Seminar Parenting

Alhamdulillah mendapat bacaan yang bagus dari note teman SMA saya di FB -ummu ayna- yang baru saja mengikuti seminar parenting yang diadakan di Kota Bekasi. Kalo dia harus membayar 400ribu rupiah untuk mengikuti seminar tersebut, maka saya cukup membaca hasil report dia secara gratis (err.. ngga gratis banget siy, kan harus bayar bulanan modemnya hihi), jazahallahu khairan ummu ayna.

Menurut saya informasi yang disampaikan ummu ayna ini berguna, selain sebagai koreksi diri (karena dari contoh kasusnya kemungkinan ada yang kita lakukan –kalo saya belum yaa karena khansa belum bisa ngomong), juga sebagai pembelajaran agar bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita, Insya Allah.

Seminar tersebut bernama Seminar Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) yang diadakan selama 2 hari full dari pagi sampe magrib,  dengan pembicara Bapak Ihsan Baihaqi, yang akrab dipanggil abah. Berikut adalah reportase ummu ayna setelah mengikuti seminar parenting tersebut yang Insya Allah bermanfaat bagi kita.

**********

Menurut Abah, pola pengasuhan orangtua pada umumnya jika tanpa ilmu, maka hanya bersumber pada 2 hal

  • Warisan : kita akan mengikuti cara orang tua kita mendidik kita. Apa yang kita ikuti  ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah.
  • Meraba-raba: saat kita menyadari apa yg diwariskan dari orang tua kita tidak benar, maka kita akan mencoba meraba-meraba alias anak dijadikan objek percobaan.

Lain halnya jika kita mengisi diri kita dengan ilmu. Contohnya adalah sering-sering lah kita membaca referensi artikel dari berbagai media, artikel-artikel yang ditulis oleh pakarnya dan disertai penelitian isinya akan lebih baik daripada artikel-artikel yang ditulis oleh bukan pakarnya. 

Selain dari membaca, mengikuti berbagai seminar parenting adalah salah satu cara kita sebagai orang tua menimba ilmu tentang pengasuhan anak. Jika kita sebagai orang tua yang tergolong mampu, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog mau pun dokter tumbuh kembang secara berkala (tiap 6 bulan/1thn sekali), jangan salah, berkonsultasi dengan pakar tidak harus menunggu anak kita bermasalah.

Menurut Abah, anak-anak yang dianggap bermasalah, semua itu adalah salah dari orangtuanya sendiri dalam menerapkan pendidikan dalam keluarga. Tanpa sadar, kita sering sekali mematikan kreatifitas anak. Yang lebih buruk lagi, anak akan meniru segala sesuatu dari orangtuanya.

Contoh

Kasus 1
Seorang ibu memasak di dapur lalu anaknya yang masih batita mendekat dan memainkan pisau. Lalu si ibu “aduh, jangan ikut-ikutan main pisau ya nanti kena tangan, ke sana aja dulu”sambil mengambil pisau dan manyun manyun.

====maksudnya sih baik, supaya ngga kena pisau, supaya masak bisa konsen, cepet selesai. Jika hal serupa  diulang secara terus menerus, maka yang ada di benak si anak adalah : aku ngga boleh ikut-ikutan, aku ngga boleh bantuin ibu, ibu lebih suka masak daripada main sama aku, aku ngga boleh belajar memasak.

Kasus 2
2 anak balita kakak beradik bertengkar, adek menangis karena dipukul oleh kakak dan ayahnya bertanya “kamu kenapa pukul adek?”  “mainanku direbut” “ooo ngalah donk, adik kan masih kecil, kamu main yg lain aja”

===maksudnya sih baik: kakak harus menjaga adeknya, menghibur si kaka dengan mainan yang lain Jika selalu diulang utk hal yang sama , Maka yang ada di benak si anak adalah: “kapan ya adek besar, kalo adek besar boleh aku pukul, aku ngga suka jadi anak pertama, ayah pilih kasih, dll”

Kasus 3
Anak 4thn diajak ke supermarket, sebelum berangkat, mamanya mengatakan “nanti kita ke supermarket, adek boleh beli apa aja yang adek mau tapi ngga boleh ambil coklat”  dan si anak dengan senang hati mengiyakan. Sampai di supermarket dan melewati rak belanja, si anak tiba-tiba ‘berubah pikiran’
“mama aku mau coklat”
“ngga boleh”
“coklat ya ma”
“mama bilang ngga boleh, tadi adek sudah janji”
“maaaaa…coklaatttt” lalu nangis dan menggertak keranjang belanjaan

Karena mendengar anak nangis lalu mama marah “dikasitau ngga boleh ya ngga boleh, malu tau kamu nangis di sini, mama laporin satpam kalo kamu ngga nurut mama biar dibawa ke kantor polisi”
“mamaaaaa…COKLAAAATTTT” nangis tambah kenceng

Karena malu, akhirnya si mama sengaja ‘ngalah’ membelikan coklat.

