Ngrasani

Ngrasani alias bergunjing a.k.a ghibah pada umumnya merupakan hal yang tidak lepas dari keseharian kita. Hal inilah yang lumayan mengganggu saya di kantor. Sebagai new comer dan orang yang dianggap netral alias ngga berpihak sana sini seringkali saya diminta mendengarkan curhatan dari teman-teman seruangan saya, yang seringkali mengenai keburukan teman kantor yang lain. Biasanya siy ngomongin kinerjanya. Tanggapan saya biasanya cuma diem ato kalo bisa saya slimur ke pembicaraan lain. Kalo bisa ya ngasih solusi biar enak buat satu sama lain. Walopun terkadang saya keceplosan ngomong “o,iya tho?” dan dari kata “o iya tho” ini bisa berlanjut menjadi berpuluh rangkaian kata dari lawan bicara saya dan justru menambah luas area ghibah *astaghfirullah, smoga ke depannya bisa lebih ngerem lagi lisan saya :'(

Ya, mungkin ada kalanya kita ngga sadar kalo yang kita bicarakan itu termasuk ghibah. Ada hal yang kurang pas dikit pada diri orang lain langsung aja kita ngomongin di belakangnya, entah penampilan, sifat, fisik, kebiasaan, tingkah laku, dll. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ghibah itu? kita perlu tahu biar bisa mengkoreksi diri (terutama saya) dan ngga sembarangan ketika berucap yang pada akhirnya dapat menjerumuskan kita pada perbuatan dosa.

Al Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari shahabat Abu Hurairah ?, sesungguhnya Rasulullah ? bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau ? bersabda:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ، إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membencinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan atasnya.”

Clear kan? Bahkan dalam Al Qur’an pun terdapat firman Allah yang memperjelas mengenai hal ini..

“Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al Hujurat: 12)

Demikianlah perumpamaan orang-orang yg bergunjing, yaitu bagai memakan daging saudaranya yang telah mati. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- mengenai hukuman bagi orang yang suka bergunjing di akhirat kelak

Dari shahabat Anas bin Malik ?, bahwa Rasulullah ? bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَصُدُوْرَهُمْ ، فَقُلْتُ مَنْ هؤُلاَءِ يَاجِبْرِيْلُ؟ قَالَ : هؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Ketika aku mi’raj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud no. 4878 dan lainnya)

Na’udzubillahi mindzalik. Semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian, sehingga kita tidak masuk  ke dalam golongan orang yang bangkrut.

Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah.
Rasulullah bersabda. “ Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.

Lalu kapankah kita diperbolehkan untuk ghibah? menukil dari artikel ini :

Ibnu Katsir mengatakan: “Ghibah adalah haram secara ijma’ dan tidak dikecualikan (boleh dilakukan) melainkan (dalam hal yang) maslahatnya lebih kuat, seperti dalam jarh dan ta’dil (menerangkan perawi hadits) dan nasehat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika seseorang yang jahat meminta izin kepada beliau untuk bertemu beliau, maka beliau berkata: ‘Izinkan dia, sesungguhnya dia adalah orang yang paling jelek di kaumnya.’ Juga seperti sabda beliau kepada Fathimah binti Qais saat dipinang oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm. (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan) bahwa Mu’awiyah adalah orang yang sangat miskin dan Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/215)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkah ghibah pada enam perkara:
1. Ketika terdzalimi (dianiaya).
2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
3. Meminta fatwa.
4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.
5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.
6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.
(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang diperbolehkan untuk Ghibah”)

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara bertaubat dari perbuatan ghibah? Apakah wajib baginya untuk memberi tahu kepada yang dighibahi? Kalo saya baca dari artikel ini, disebutkan bahwa..

Sebagian para ulama’ berpendapat wajib baginya untuk memberi tahu kepadanya dan meminta ma’af darinya. Pendapat ini ada sisi benarnya jika dikaitkan dengan hak seorang manusia. Misalnya mengambil harta orang lain tanpa alasan yang benar maka dia pun wajib mengembalikannya. Tetapi dari sisi lain, justru bila ia memberi tahu kepada yang dighibahi dikhawatirkan akan terjadi mudharat yang lebih besar. Bisa jadi orang yang dighibahi itu justru marah yang bisa meruncing pada percekcokan dan bahkan perkelahian. Oleh karena itu sebagian para ulama lainnya berpendapat tidak perlu ia memberi tahukan kepada yang dighibahi tapi wajib baginya beristighfar (memohan ampunan) kepada Allah ? dan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dighibahi itu di tempat-tempat yang pernah ia berbuat ghibah kepadanya. Insyaallah pendapat terakhir lebih mendekati kebenaran. (Lihat Nashiihatii linnisaa’: 31)

Smoga hal ini bisa menjadi renungan bersama bagi kita (terutama saya donk donk donk :D ) agar lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, Insya Allah.

