Tak Ada Kayu Bambu pun Jadi ^^

penampakan meja & kursi bamboo

Sebenernya udah lumayan lama saya pengen beli kursi, karena emang menurut saya dibutuhkan, terutama kalo para orang tua bertamu. Kasihan kalo mereka duduk bawah, agak susah berdirinya, apalagi yang punya sakit asam urat.  Na’am, selama ini  kami duduk di bawah dengan beralaskan karpet. Sekarang baru ada satu kursi (buat nyetrika, maklum udah susah kalo nyetrika di bawah, ketahan perut euy hehe), itu kepunyaan tante yang dibawa waktu ummi ke sini karena ummi udah agak susah kalo duduk di bawah kelamaan, dan alhamdulillah disuruh ninggal kursinya disini aja ama tante -jazaahallahu khairan-  ^^

Saya sudah bilang zauji ngga usah yang beli yang bagus. Cukup kursi teras aja yang dua kursi dan satu meja dari kayu. Tapi zauji pengennya kursi yang bisa dilipet dan ngga usah pake meja, biar ringkes, mengingat rumah (kontrakan) kami yang luasnya cukupan (ngga luas banget). Belum lagi nanti kalo punya rumah sendiri dan ternyata lebih sempit.

Kami sudah survey kursi teras, harganya lumayan, Rp. 700ribu. Mengingat pengeluaran kami bulan ini sudah lumayan banyak, jadi kami menundanya. Time goes by dan masalah meja kursi udah ngga kami bicarakan lagi.

Qodarullah pada hari sabtu yang lalu ketika kami sedang jalan-jalan pagi liat ada bapak-bapak berjalan membawa meja kursi dari bambu. Bentuknya ringkas dan sederhana, terdiri dari 1 kursi panjang, 2 kursi kecil, dan 1 meja, bisa disusun jadi ngga terlalu makan tempat.  Tadinya cuma iseng nanya-nanya brapa harganya, kata bapaknya smua 325rb. Ditawar-tawar akhirnya jatuh ke harga 250rb. Jadi beli deh. Langsung kita balik lagi ke arah rumah. Padahal baru separo jalan hehe..

Di perjalanan menuju komplek perumahan, zauji bilang “kok bisa jadinya beli kursi sih?” hahaha.. ngga tau yaa..kan niatnya jalan-jalan (dalam hati senang). Alhamdulillah akhirnya diberkahi Allah rizki ini. Yup, setelah lumayan lama menunggu, skarang dapet meja kursi dengan harga ngga terlalu mahal dan bentuknya lumayan bagus, dengan warna coklat (salah satu warna kesukaan saya selain biru), dan bernuansa tradisional.

Alhamdulillah.. menunggu dalam kesabaran itu manis buahnya, Insya Allah. Saya sudah sering mengalaminya. Sabar menunggu jodoh yang terbaik dari Allah (yg mempertemukan saya dengan zauji ayang hihi..), mencari rumah kontrakan (alhamdulillah dapet yang cukup luas, harga ngga terlalu mahal, dan lingkungan yg baik), menunggu datangnya sang buah hati (Insya Allah akan segera lahir, smoga smuanya sehat dan selamat), menanti dimutasi  padahal ngajuinnya sudah lama (alhamdulillah mutasi pada waktu saya -Insya Allah- akan melahirkan anak), dan sekarang.. Insya Allah sabar menunggu diberkahi Allah rumah yang terbaik bagi kami ^_^  (masih terus berdoa dan ikhtiar).

Back to the story, akhirnya zauji yang mengantar bapak penjual meja kursi ke rumah, dan saya nunggu di tempat warung makan buat nge-teh manis. Usai meja kursi dipasang, zauji menjemput saya dan kami lanjutkan jalan-jalan paginya (sayang kalo berhenti jalan-jalannya, soalnya udah sangu buras, bakwan, sama ketan buat bekal di jalan hehehe).

Ibroh dari coretan saya yang sederhana dan seems meaningless ini ;p , bagi yang saat ini sedang dalam masa penantian,  apapun itu.. maka hendaknya bersabar menunggu datangnya ketetapan Allah. Yakinlah bahwa ilmu Allah maha sempurna, dan perhitungannya selalu tepat.

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri (Ath Thuur :48)

 

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s