Aqiqah dan Pemberian Nama

Samurah bin Jundab radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis * rambutnya dan diberikan nama.” (HR. Abu Dawud no. 2838. Berkata Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih (4/233): “Ini hadits shahih“.)

Untuk melaksanakan sunnah Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- maka pada hari ketujuh dari kelahiran putri kami, saya dan zauji melaksanakan aqiqah. Kami tidak melakukan pengajian di rumah seperti kebanyakan orang pada umumnya yang kalo ngga salah disertai dengan semacam ratiban, karena hal ini tidak ada tuntunannya dari Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-. Kami hanya memotong kambing dan membagi kardus berisi makanan (termasuk olahan kambing) kepada tetangga sekitar dan makan bersama keluarga.

Waktu aqiqah cukup bikin deg-degan karena adanya kesalahan teknis. Zauji yang udah pesen ke salah satu tempat penyembelihan kambing aqiqah, ketika pagi harinya datang ke sana ternyata yang ada domba, ngga ada kambing. Padahal tante dan ummi sudah menunggu untuk mengolah daging kambing itu yang rencananya akan dibagikan ba’da asar. Pusing tujuh keliling akhirnya zauji menelepon satu-satu iklan kambing aqiqah yang ada di jalan, dan akhirnya menemukan satu tempat di daerah Cinere.

Setelah ummi dan tante kebut-kebutan memasak kambing dan lainnya, kardus makanan baru selesai dan sampe rumah waktu magrib. Teman saya -ummu izza- yang memang saya undang untuk makan bersama harus menunggu lumayan lama karena dia sudah sejak sore ada di rumah.  Begitu kardusan datang langsung dibagikan, karena takutnya kalo kemaleman malah ngga kemakan. Ditambah lagi malam itu saya harusnya jadwal kontrol HGA dan RS hanya melayani sampe jam 8 malam. Alhamdulillah bisa kekejar, dokter Tofan masih ada dan bersedia untuk memeriksa saya.

Untuk pelaksanaan cukur rambut, qodarullah tidak bisa dilaksanakan pada hari itu karena semua pada sibuk dan ngga sempat untuk mencukur. Jadilah pada keesokan harinya saya dan zauji kerjasama nyukur bareng rambut si kecil. Ada sedikit kesalahan teknis juga, kami memakai baby oil yang ternyata membuat rambut tambah licin hehe..

Alhamdulillah sunnah Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- dapat kami laksanakan semampu kami,  dan kami beri nama puteri kami..

KHANSA FAUZIYYA

Khansa (ato diucapkan Khonsa), kami ambil dari nama shohabiyah Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-. Insya Allah akan saya tulis kisah beliau di postingan selanjutnya.

Fauziyya, berdasar keterangan dari temen saya -ummu aisyah- yang mukim di Riyadh, menasabkan pada keberuntungan atau kemenangan. Bi-idznillah, smoga puteri kami termasuk ke dalam  golongan orang-orang beruntung seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an seperti di bawah ini..

Ali Imran : 104
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Al A’raf : 8
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Al Hasyr : 20
Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.

Ath Taghabun : 16
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s