Menyikapi Perbedaan Hari Raya Idul Fitri

ketupat

Judulnya lawas banget dah. Idul Fitrinya kapaaan… postingnya kapaaan whehehe.. Ora popo lah flash back sebentar, dan juga siapa tahu bermanfaat apabila ada perbedaan hari raya Idul Fitri lagi di kemudian hari.

Ceritanya.. pada malam hari raya Idul Fitri yang lalu saya berada di Demak, rumah keluarga zauji. Keluarga Demak sudah mulai persiapan lebaran karena perkiraan di kalender Idul Fitri pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2011. Qodarullah pemerintah menetapkan hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Rabu tanggal 1 September 2011, sehingga hari Selasa kami semua masih berpuasa dan esoknya berhari raya sesuai ketetapan pemerintah. Yang agak gelo yaitu ibu-ibu karena masakan sudah matang dan siap santap dari hari Senin hehe.. (ngga papa ya bu ibuuu :D )

Ya, terkait dengan perbedaan penetapan hari raya Idul Fitri antara pemerintah dan Elemen Islam Lain (disingkat aja ya EIL), ada masyarakat yang bersikap seperti kami yaitu manut pemerintah, dan juga ada yang mengikuti EIL. Bahkan ada yang puasanya ikut EIL, tapi hari rayanya ikut pemerintah.

Na’am, walaupun rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan adanya perbedaan hari raya antara ketetapan pemerintah dan EIL, tapi sepertinya masih ada aroma kebingungan dalam menentukan pilihan. Lalu bagaimanakah sebaiknya kita menyikapinya?

Berikut saya copas artikel  dari sini mengenai hal tersebut (di sini juga ada artikel senada). Smoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih punya “pegangan” alias dalil yang jelas sehingga tidak bingung jika lain kali bertemu dengan situasi yang sama lagi, Insya Allah. Setelah membaca artikel di bawah ini, silakan untuk menentukan pilihan mana yang diambil ketika perbedaan hari raya Idul Fitri terulang kembali ^_^

**********

BERHARI RAYA IDUL FITRI BERSAMA PEMERINTAH

Posted on 18 September 2009 by Buletin As-Salaf

Edisi:41 / Th.3
28 Ramadhan 1430 H / 18 September 2009 M

Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala-
Diantara hari yang paling istimewa bagi umat Islam adalah hari raya Idul Fitri.
Umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakannya setelah menjalankan ibadah shaum Ramadhan (baca: puasa Ramadhan) selama 30 hari.

Ibadah shaum Ramadhan dan hari raya Idul Fitri merupakan syi’ar kebersamaan Umat Islam,
Kaum Muslimin secara bersama-sama melakukan shaum Ramadhan , dengan menahan lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Kemudian pada saat hari raya Idul Fitri Umat Islam secara menyeluruh (tidak hanya di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia) berbondong melakukan shalat Idul Fitri, seraya bertakbir, bertahmid memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala Sang Pencipta alam semesta dan segala isinya.
Tetapi syi’ar kebersamaan tersebut kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, penentuan awal ibadah shaum Ramadhan dan penentuan hari raya Idul Fitri yang keduanya merupakan syi’ar kebersamaan Umat Islam diwarnai dengan perpecahan di tubuh umat Islam. Tak jarang, dua kelompok yang berbeda pandangan berhari raya Idul Fitri di dua hari yang berbeda..
Tentunya, ini merupakan fenomena yang menyedihkan bagi siapapun yang mengidamkan persatuan umat Islam.

Pada edisi kali ini Buletin As-Salaf menyajikan sebuah pembahasan yang berjudul “Berhari Raya Idul Fitri Bersama Pemerintah” sebagai sebuah cara berhari raya yang sesuai dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sekaligus sebagai solusi bagi pecahnya kebersamaan Umat Islam dalam merayakan
hari raya Idul Fitri.
Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin seluruhnya.
Amin ya Rabbal ‘Alamin (red.)

SUMBER PERBEDAAN

Jika ada yang bertanya kepada anda, Mengapa perbedaan dalam menentukan hari raya Idul Fitri bisa terjadi?
Mungkin anda akan menjawab: “Itu karena adanya perbedaan pendapat di antara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”.
atau bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”

Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, terlepas dari adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam.

Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).

HUBUNGAN ANTARA PELAKSANAAN SHAUM RAMADHAN DENGAN KETAATAN KEPADA PENGUASA

Mungkin akan timbul tanda tanya di benak kita: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”
Maka sungguh layak dicatat, bahwa hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
لصَّومُ يَومَ تــَصُومُونَ وَ الفِطْرُ يَومَ تُــفْطِرُونَ وَ الأضْحَى يَومَ تــُضَحُّونَ
“Ibadah puasa itu (dilaksanakan) pada hari kalian (umat Islam) berpuasa, Berbuka (Idul Fitri) itu (dilaksanakan) pada hari kalian (umat Islam) berbuka, dan Idul Adha itu (dilakukan) pada hari kalian (umat Islam) menyembelih. (HR. At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu) (1)

Berkata Al-Imam At-Tirmidzi Rahimahullah: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini dengan ucapan (mereka): “Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam.” (2)

