Sakitmu.. Sakitku.. :'(

recovery

Ya, beberapa minggu belakangan ini saya dan zauji kerja bakti alias gotong royong. Bukan.. bukan membersihkan rumah atau selokan akan tetapi kerjabakti bersama-bersama menangani Khansa yang sakit selama tiga minggu berturut-turut.

Berawal dari seminggu usai kami pulang dari mudik lebaran, Khansa demam selama 2 hari. Setelah dua kali diberi tempra karena panasnya sempat mencapai 39oC, alhamdulillah kondisi badannya berangsur normal dan beraktivitas seperti biasa.

Seminggu kemudian, muncul tiga bintik merah berurutan di perut kanan Khansa. Ketika warnanya berubah menjadi merah nanar, saya dan zauji lalu membawanya ke dokter. Ternyata Khansa kena herpes simplex. Penyebabnya virus, dan bisa jadi karena sering digendong kesana kemari sehingga tertular oleh orang yang sedang mengidapnya.Wallahu a’lam. Oleh dokter diberi obat acyclovir (karena herpes sejenis dengan cacar) yang bentuknya puyer dan salep (lupa nama salepnya). Sebenarnya saya kurang setuju meminumkan obatnya terkait dengan kontroversi puyer, dan juga menurut pendapat sotoy saya kalo sakit disebabkan oleh virus (sperti batuk, pilek) maka tidak perlu diberi obat-obatan, cukup dengan memberi asupan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh, CMIIW. Tapi karena zauji menghendaki untuk meminumkannya ya udah saya minumkan ke Khansa. Minum yang pertama bisa masuk, tapi ketika diminumkan untuk yang dosis kedua dia muntah. Akhirnya saya berketetapan untuk tidak meminumkan sisa obatnya, hanya mengoleskan salepnya saja dan lebih konsentrasi untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan memberikan lebih banyak sayur , dan memberinya telur ayam kampung rebus. Alhamdulillah diberkahi Allah kesembuhan dan herpesnya ngga menyebar kemana-mana.

Usai herpes kemudian Khansa kena keputihan seperti yang saya ceritakan di sini. Ketika keputihan (bahkan cenderung kemerahan) sudah berlangsung seminggu kami cek ke dokter, bliau minta untuk cek lab urine dan keputihannya. Dokter bilang kemungkinan jamur (jadi warna kemerahan itu bukan darah -sperti yg saya takutkan- tapi jamur itu sendiri), sedangkan cek urine untuk memeriksa kemungkinan adanya infeksi saluran kencing.

Saya dan zauji sampe ngga ngantor (zauji ngga brangkat kuliah) untuk memeriksakan Khansa ke Prodia Depok, karena urine dan sekret jamur paling lambat satu jam harus sudah diterima lab, sedangkan jarak rumah dan Prodia kurleb satu jam. Akhirnya kami menunggu di rumah sahabat saya -ummu izza- di Pesona Khayangan. Kami sudah berusaha “menatur” Khansa di kamar mandi supaya mau pipis tapi ngga berhasil. Kemudian kami pasang urine collector. Eh, dua kali kami pasang kebobolan smua alias bocor ngga ketampung. Bahkan ketika akhirnya kami pulang ke rumah juga teteup ngga berhasil hiks… Ternyata susah juga yaaa nampung urine bayi ituh… hehe.. Malam harinya Khansa keluar keputihan. Oleh zauji lalu diambil sekretnya dan dioleskan ke preparat yang diberi oleh Prodia, dan langsung dibawa ke lab.

Beda hari beda peristiwa.

Keesokan harinya Khansa sering muntah, kurang lebih sudah 4 x muntah dari pagi hingga ba’da magrib. Zauji lalu berinisiatif mengambil hasil lab (minus tes urine karena gagal maning gagal maning), lalu malam itu juga kami bawa ke dokter. Dokter bilang dari hasil lab ngga terdeteksi jamur. Bisa jadi karena sample yang diambil pas yang ngga ada jamurnya alias keputihan biasa. Kami lalu bilang kalo Khansa hari itu sering muntah. Dokter lalu berasumsi “wah, jangan-jangan muntaber, karena sekarang sedang wabah”. Bliau bilang memang gejalanya muntah dulu, setelah itu demam, dan esoknya diare. Oleh dokter kami diberi antibiotik dan vometa (untuk anti muntah).

