Dilemma Apel Pagi

Hari Kamis minggu yang lalu (udah lama yaa… maklum lah, qodarullah modem rusak yang dilanjutkan dengan keyboard laptop bermasalah jadinya lama ngga ngupdate blog), saya niatkan mau ikut apel pagi di kantor karena sejak pertama masuk tgl 25 April 2011 saya sama sekali belum pernah ikut yg namanya apel. Males juga sebenarnya untuk ikut, mengingat betapa gedubrakannya acara pagi-pagi di rumah yaitu mandiin Khansa (meliputi menjerang air, nyiapin baby bather, ember mandi, handuk, baju Khansa, clodi), peres ASI, nyiapin sarapan+minuman anget, nenenin Khansa, mandi, nyiapin breastpump dll, tapi mau ngga mau dipaksakan ikut apel karena pimpinan yang sekarang disiplin dan sangat memperhatikan presensi pegawai -_-‘ (maklum dulunya dari bidang personalia). 

Berhubung sudah niat, saya bilang ke zauji kalo mau ikut apel, zauji mah iya iya aja. Saya mandiin Khansa jam 5.30an abis itu berlanjut ke kegiatan lainnya dan selesai pukul 07.00an. Eeehh lha kok zauji masih sante kaya di pante, masih di kamar mandi, belum ganti baju, belum ngeluarin motor, padahal apel pk 07.30 dan perjalanan dari rumah ke kantor 10-15menitan. Saya tadinya udah mau ninggal aja tuh, toh naik motornya juga sendiri-sendiri. Saya bahkan bilang ke zauji “dek brangkat duluan ya”, zauji  bilang “ya udah sana”, tapi raut mukanya menunjukkan ngga suka. Apalagi saya udah yak yuk yak yuk aja dari tadi, mungkin zauji juga merasa terganggu dengan “rengekan”  saya. Tapiiii… ummu bima kan sudah datang, dan saya ngga mungkin donk ninggalin zauji berdua dengan beliau di dalam rumah. Walopun ummu bima sudah agak sepuh, tapi kan tetep aja, aturan Allah ngga boleh dilanggar, Insya Allah.

Dilemma..dilemma, akhirnya saya memilih mematuhi ketentuan Allah, yaitu tidak meninggalkan zauji berdua dengan ummu bima di rumah. Biar ngga esmosi saya tiduran aja  sambil nungguin zauji selesai berbenah. Walhasil benul saja, sampe kantor apel sudah bubar jalan hehehe… tapi alhamdulillah saya ngga menyesal karena merasa benar dengan pilihan saya.

Apa yang membuat saya memilih opsi itu? ini jawabannya..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma) –>> Khalwat yaitu itu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram.

Hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)


Hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah -sholallhu ‘alaihi wasallam- bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih)

Ya, bahkan berduaan dengan saudara iparpun tidak diperbolehkan kecuali bersama mahram.

Ngapain sih kok ribet amat aturannya? Insya Allah dari penjelasan hadits di bawah bisa didapat pencerahannya :)

Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s