====maksudnya baik kali ya,ngasi tau kalo anak nakal maka akan berurusan dgn polisi. Jika hal tersebut diulang, maka anak akan berfikir :nangis adalah senjata, mama pembohong (ngga boleh kok jadi boleh), kalo nanti ada orang marah sama aku aku juga akan ngomong sambil emosi juga, anak membenci polisi pdhl belum tentu polisi itu jahat dsb.

Kasus 4
Saat di supermarket, soranga nak 5thn diajak ibunya ikut memilih apel. “ayo kak, bantu mama pilih apel” Kebetulan apel yg dipili si kakak adalah apel yang busuk Secara langsung ibu langsung mengoreksi, “aduh kok itu, itu kan busuk kak, nih lihat apel mama, bagus kan?”

===maksudnya baik, mengajak anak membedakan mana apel busuk dan tidak busuk. Jika hal tersebut diulang ulang utk hal lain dalam hidupnya, maka anak kita akan berfikir bahwa: pilihan aku ngga sebagus pilihan mama, aku ngga boleh ikut memilih, aku bodoh, aku ngga berguna dll.

Ke empat kasus di atas adalah sebagian contoh bahwa kita telah mematikan potensi anak, TANPA KITA SENGAJA sodara sodara sekalian. Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya adalaaaahhhh : KITA ADALAH ORANG TUA YANG NGGA MAU REPOT, YANG PENTING ANAK ANTENG, NGGA REWEL, NGGA RIBUT,  NGGA BERTENGKAR, BAJU NGGAK KOTOR, NGGA NAIK-NAIK MEJA, NGGA BAU OMPOL, DE EL EL.

Pada dasarnya menurut Abah, orang tua yang baik adalah orang tua yang bisa menginspirasi, bisa mengajak anak untuk berfikir atas solusinya, dan bukan sekedar  membuat solusi untuk diri orang tua itu sendiri. Orang tua yang baik selain berbicara yang lembut penuh kasih sayang, juga harus mengerti bahwa setiap perkatannya tersebut berdampak bagaimana untuk anaknya. Jangan sampai maksud kita baik tetapi diterjemahkan salah oleh anak kita. Hal ini bisa berakibat fatal untuk pertumbuhannya saat mereka dewasa kelak.

Contoh kasus di atas adalah orang tua yang memangkas kreatifitas anak dan melakukan solusi bagi diri orang tua itu sendiri. “yang penting sekarang beres, anak ngga rewel, ngga ngerecokin, yg penting apel yg masuk ke plastik apel yg ngga busuk”

Lalu bagaimana solusinya jika kita mengalami kasus di atas?mari sodara-sodara, ini adalah saran dari Abah:

1. kasus dapur
Saat kita sedang sibuk dan darurat, kita boleh merasa terganggu, tetapi sebaiknya kosakata yang dipilih adalah kosakata yang tepat, tidak membuat anak tersinggung dan merasa disingkirkan. “ooo adek mau main sama mama ya?mama lagi masak kesukaan adek nih, oke, mama janji setelah selesai nanti kita main, sini mama minta pisaunya dulu”
Coba bandingkan “aduh, jangan ikut-ikutan main pisau ya nanti kena tangan, ke sana aja dulu” Intinya sama ya..tapi caranya berbeda, dampak buat anak juga sangaatttt berbeda.

2. kasus rebutan mainan
Abah mengatakan bahwa bertengkar dan berebut adalah salah satu media anak belajar mengelola konflik di masa depan. Untuk mengelola kasus “rebutan” sebaiknya terlebih dahulu anak dikenalkan konsep kepemilikan, “ini mainan  adek, ini punya kakak, adek harus ijin ke kakak kalo mau pinjem, boleh main bareng , tapi ngga ada mainan milik bersama”  dengan konsep kepemilikan tsb, maka anak akan mengetahui mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak menjadi haknya. Jika hal ini dibiasakan maka saat mereka dewasa nanti tidak akan lebih mudah mengambil milik orang lain, tidak dengan enaknya pakai mobil dinas untk tamasya, tidak dengan enaknya pakai fasilitas umum untuk pribadi, lha wong mau pake punya sodara sendiri aja ngga berani apa lagi punya orang lain.begitu isitilahnya.