Walaupun saya sangat tidak mendukung pemberian antibiotik, tapi terpaksa saya lakukan karena indikasi ada beberapa penyakit yang diderita Khansa. Malam harinya Khansa demam. Saya kompres dengan air hangat, juga dibaluri bawang merah campur minyak telon. Hari berikutnya demam turun dan benul juga, Khansa diare. Zauji lalu ke dokter untuk meminta saran pengobatan. Oleh dokter diresepkan lactoB, zinc kid, dan pedialyte.

Kami minumkan ketiganya ke Khansa terutama pedialyte sebagai cairan oralit untuk mencegah dehidrasi, dan juga air tajin yang -ternyata- Insya Allah bisa menjadi alternatif asupan ketika bayi mengalami diare, infonya di sini.

Air tajin selain cepat dicerna, juga mengandung kadar glukosa cukup tinggi, yang akan mempermudah penyerapan elektrolit. Selain itu dua macam poliglukosa dalam tepung tajin dapat menyebabkan feses lebih padat. Keuntungan lain air tajin adalah adanya kandungan proteinnya, yaitu 7 – 10 %. Sedangkan garam oralit tidak mengandung protein. Penggunaan air tajin sebagai “obat diare”, tidak berbahaya untuk bayi sekalipun.

Untuk yang zinc kid dan lacto b kurleb hanya dua kali saya berikan karena setelah browsing tidak terlalu penting untuk dikonsumsi, CMIIW.

Tadinya saya browsing kesana kemari mencari pengobatan yang bisa menghentikan diare. Tapi ternyata diare itu salah satu bentuk “bersih-bersih” usus pada bayi karena ada “benda asing” di dalamnya. Jadi yang perlu difokuskan adalah pencegahan dehidrasi karena Insya Allah kalo benda asing itu sudah keluar maka diare akan berhenti sendiri, CMIIW (lagi).

Alhamdulillah sekarang Khansa sudah sembuh dan mulai pecicilan seperti biasa. Ngesotnya tambah cepet, sudah mulai rambatan ke mana-mana. Sekarang Insya Allah sedang berusaha menaikkan berat badannya yang susut hampir setengah kilo waktu sakit kemarin. Smoga Allah senantiasa memberkahi dengan kesehatan. Sedih rasanya kalo anak sakit :'(

Berikut saya copas info mengenai muntaber. Smoga bermanfaat.

**********

WASPADAI GEJALA MUNTABER

Ada beragam gangguan pencernaan yang perlu kita ketahui supaya kita lebih waspada dan bisa melakukan usaha-usaha pencegahan. Salah satu gangguan pada pencernaan yang cukup berbahaya jika dibiarkan berlanjut adalah muntaber. Muntaber merupakan gangguan pencernaan yang menyebabkan seseorang mengalami muntah dan berak secara bersamaan atau terpisah. Jika gangguan pencernaan yang satu ini tidak segera diatasi maka bisa dengan cepat membawa seseorang pada kondisi yang membahayakan jiwanya.

Apa Penyebabnya?

Muntaber bisa disebabkan oleh  kuman, bakteri, atau virus. Muntaber juga dapat disebabkan oleh adanya infeksi saluran nafas atau radang tenggorokan, infeksi saluran kemih (kencing) dan penyakit tifus. Akan tetapi, yang paling sering menyebabkan muntaber adalah bakteri Eschericia coli (E.coli) yang menyerang usus. Biasanya muntaber terjadi karena seseorang mengkonsumsi makanan yang sudah tercemar dengan bakteri E.coli dan saat itu daya tahan tubuhnya sedang turun (tidak fit).

Bagaimana Gejalanya?