2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui proses ru‘yatul hilal (yang bertugas untuk melihat hilal – bulan tanggal 1 – , ed.) (3) di sejumlah titik di negerinya, hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ طاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنــَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمََعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam hal bermaksiat kepada Allah, Ketaatan itu hanya pada perkara yang ma’ruf (baik).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu) (4)

3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya Idul Fitri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ
وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطاَعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي
“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu) (5)

BIMBINGAN PARA ULAMA’

Mungkin akan ada yang bertanya, adakah pernyataan para Ulama’ terkait dengan permasalahan ini?
Maka jawabannya: Ada.
Berikut ini adalah penjelasan beberapa para Ulama’ terkait dengan permasalahan yang sedang kita bahas.
1. Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jama’ah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)

2. Al-Imam At-Tirmidzi Rahimahullah berkata ketika menukilkan pernyataan sebagian para Ulama’: “Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)

3. Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini -yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan-. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)
Wallahu a’lamu bish_shawab

(Diringkas oleh: Abdul Hadi),
(dari sebuah artikel di http://www.asysyariah.com yang berjudul: “Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi’ar Kebersamaan Umat Islam”. yang ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ L.c )
– dengan disertai penambahan dan pengurangan

HIMBAUAN

Para pembaca -yang semoga mendapatkan hidayah Allah I untuk berpegang dengan Al-Haq- jelaslah bahwa pelaksanaan hari raya Idul Fitri merupakan syi’ar kebersamaan Umat Islam, yang pelaksanaannya terkait dengan ketetapan penguasa. Dan tentunya kita yakin bahwa ketaatan kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf (baik) merupakan prinsip yang harus kita pegang teguh dan kita amalkan.

Oleh karena itu, kami menghimbau kepada segenap kaum Muslimin dan Muslimat, agar berhari raya Idul Fitri sesuai dengan ketetapan pemerintah kita, sehingga terwujud syi’ar kebersamaan umat Islam. Jangan sampai terbesit di dalam hati kita untuk menyelisihi pemerintah dalam pelaksanaan hari raya Idul Fitri, “karena perselisihan itu jelek”, sebagaimana dinyatakan oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengingkari perbuatan khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu yang melakukan shalat di Mina sebanyak 4 raka’at (di hari-hari haji) (6) seraya mengatakan: “Aku telah shalat (di Mina / hari-hari haji -pen.) bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Bakr Radhiallahu ‘anhu, ‘Umar Radhiallahu ‘anhu dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan di antara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”
Namun ketika di Mina shahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu justru shalat 4 rakaat padahal beliau mengingkarinya. Sehingga jawaban beliau ketika ditanya, mengapa ikut shalat 4 rakaat? mengatakan:

“Perselisihan itu jelek”.
(HR. Abu Dawud) (7)

Subhanallah, . . .
hendaknya kisah di atas menjadi renungan bagi kita, betapa seorang ulama besar dari kalangan shahabat menghindari perselisihan dengan pemimpinnya, walaupun beliau berbeda pendapat dengan pemimpinnya.

Dengan ini kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , agar mempersatukan kaum Muslimin di atas Tauhid dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan membinasakan pihak-pihak yang ingin mencerai-beraikan kaum Muslimin.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

Amin Ya Rabbal ‘Alamin

(red.)
CATATAN KAKI:
(1) HR. At-Tirmidzi (no. 697), dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah di Ash-Shahihah (no. 224) (2/443).
(2) Lihat Sunan At-Tirmidzi (no. 697)
(3) Sesuai dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, karena beliau memerintahkan kita (umat Islam) untuk melihat hilal dalam rangka menentukan awal puasa. (ed.)
(4) HR. Al-Bukhari (no.6726) dan Muslim (no.1840)
(5) HR. Al-Bukhari (no.6718) dan Muslim (no.1835)
(6) Maksud (4 rakaat) adalahmengerjakan shalat yang berjumlah 4 rakaat secara sempurna 4 rakaat, sedangkan maksud dari (2 rakaat) adalah mengerjakan shalat yang berjumlah 4 rakaat secara qashar / ringkas sebanyak 2 rakaat. Yang dilakukan di Mina pada saat melakukan ibadah Haji. (ed.)
(7) HR. Abu Dawud (no.1960), dari jalan Abdurrahman bin yazid Rahimahullah

2 Comments

  1. ini semua bukan dalil dalam menentukan Hari Raya Ied, tapi olah pikir manusia untuk mentaati pemerintah yang berhukum dengan hukum buatan manusia dengan dalih menghindari perpecahan, pertumpahan darah dll. Sedangkan agama Islam adalah agama dalil (nash) semua keputusan dan penentuan dari Allah Ta’ala. coba cari tau lagi. sepengetahuan saya mengenai penentuan Ramadhan dan Hari Raya Ied/ Adha ada tiga ketentuan intinnya;
    1. Melihat
    2. Mendengar
    3. Menggenapkan
    TIDAK ADA MELIBATKAN KEPUTUSAN PEMERINTAH YANG BERHUKUM DENGAN HUKUM DEMOKRASI

  2. Pingback: PAPER II STUDY KASUS (AGAMA ISLAM) | willyforindonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s