Untuk kasus nomr 2 di atas, ini lah saran abah yang harus kita ucapkan. “ooo mainan kakak diambil adek?kalo mainan kaka diambil adek, kakak boleh ambil lagi, itu punya kakak, dan adek ngga ijin, tapi ayah sedih kalo kakak pukul adek, kalia harus saling sayang, silahkan minta maaf ke adek karena akakk pukul adek, nanti ayah kasi tau adek ngga boleh sembarangan ambil mainan kakak tanpa ijin” (ngomongnya jangan sambil cepet-cepet ya dan sambil senyum, kalo ngmg baik tp nadanya kayak orang ngomel ya percuma)

Pada kenyataannya jawaban ini lebih simple ” “ooo ngalah donk, adik kan masih kecil, kamu main yg lain aja”  lebih sederhana ya, tapi dengan kita mengulang utk kasus yang mirip, kita tidak mengajarkan apa-apa sama sekali justru kita yang menjerumuskan.

Kasus 3: chocolate on supermarket
Jika anak rewel, sering kali kita NGGA TEGA dan lalu mengalah, padahal dengan begitu, si anak akan makin keras dan membuktikan bahwa kita lemah. Yang lebih parah lagi, anak akan menilai kita sebagai pembohong dan itu boleh dilakukan oleh orang dewasa. (duuuhhhh). Jika kita mengalami hal tersebut, yang harus dipegang adalah sekali TIDAK tetap TIDAK. Biarkan anak menangis sampe puas. Atau kalau ngga tahan , tinggalkan keranjang belanjaan dan pulang, yang pasti jgn menarik ulur perkataan kita sendiri. Kalo saja di kasus tersebut kita ‘ngalah’ , kita hanya mengambil solusi utk diri kita sendiri dan kita berpuas diri dalam hati “ahhh legaaa, anak diem anteng, lanjut deh belanjanya”. Helloooo pikirkan lagi dampaknya utk masa depan anak.

KAsus 4: apel mana yang busuk
Utk kasus memilih, sering kali orangtua menjadi solusi utk anaknya, bukan mengajak mencari solusi. Makan anak akan ragu dalam mengambil keputusan. Jika kita mengalami kasus 4, lalu bagaimana?

*anak mengambil apel yg kebetulan busuk
“ooo kakak ambil yg itu?sini mama pegang, kakak ambil lagi yang lain”
Lalu si anak mengambil lagi yg busuk “coba kaka ambil lagi satu”
Kebetulan langsung dpt apel yg bagus Lalu sandingkan antara apel yg busuk dan yg bagus “coba lihat, apel yg ini begini, ada hitam-hitamnya, coba dicium baunya”
“yang ini wangi ya mah?yang ini baunya ngga enak” “kakak suka yg mana?yang ini atau yg ini?
“yang wangi deh ma”
“coba ambil lagi yang sama lalu masukkan lagi ke plastik”
Nah kan, Dapet deh solusinya, sekalian mengajarkan konsep busuk/bagus dengan mengajak anak berfikir, sehingga anak sendiri yang memutuskan mana apel yg bagus mana apel yg busuk, oleh mereka sendiri, bukan kita.

Menurut Abah, anak yang bermasalah adalah anak yang kurang perhatian dan anak yang overdosis perhatian. Jika tidak terlalu dikekang ya anak yang terlalu dibebaskan. Nah, biar ngga salah kaprah, ada 4 hal yang harus dilakukan dalam mendidik anak:

1. memberikan kebebasan

kebebasan yang dimaksud adalah selama kebebasan itu tidak melanggar syariat/aturan/norma, tidak membahayakan dan  tidak merugikan orang lain. Terlalu membatasi sama halnya memotong kreatifitas anak. Untk anak balita, jangan sedikit2 “ngga boleh, jangan, bahaya, dll” jika memang ada benda yang membahayakan jika dipegang si anak, ya please deh kita udah tau gitu lohh, langsung disingkirkan sblm anak kita penasaran.  

2. memberi batasan
batasan atau dalam hal ini aturan. Buatlah aturan di rumah dengan tegas, untk anak-anak hal ini bisa diterapkan setelah anak bisa diajak berkomunikasi. Mulai umur2 -3thn. Contoh, beli mainan sebulan seakali, tidak berada di luar rumah setelah azan maghrib, nonton tv berapa jam sehari. Utk anak yg sudah remaja, kita bisa membuat aturan ini dengan melibatkan anak. Hukuman dan reward itu sekali-kali perlu, tetapi menurut Abah tidak begitu penting. Yang penting buat lah Anak kita sadar bahwa apa yang boleh dan tidak boleh, itu karena aturan. Aturan kita, aturan Negara, aturan Allah -subhanahu wata’ala-

3.   Menguatkan kebaikan
Maksudnya adalah kita sebagai orangtua adalah contoh bagi anak-anak kita.

4. mengajak anak berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik.
Sejak kecil biasakan lah kuatkan bonding kita dengan anak melalui komunikasi. Dalam hal ini komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi 2 arah yang berkualitas. Bukan sekedar menasehati, bukan sekedar bertanya dan anak menjawab.

