Sharing itu Penting

Na’am, sebagai manusia dengan berbagai permasalahan yang ada tentunya kadangkala kita ingin membaginya dengan orang lain supaya beban kita lebih ringan.

Hal ini saya alami ketika awal melahirkan dan merasa agak kewalahan dengan polah tingkah Khansa, sehingga saya merasa harus berbagi cerita dengan ummahat lain yang sudah berpengalaman. Sebelum waktu melahirkan saya memang sudah berusaha membekali diri dengan ilmu mengenai parenting. Browsing ke blog-blog ummahat, membaca buku perkembangan bayi, dan membaca artikel di beberapa web untuk ayah bunda. Namun tentu saja pada waktu mengalaminya secara langsung maka penanganannya tidak semudah dalam teori.

Selama lebih dari 2 minggu Khansa tiap malam rewel, persisnya 2 minggu setelah dia lahir. Setiap malam saya dan zauji bergantian menggendong dan menenangkan Khansa. Biasanya Khansa mulai rewel sekitar jam 12 malam dan baru tidur tenang waktu subuh. Energi saya pun mulai terkuras. Apalagi waktu itu belum ada khadimah, jadi pagi hari sesudah Khansa tidur saya mulai beberes rumah, nyuci, belanja, masak, dan siang atau malam harinya setrika.

Oleh karena kerewelan Khansa sudah berlangsung cukup lama, saya pun mulai menanyakan hal ini kepada beberapa teman saya yang sudah berpengalaman mempunyai anak. Ternyata bermacam cerita saya dapatkan. Ada yang anaknya tiap saat minta digendong, bahkan sampai dia tidurpun sambil menggendong bayinya. Ada juga yang start dari magrib sampai subuh menenangkan anaknya. Bahkan beberapa teman saya ada yang kondisinya drop karena begadangan tiap malam. Mendengar berbagai cerita teman-teman, saya mulai merasa agak tenang. Ya memang begitu “adat” bayi. Kalau siang bobok terus, dan kalau malam bangun. Rewel sudah menjadi hal yang rutin dan biasa. Tadinya saya khawatir ada masalah dengan anak saya. Apakah dia kolik atau ada sakit yang dia rasakan. Alhamdulillah, dengan berbagi cerita dengan teman-teman para ummahat saya jadi ngga merasa sendiri. Ternyata banyak teman-teman senasib seperjuangan :D  

Begitupun ketika saya mulai memeras ASI. Tadinya saya agak malas dalam memeras. Bukannya saya ngga ingin berusaha memberikan yang terbaik bagi anak lho, hanya saja ketika awal-awal memeras rasanya tangan udah pegel dan makan waktu lama eh “hanya” mendapat 50-60 ml, waktu pertama malah 40 ml. Saya ngga berusaha memenuhi sampai 100 ml karena waktu itu tujuan memeras adalah untuk melatih Khansa minum ASIP, jadi hanya berusaha sekedarnya saja. Waktu mulai memeras untuk stock juga saya malas-malasan. Mengingat bahwa cuti saya masih cukup lama maka saya pikir masih ada banyak waktu. Jadi sehari hanya memeras 1 botol, itupun ngga banyak, paling 70ml-an. Hingga kemudian saya browsing mengenai manajemen ASIP. Di situ saya dapati di salah satu artikel bahwa berapapun ASIP yang kita dapatkan dan kita peras hari itu harus kita syukuri. Pelan-pelan kita kumpulkan maka botol akan menjadi penuh. Jangan terlena dengan banyaknya botol yang ada di freezer karena bisa saja ada hal-hal yang mungkin nantinya akan membuat kita ngga sempat untuk memeras, misalnya sakit, dinas luar atau kendala lainnya. Hal ini memompa semangat saya untuk memeras ASI dan menambah botol demi botol dalam freezer saya. Saya juga mensyukuri tiap tetes yang saya kumpulkan walaupun 40 ml sekalipun. Apalagi jika mengingat perjuangan salah satu teman saya -ummu zachary- yang berusaha memeras asi. Walaupun mendapatkan 20ml sekali peras , dia kumpulkan hingga 80 ml dalam sehari untuk diberikan kepada anaknya yang waktu itu lahir di minggu ke 36 kehamilan agar anaknya tetap mendapatkan asupan ASI, walaupun “terpaksa” mendapat susu formula tambahan. Dengan mengetahui berbagai cerita para ummahat-hebat dalam memberikan ASI bagi buah hatinya sekali lagi membuat saya merasa ngga sendiri dalam berjuang memberikan ASI bagi anak saya dan semakin memotivasi dalam memompa ASIP.

Saya pun sharing dengan ummahat lain ketika Khansa ngga mau minum ASIP dengan botol. Mereka menyarankan berbagai merk dot yang cocok dengan anak mereka masing-masing. Tapi ada juga yang menyarankan memakai sendok dan dot merupakan pilihan terakhir, karena berdasar pengalaman dia yang memakai dot anaknya mengalami bingung puting dan ngga mau nenen secara langsung.

Ya, sudah saya rasakan sendiri betapa pentingnya sharing.  Apalagi buat new mom seperti saya yang baru mengenal dunia parenting. Terasa banget waktu ummi pulang ke Semarang setelah menemani saya selama 2 minggu setelah kelahiran Khansa. Rasanya pengen nangis (eh udah nangis dink *dikit*, sampe zauji nggodain “piye, apa perlu ta telponin mama kalo dek nangis?nanti mama pasti balik lagi *hehe..). Lha wis piye, perasaan saya campur aduk gitu. Khawatir dan bingung ntar kalo ada apa-apa, belum lagi capek yang saya rasakan. Ya, walaupun ketika ada ummi-pun pengurusan Khansa saya lakukan semua sendiri, tapi rasanya nyaman ada sosok berpengalaman yang menemani. Agak ngga pede saat semua harus siap dihadapi sendiri (bersama zauji tentunya).

Na’am, Insya Allah dengan berbagi maka beban kita akan terkurangi dan semangat kita akan terpacu lagi ^_^

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s