Masa Keemasan Anak

“Perempuan yg b’pendidikan tinggi itu sebaiknya kembali ke rumah utk menerapkan ilmunya dgn mendidik anaknya bukan mengejar karir, krn jika mengejar karis pasti anak akan diasuh oleh orang lain yang lulusan SD/SMP/SMU jadi jangan berharap punya anak yang attitude seperti orangtuanya yg lulusan universitas karena kenyataannya mereka memberi kesempatan anaknya menghabiskan waktu lbh banyak sama si pengasuh di rumah”

Waktu pertama membaca status FB teman saya -ummu ayna- itu saya sempat tertegun *hening sejenak*, plakk… rasanya kaya tertampar (maaf kalo agak lebay tapi ini beneran).

Yah, walaupun hal itu ngga bisa digeneralisir.. karena ada juga yang ibunya wanita karir tapi anaknya baik, dan sebaliknya ada yang ibunya tinggal di rumah tapi anaknya berperangai buruk. Tapi rasanya kita bisa mengambil hikmah (yang dalam) dari tulisan tersebut, bahwa semakin bertambah usia anak maka semakin dibutuhkan bimbingan dari orangtua, dan kita tidak bisa mengandalkan asuhan ART/baby sitter (apapun namanya itu) untuk mendidik anak-anak kita. Hey, bukan mereka yang kelak dimintai pertanggungjawaban atas anak-anak kita di hadapan Allah kan? *ngomong ke diri sendiri*

Membicarakan masalah tumbuh kembang anak tentu ngga lepas dari yang namanya Golden Age. Golden age atau dikenal dengan masa keemasan anak merupakan masa yang penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak karena pada saat itu perkembangan fisik, mental dan otak tumbuh dengan cepat. Berikut saya rangkumkan beberapa hal penting terkait dengan golden age, perkembangan otak anak, dan stimulasi dini pada mereka.

Smoga bermanfaat dan selamat membaca! (dan mempraktekkan, Insya Allah) ^_^

**********

“Berdasarkan penelitian para ahli, kecepatan pertumbuhan otak manusia mencapai puncaknya dua kali, yaitu pada masa janin di usia kehamilan minggu ke 15 sampai 20, dan pada usia kehamilan minggu ke 30 sampai bayi berusia 18 bulan”.

Perlu kita ketahui bahwa berat otak anak yang baru lahir 25% otak orang dewasa, memiliki 100 miliar sel-sel otak yang belum terhubung dengan baik dan kuat, dan di usia 6 tahun berat otak anak 95% otak orang dewasa. Sel otak tersebut saling berhubungan melalui jaringan penghubung yang disebut sinaps. Sinaps ini terbentuk pada saat anak mendapatkan pengalaman sensoris atau stimulasi. Jika stimulasi dilakukan secara dini dan berulang, sinaps akan semakin kuat. Tapi jika anak kurang mendapat stimulasi, maka sel-sel otaknya tidak memiliki jaringan penghubung.

Stimulasi harus dilakukan sedini mungkin karena adanya periode krisis pertumbuhan otak di bawah usia 6 tahun. Hal ini dikarenakan, otak anak tidak tumbuh dan berkembang secara terus menerus. Apabila dalam periode kritis otak tidak distimulasi akan mengalami gangguan, dan akibatnya dapat mengalami kelainan permanen atau sulit disembuhkan (na’udzubillah).

Salah satu metode yang dapat dipergunakan untuk membantu anak berkembang dan berkualitas pada masa-masa keemasannya adalah dengan stimulasi dini. Menurut Dr. Soedjatmiko, SpA(K),Msi(Psi),  Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, peradaban, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Contoh-contoh stimulasi dini sebagai berikut:

Umur 0-3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara, menggantung dan menggerakan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Umur 3-6 bulan ditambah dengan bermain ’cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di ceemin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Umur 6-9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9-12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12-18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-blok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa pegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, memasukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18-24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata?, hidung?, mulut?, dan lain-lain), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang dan benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi, main, minta dan lain-lain), latihan menggabar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana-baju, bermain melempar bola, melompat.

Umur 2-3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lain-lain), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain: memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air besar/kecil di toliet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dan lain-lain. Perangsangan dapat dilakukan secara profesional di Kelompok Bermian, Taman Kanak-Kanak atu sejenisnya, namun harus dilanjutkan terus di rumah (oleh pengasuh dan keluarga).

**********

Sumber bacaan :

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s