Untk orang tua yang dua-duanyanya bekerja dan anak diasuh oleh pembantu, Abah mewajibkan setidaknya 30menit setiap hari kita menghabiskan waktu bersama anak. Bersama bukan berarti di samping anak. Bersama anak, tanpa didampingi Tv, tanpa facebook, tanpa masakan, tanpa sms’an, tanpa aktifitas di mesin cuci, dll. Contohnya adalah mengajak anak bermain masak-masakan, menemani anak belajar dan wajib  perhatian kita benar2 tercurah utk anak saat itu serta kita benar2 terjun di dunia nya saat itu.. Dengan begini, meski anak menghabiskan bnyk waktu dgn kita orangtuanya, seburuk apa pun pengaruh lingkungan di luar, kita lah sosok terpenting dalam hidupnya, karena secara kodrat sudah ada ikatan batin, jika ikatan itu tidak dipupuk, maka anak mudah terpengaruh dunia luar (pembantu, teman, pola asuh neneknya, TV, dll)

Dan lagi, Abah menekankan bahwa tujuan kita mendidik anak adalah utk keselamatan dunia akhiratnya. Banyak hal-hal yang ngga principal dianut oleh orang tua jaman sekarang. Anak diwajibkan mengejar nilai, pinter berhitung , dll.

Menurut Abah, LEBIH CEPAT BELUM TENTU LEBIH BAIK. Contohnya anak usia 2thn diajari membaca. Kalo orang tua paham, bukan mambacanya itu yang penting, tp bagaimana anak suka membaca dan belajar. Anak bisa solat dan membaca alquran umur 4thn, itu ngga penting, yang penting bagaimana kita mengarahkan anak menerapkan agama di masa depannya, jangan sampai suatu saat jika mereka dewasa mengerjakan ibadah secara lengkap tp korupsi di kantornya, rajin baca alquran tp ngga ngerti maknanya. Terapkan lagi diri kita dan anak anak kita bahwa semua perbuatan itu ada balasannya.

Bukan berarti Abah menentang sistem pendidikan Negara kita. Menurut Abah, sekolah di Indonesia terlalu rumit, anak2 dipaksa menguasai banyk mata pelajaran dan yg terpenting adalah nilai bahkan ada guru di sebuah sekolah yang menyarankan contek masal. Pada kenyataannya anak2 beliau bersekolah di sekolah biasa, dan jadi juara di kelasnya. Tapi bukan itu yang penting. Yang ditekankan abah pada anak2nya adalah Nilai memang penting dan wajib di kejar karena kalau nilai bagus kalian  bisa sekolah di tempat yg kalian inginkan. Dan ada yang lebih penting dari sekedar nilai, anak2 ditekankan pada makna belajar.

 Dan selain itu, jika kita menerapkan pola asuh yang benar untuk anak kita, segala pengaruh negatif dari luar tidak mempan masuk ke dalam otak anak kita. Dan lagi, semua anak itu unik. Diciptakan Allah untuk dititipkan pada kita. Seburuk-buruknya anak, pasti ada kelebihannya. Tugas kita lah bagaimana menonjolkan kelebihannya sehingga bermanfaat di hidupnya. Dan sepandai-pandainya anak, pasti punya kelemahan, tugas kita lah yang belajar agar kelemahannya tidak merugikan mereka di satu saat nanti.

**********

8 Comments

  1. Semakin jelas menjadi ibu itu never ending learning. Pernah ada kajian membahas parenting juga, seinget daku didikan org tua yg pertama dan utama harus menekankan Tauhid. Kan tauhid mmg aplikatif di terapkan sehari2: kejujuran saat ujian sekolah, batas2 pertemanan ketika masuk masa akil baligh, apa lagi ibadah.

  2. uhukuhukuhukkkk….no 1 dan 2 nohokkk banget…., jazaakillah udah posting artikel ini umm…. yup jadi ibu itu memang tak hentinya belajar, huhuhu tapi kenapa prakteknya diriku selalu susaaah ngelakuin yang ideal harusx begini dan begitu buat anak-anak… deketnya jarak mempengaruhi nggak yaa? secara tiga putri ini huaaah rame’nyooo… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s