Catatan Kecil dari Buku The True Love in America

Saya baru saja menyelesaikan membaca The True Love in America, bacaan ringan yang dipinjamkan oleh adik saya.

Ceritanya mengenai 29 Kisah Mualaf Amerika yang menyatakan keislamannya di hadapan M. Syamsi Ali (penulis) selaku imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York dan sebagai Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York.

Apa yang menjadi catatan bagi saya di buku ini adalah cara mengargumentasikan pertanyaan maupun pernyataan yang disampaikan oleh peserta dalam kajian Islam yang diasuh oleh Penulis yaitu The Islamic Forum for new/non-Muslims, sebuah kajian bagi mualaf maupun non muslim yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai Islam.

Di bawah ini beberapa hal yang cukup menarik bagi saya..

**********

Ketika Penulis menanggapi kisah seorang wanita non muslim dimana dalam ajaran agama yang dianutnya dikatakannya bahwa “basically the center of our faith is in the nature itself. And we people are the center of the nature”. Penulis lalu menanyakan apakah dia berdoa?ya, jawab wanita tersebut, bahkan ibunya berdoa setiap hari di rumah. Kemudian penulis mengatakan,

“Now, here is the point. If you believe in the nature, and you are the most important part that nature, to whom do you address your prayers or supplications?”

Wanita itu menjawab,

“I don’t know. But as I heard, we pray towards the nature itself. Acording to bu****sm, this nature has power”

Lalu penulis menanggapi kembali,

“But if you are an important part of this nature, and in fact you yourself the center of that nature, then basically you pray to your own self!, ” And if so, what is the point of asking to your ownself? If you have that power, then what is the need to ask?” 

“Sister, in our religion God is the center of all issues”

– – – – – – – – – – – –

Ketika penulis berdiskusi dengan kalangan yahudi ortodoks, ada seorang ibu yang mempertanyakan “why don’t you change the madrassa?”, dalam hal ini kaitannya dengan terorisme.

Penulis lalu menjawab bahwa madrasah sama dengan midrash dalam tradisi wanita tersebut. Lalu lanjut Penulis,

“Saya bisa menyampaikan kepada Anda beberapa ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan yang juga alumni madrasah. Kalau madrasah itu adalah ground pengaderan teroris, You will not having me speaking to you this morning. I am a madrasah graduate!”

Kemudian dijelaskan bahwa memang ada barangkali madrasah yang melahirkan radicals dan bahkan tamatan madrasah ini melakukan tindakan teroris di kemudian hari. Tapi kan salah menuduh Amerika sebagai ground pengaderan pelacur jika ada warganya yang kemudian menjadi pelacur.

– – – – – – – – – –

Kemudian ada lagi yaitu ketika melakukan pembahasan mengenai poligami dalam The Islamic Forum. Ketika ada seorang wanita Bulgaria bertanya dengan keras tentang konsep poligami dalam Islam dan bahkan sudah menjatuhkan vonis “Islam tidak menghargai kaum wanita”. Tiba-tiba ada seorang wanita yang baru memeluk Islam selama 7 bulan menyela dan mengatakan bahwa dia merasa cukup terganggu dengan tuduhan wanita Bulgaria tersebut. Dia lalu menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil diluar nikah. Bahkan hingga kini ia tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun. Dia kemudian mengatakan bahwa dia adalah a second wife and she is happier since then. Wanita itu lalu melanjutkan,

“Don’t you see what happens to the western women around ? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence for free sex that has destroyed our people”

**********

Humm.. mengapa hal-hal tersebut di atas cukup menarik bagi saya?karena  dapat menambah wawasan saya bagaimana menjawab pertanyaan dari kalangan non-muslim -terutama yang dari negara barat- mengenai Islam. Saya pernah cukup kesulitan menjawab pertanyaan seorang teman saya dari Jerman tanpa menyinggung dirinya terkait dengan poligami, karena dia sendiri (maaf) tingga serumah tanpa menikah dengan pasangannya.

Membaca buku ini memacu saya untuk belajar mengenai islam lebih baik lagi, agar bila suatu saat diperlukan dapat menjawab dengan lebih bijak, dan benar tentunya, Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s