Bakteri yang masuk ke dalam saluran cerna lewat makanan yang telah tercemar akan menimbulkan radang pada saluran cerna sehingga muncul gejala seperti sakit perut, kembung, mual dan muntah-muntah. Muntaber juga dapat disertai dengan gejala demam tinggi (mencapai 38°C atau lebih), kepala pusing, tidak nafsu makan, lemas, dan elastisitas kulit menurun. Beberapa anak bahkan mengalami halusinasi jika sudah mencapai taraf kekurangan cairan elektrolit dalam tubuh.

Mengapa Kita Perlu Mewaspadai Muntaber?

Bahaya utama dari penyakit muntaber adalah kehilangan cairan yang terlalu cepat, terutama pada anak-anak. Kehilangan cairan yeng berlebihan dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan) dan bisa berakibat fatal jika tidak segera diatasi. Muntaber ini jauh lebih berbahaya dibanding jika seseorang hanya menderita diare (mencret) saja atau muntah saja. Apalagi jika muntah dan berak yang dialami lebih dari empat kali dalam sehari dan disertai dengan demam tinggi. Jika tidak segera ditangani, penderita muntaber dapat mengalami syok bahkan kematian.

Bagaimana Mengenali Tanda Dehidrasi?

Ada 3 jenis dehidrasi yang perlu kita ketahui supaya kita tahu sampai sejauh mana tingkat keparahan akibat kekurangan cairan dan supaya cepat mendapat penanganan. Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut ini :

  1. Tidak dehidrasi : keadaan umum baik (masih bisa beraktifitas biasa), rasa hausnya masih normal, air kencing normal, ada air mata, mata tidak cekung, mulut/lidah basah, nafas normal, jika kulit dicubit akan kembali dengan cepat, denyut nadi normal, ubun-ubun normal/tidak cekung (pada anak).
  2. Dehidrasi tidak berat : tampak sakit, mengantuk, lesu, gelisah, rasa hausnya berlebih, air kencing sedikit gelap (keruh), air mata kurang, mata cekung, mulut/lidah kering, nafas agak cepat, jika kulit dicubit akan kembali dengan lambat, denyut nadi agak cepat, ubun-ubun cekung (pada anak).
  3. Dehidrasi berat : sangat mengantuk, tidak sadar, lemah, tidak dapat minum, tidak ada air kencing dalam waktu 6 jam, air mata tidak keluar, mata  kering dan sangat cekung, mulut/lidah sangat kering, nafas cepat dan dalam, jika kulit dicubit akan kembali dengan sangat lambat (lebih dari dua detik), denyut nadi sangat cepat, lemah, dan tidak teraba, ubun-ubun sangat cekung (pada anak).

Bagaimana Cara Mengatasi Dehidrasi?

Usaha pertama untuk menolong penderita adalah dengan memberinya sebanyak mungkin cairan, sebelum dibawa berobat ke dokter atau Rumah Sakit. Selama penderita masih sadar dan dapat minum, berikanlah cairan melalui mulutnya. Selain air, perlu pula dikembalikan garam-garam mineral yang ikut hilang. Untuk itu, penderita sebaiknya juga diberi larutan oralit. Disamping pemberian oralit, makanan dan minuman lain (cairan rumah tangga) harus tetap diberikan. Jika yang terkena muntaber adalah bayi yang masih menyusu ibunya maka ASI (Air Susu Ibu) terus diberikan. Segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat jika sudah muncul tanda-tanda dehidrasi.

Bagaimana Cara Memberikan Oralit?

  1. Pilihlah oralit yang sudah dikemas dalam bungkus (sachet) yang dijual di apotik atau toko obat karena selain praktis, komposisinya sudah tepat dibanding jika Anda membuat sendiri larutan air garam dicampur gula.
  2. Baca aturan pakai dan ikuti instruksi yang tertulis dalam kemasan supaya tidak terjadi kesalahan dalam mencampur serbuk oralit dengan air sehingga jumlahnya berlebihan atau justru kurang.
  3. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika Anda ragu-ragu dalam memberikan oralit.
  4. Oralit diberikan sedikit-sedikit tapi sering supaya tidak semakin merangsang terjadinya muntah.
  5. Jika Anda hendak memberikan oralit pada anak-anak sebaiknya menggunakan sendok dan jangan dengan botol.
  6. Jika terjadi muntah saat pemberian oralit, tunggu dulu 10 menit kemudian lanjutkan pemberian oralit perlahan-lahan.

