Bijak dalam Ber-Clodi

popok

Lagi-lagi beberapa waktu yang lalu mak reos ada diksusi seru (halah, dik susi digawa-gawa).. kali ini mengenai clodi. Ada satu emak yang melontarkan wacana yang cukup “berani” mengenai clodi. Dia mengatakan, kurang lebih sperti ini  “bahwa ada penelitian dari Jerman bahwa pemakaian popok modern bisa menaikkan suhu scrotum satu derajat dan dapat menimbulkan kemandulan bagi bayi laki-laki” bahkan dia juga menyebutkan kalo ada dua clodi lokal yg berpotensi menimlbulkan hal ini (cmiiw kalo ada mak reos yang mampir ke sini).

Temtu saja hal ini menimbulkan kehebohan karena sebagian dari emakers reos menggunakan clodi pada anak mereka (termasuk saya), dan juga banyak olshop penjual clodi yang bergabung di sana. Makanya komen ini bagaikan masup ke sarang macan wehehehe..

Alhamdulillah emak-emak reos terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, dan buanyaaak yg super cerdas dengan kapasitas keilmuan masing-masing. Begitu pun menyangkut masalah ini, ada satu emak yang sekarang sedang menempuh studi lanjutan di Michigan, US bidang Epidemiologi tentang determinan dan faktor risiko penyakit dan masalah kesehatan, dan biostatistik, sebut saja inisialnya mak V I T R I (hloh malah kesebut kabeh whaha..)

Begini penjelasan dari bliau..

Maaf buat trit baru, dan panjang, takut tenggelam… baru saja buka laptop, dikejutkan dengan trit mba **** tentang penggunaan clodi dan infertilitas pada bayi laki-laki… Nanti kalau udah sempat (habis final exam), Insya Allah saya buat artikel yang lebih lengkap tentang ini… karena distributor clodi, jadi merasa bertanggung jawab, bila memang produk ini membahayakan… Insya Alah, saya kritisi secara obyektif ya.. kebetulan saat ini saya studi lanjut di bidang Epidemiologi (tentang determinan dan faktor risiko penyakit dan masalah kesehatan, dan biostatistik)

Ada beberapa artikel yang bisa saya temukan, tentang topik ini, mungkin ini artikel utama yang dimaksud (kalau ada artikel lain, mohon saya diberitahu), dimuat di BMJ Journal (ini jurnal kesehatan yang lumayan terkenal) http://adc.bmj.com/content/83/4/364.full.pdf?sid=db43b2d1-82a3-445e-9c01-7572fd9416dd yang merupakan penelitian cross sectional di Kiel, Germany, terhadap 48 sampel, yang secara acak meneliti efek penggunaan plastic disposable diaper dengan cotton diaper (tidak disebutkan apakah cotton diaper ini, modern cotton diaper atau yang konvensional, bahan yang digunakan apakah cotton, suede, microfleece, atau bahan lain). penelitian dilakukan dengan mengukur suhu scrotum, pada anak yang memakai diaper plastic, dan cotton diaper, lalu membandingkan suhu rata-rata kedua kelompok dengan menggunakan t-test.

hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang memakai plastic disposable diaper (disini menyebutkan merk, bisa dibaca langsung), memang lebih tinggi 0.6-1.1 derajat suhu scrotumnya (p value <0.001).

Jadi penemuan yang ada, adalah penggunaan plastic disposable diaper meningkatkan suhu scrotum 0.6-1.1 derajat dibanding pemakaian cotton diaper. (Note : tidak secara langsung meneliti tentang infertilitas, dalam hal ini sperm count, karena memang tidak bisa dilakukan).

Lebih lanjut, dalam diskusi, penulis menghubungkan dengan infertilitas, dimana dari penelitian sebelumnya terjadi penurunan kualitas sperma pada laki-laki yang mengalami peningkatan suhu skrotum (disini disebutkan eksplisit pada laki-laki dewasa, dan belum ada bukti pada anak-anak).

Kalau melihat hasil penelitian ini, dengan melihat sampel yang kecil (48 sampel), dengan metode cross sectional (metode paling baik adalah dengan cohort), dan kesimpulan yang diambil hanya sebatas bahwa pemakaian plastic disposable diaper (bukan cloth diaper), meningkatkan suhu scrotum, maka sebaiknya diakukan penelitian lanjutan untuk memvalidasi hasil penelitian ini. (saya cari-cari belum ada lagi, mungkin mba Diena ada artikel lain).