19 Comments

  1. tambahan um,
    ana pernah denger bhw ada lg yg lebih buruk lg..yaitu mengghibah ustadz/ustadzah alias merusak kehormatan org yg mengajarkan ilmu, yg perumpamaannya seakan qta memakan daging bangkai yg beracun (ini ada haditsnya ngga ya? shahih nggak ya? cmiiw). sesungguhnya umahat yg udah ngaji-pun ada yg ngga selamat dr bahaya ini. daku bertaubat dr kesalahan pernah nanya2 perihal ustadz yg ta’adud (ngapain ngurusin rumah tangga org lain coba?), astagfirullah..belum lama kejadiannya trus mbaca postingan ttg ghibah di sini, kita2 hrs sering2 saling mengingatkan dan di ingatkan. good post!
    barakallahu fiki.

  2. wa fiiki barokalloh..
    afwan, untuk yang hadits yang anti tanyakan ana ngga tau umm..

    menurut ana hadits ini sudah cukup menjadi pedoman bagi kita utk menjaga kehormatan sesama muslim, (mengutip artikel di http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=577 ) :

    Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda
    “Setiap muslim terhadap muslim lainnya diharamkan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.” (H.R Muslim no. 2564)

    dan juga agar kita tdk mencari-cari aib saudara kita sebagaimana hadits berikut (mengutip dari artikel di http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/28/tutuplah-aib-saudaramu-wahai-muslimah/)

    hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

    “Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420, 421,424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud: “Hasan shahih.”)

    —–
    5 Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dalam hatinya.

    6 Yang dimaksud dengan aurat di sini adalah aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia. (Tuhfatul Ahwadzi)

  3. like this post
    saling mengingatkan ya. biasanya orang kalo dikritik, dinasihati, sakit hati, trus membela diri, serasa kejatuhan gedung bertingkat2. semoga kita lapang menerima nasihat n kritik sepedas dan sepahit apapun kita mendengarnya (lho kuping bisa ngrasakke pedes karo pahit po yo? pokmen ungkapane ngono lah).

  4. o iya tho? ya lah, nanti ngintip resepnya buke mba indri. lebih enak n sehat bikin sendiri jg sih sebenarnya. kripik tempe=peyek tempe dah. kata abinya ahmad, umminya ahmad kalo bikin2 pe-peyekan gitu uenak kok… hihihi.

  5. duh … paling rawan masalah yg satu ini. Kadang kalo ina sendiri, bingung gimana cara menghentikan org yg sedang curhat sekaligus ghibah. Kadang saking segennya, bilang “Oh ya..?” dan ternyata itu kata2 yg amat salah untuk menanggapi. Duh moga kita terhindar yaaa …
    Cuman , kalo ina sendiri insyallah mencoba tuk jgn sampe ghibah sama org lain. Tapi kadang2, kalo sampe rumah suka ngobrol2 & curhat2 sama suami, dg prolog “Bi, ini menurut ummi ya bi, perasaan ummi saja mungkin.. bla bla” dg alasan melegakan hati biar plong hehehe … sama aja ga siih

    • hehe iya sama na, kalo pake “oya?” biasanya bakalan panjang dan lebar ngomongnya :D
      sama (lagi) na, aku juga biasanya cukup curhat ke suami hihi.. yaa, biar suami tau the truth out there jadi bisa belajar sama2, wallahu a’lam utk hukumnya ^_^ tp dari postingan ini Insya Allah at least aku udah ada guideline-nya lah ;p

  6. kalo lagi ngomongin aib orang sampai lupa kalo diri sendiri punya banyak aib. Makanya lebih baiknya menghisab aib sendiri daripada menghisap aib orla. Kalo ngomongin kripik tempe, diri ini juga mau dikirimi….Umm ahmad, ane di surabaya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s