Bagaimana Cara Mencegah Muntaber?

Ada banyak cara untuk mencegah muntaber, antara lain:

  1. Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan dalam jumlah yang cukup
  2. Penggunaan air bersih untuk minum
  3. Mencuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum makan
  4. Membuang tinja, termasuk tinja bayi pada tempatnya
  5. Menjaga kebersihan jamban keluarga
  6. Menjaga kebersihan rumah, terutama kamar mandi, WC dan dapur
  7. Menjaga kebersihan peralatan makan
  8. Mencuci sayuran, buah, dan bahan makanan sebelum dimasak
  9. Memisahkan perangkat anggota keluarga yang terkena muntaber supaya tidak menular pada yang lain
  10. Jika Anda mempunyai bayi maka berikan ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun pertama kehidupan serta sebisa mungkin menghindari penggunaan susu botol.

Penutup

Muntaber merupakan salah satu penyakit yang perlu kita waspadai karena disamping bisa menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) dengan cepat juga bisa sampai menimbulkan syok dan bahkan kematian jika tidak segera diatasi. Bersikaplah tenang ketika ada anggota keluarga yang mengalami muntaber. Tetap berpikir rasional dan serahkan semuanya pada Allah. Lakukan pertolongan pertama dengan memberikan oralit sebelum dibawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Upaya-upaya pencegahan sudah seyogyanya kita upayakan supaya keluarga kita terhindar dari bahaya muntaber dan yang tidak kalah penting, usahakan selalu ada persediaan oralit di kotak obat Anda.

Penulis: dr. Avie Andriyani (dimuat di majalah As Sunnah edisi 08/XII/1429H/2008M)

Sumber :

  1. Komite Medik RSUP Dr. Sardjito, Standar Pelayanan Medis, Medika, FK UGM Yogyakarta
  2. dr. Karel, SpA, Menjadi Dokter Anak di Rumah, Penerbit Puspa Sehat

8 Comments

  1. mb Indri dzikri juga pernah sakit sariawan satu mulut penuh, plus muntah sama diare.. sampai akhirnya opname di Jogja (waktu pulang kampung) karena gejala dehidrasi.. sama dokternya alhamdulillah nggak dikasih obat macam2.. waktu itu dikasih zink juga dan aku minumkan. dan harus 10 hari terus menerus diminumkannya,,
    jadi kalo diarenya nggak parah2 amat, mungkin pemberian zink bisa ditunda dl..
    sorry kalo komennya panjang sekalian curcol hihihihi…

  2. subhanallah, smg dg ujian sakitnya khansa semakin mengkompakkan ummi abinya juga. Sediiih memang kalo anak sakit. Berarti baru pertama kali ini diare ya?. Dulu meqly selama asi alhamdulilah ga pernah diare. Tapi habis konsumsi sufor jd diare hiks. Sebenernya aku sudah ga setuju sama pemberian sufor. Cuman kalo musti uht plain, disini stok terbatas.

  3. ckckckc….tragedi ini mirip2 kayak ahmad kalo pas mudik. hanya saja, ahmad (waktu itu umur 7 bln) sampe opname 5 hr kalo ga salah. tahun2 berikutnya jg kalo mudik aya2 wae sakitnya. padahal jg dah ekstra ‘penjagaan’. tp kehendak Allah siapa bisa menolak. khansa…khansa… kemaren baru tak alem2. nduk…nduuk…. sing sehat.. sing sehat yo nduk… amiin, amiin.

    *kacian sama khansa, tp kok pingin ngetawain ibuke yo*
    tega nian, afwan yo
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s