Ada artikel tambahan http://adc.bmj.com/content/83/4/281.full.pdf?sid=db43b2d1-82a3-445e-9c01-7572fd9416dd yang dimuat di jurnal yang sama, yang lebih lanjut mencari pengaruh antara faktor external scrotum dengan infertilitas (termasuk suhu scrotum, dan penggunaan diaper). Ini bukan penelitian observasional, tetapi lebih ke meta analysis (review article), dan hasilnya juga sama, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui efek ini, karena memang data yang ada belum adekuat. Ada tambahan disini memang, hasil penelitian yang dilakukan terhadap anjing yang memakai polyester pants mengalami penurunan jumlah sperma dibanding yang memakai cotton pants. saya lanjut searching tentang polyester pants yang dimaksud, dan hasil yang saya dapat, adalah pants yang murni dari polyester (jadi scrotum anjing langsung bersentuhan dengan bahan polyesternya).

Kesimpulan saya, masih perlu dilakukan penelitian cohort dalam skala yang lebih besar untuk meneliti efek penggunaan plastic disposable diaper terhadap cotton diaper terhadap kenaikan suhu scrotum, dan kenaikan suhu scrotum pada anak-anak terhadap infertilitas pada usia dewasa (untuk ini harus dilakukan penelitian cohort atau case control, tidak bisa dengan cross sectional seperti yang dilakukan peneliti tersebut).

Tentang cloth diaper (bahan kain, bukan plastik), tentunya masih diperlukan penelitian lagi, karena di dua artikel ini tidak disebutkan secara spesifik tentang penggunaan cloth diaper (hanya cotton diaper, entah konvesional, atau cloth diaper modern berbahan cotton, atau yang lain).

Hope this help, and pretty objective… Doakan kalau nanti lulus, bisa penelitian cohort atau case control tentang ini :) hehe

Alhamdulillah dapet ilmu baru walopun ngga mudeng-mudeng banget (hloh?), lha wis aku ra mudeng sing istilah statistik ra popo tho hihi..

Na’am, sepertinya memang kita sebagai orangtua harus bijak dalam segala sesuatu yang menyangkut anak kita, begitu juga dalam masalah perclodian. Walopun anak saya perempuan, tapi teteup saja harus berhati-hati.

Memang pada awalnya saya memilih clodi yang tahan lama. Ketika saya baca-baca review ada yang mengatakan tahan 4 jam, 6 jam, bahkan 12 jam. Itu menjadi salah satu acuan saya dalam membeli clodi untuk genduk.

Namuuunn.. setelah genduk mengalami keputihan seperti yang saya ceritakan di sini, saya berpikir ulang mengenai hal itu. Walopun clodi yang saya pakaikan ke Khansa ada yang termasuk golongan clodi premium (bukan solar *halah*), saya (berusaha) tidak berlama-lama membiarkan Khansa dengan clodi yang sama. Biasanya per 3-4 jam sekali diganti. Ato kalo misalnya udah bau pesing ya langsung ganti, apalagi kalo eek, kalo dibiarkan lama bisa banyak bakteri berkembang di bawah sana.

Ya, saya akui sampe sekarang saya masih belum diselipin banget untuk hal ini, terutama untuk jam malam hari yang sering bablas sampe subuh baru ganti lagi :'(  — jadi PR

Mudah-mudahan hal ini bisa jadi wacana bagi clodi user (eh clodi user kan anak2 ya).. kamsudnya mamak dari clodi user, sehingga kebaikan yang ada pada clodi tidak menjadikan kita terlena, berleha-leha, dan berlama-lama dalam mengenakan clodi yang sama pada anak kita. Ini clodi lho yang insya Allah lebih safe daripada pospak, apalagi bagi mamaknya pospak user (ngacung lagi karena kalo keluar rumah agak lama saya makein pospak ke genduk), harus lebih berhati-hati dan ngga males ngegantiin pospak anak (ngomong ke diri sendiri).

Bijak dalam ber-clodi. Itu. (ikut-ikutan pak mario tega)

2 Comments

  1. Waduh,takut jga dngerinx.soalx bayiku sdh 6 bln.aq pkekan popok jg yg clothlike.tp untk mlam sblum tdur.kalo siang aq buatkn ppok plsu{istilah nenekx}.yaitu kain kaos yg diisi kmbli k plstk td yg udah d cuci.kira2 aman tdk ya?jd aq dah siapkan bxak kain kaos.dan plster.tp kalo eek lgsung dbuang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s