemukan kebun ^ ^
    alhamdulillah halaman mini di depan rumah dihiasi oleh mawar, berbagai kaktus, belimbing, tanaman obat dsb.. GO GREEN GO.. *senyum
    Allah yubaarik fiik

    • ^_^ saya hanya bagian pemeliharaan saja ukh, soalnya sebagian besar tanaman yang ada di teras itu hasil pemberian, hanya beberapa yang ditanam sendiri yaitu “anakan” dari tanaman tsb.. itupun zauji yang mengerjakan hehe.. makanya dengan adanya hadits itu saya jadi termotivasi untuk menanam sendiri ni ukh

      masya Allah.. rumah anti spertinya adem banget dengan banyaknya hijau2an *jadi pengen* :)
      kalo boleh tau anti tinggal di daerah mana jakartanya?
      wa fiiki barokalloh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s