Jilbab Style

jilbab

Beberapa tahun belakangan ini, alhamdulillah sepengamatan saya semakin banyak wanita (khususnya) di Indonesia yang mengenakan jilbab. Hal ini diamini pula oleh Flitzi (weleh kata-katanya, mengaminii..kaya penyiar metromini aja), salah seorang murid pertukaran pelajar AFS asal Jerman yang pernah tinggal di rumah saya selama setahun (th 1997-1998).

Tahun 2010 yang lalu ketika dia datang ke Semarang dalam rangka menghadiri pernikahan adik saya, dia bilang kalau sekarang bertambah banyak wanita yang memakai jilbab. Dia lalu bertanya kepada saya, kenapa ya? Dan saya lupa apa jawaban saya waktu itu hihihi.. (maklum udah setahun lebih, mana waktu itu lagi hamil 7 bulan *ngga ngaruh kalii). Kalo ngga salah ingat sih saya menjawabnya, “karena semakin banyak wanita yang paham akan ajaran agamanya (Islam,red)” , kalo ngga salah ingat lhoo, kalo salah ya maapkeun saya :D

Oya, sebelum membahas lebih jauh, perlu juga kita mengenal perbedaan istilah jilbab dan hijab (karena dua kata ini yang sering dipakai secara umum).

Dalam hal ini  Syaikh Al Bani rahimahullah mengatakan, “Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.” Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau menghalangi dirinya, baik berupa tembok, sket ataupun yang lainnya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al-Ahzab ayat 53, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diberi izin… dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepda mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab…”

Mudang? sipp :D

Membicarakan tentang jilbab membuat saya memutar balik kenangan sebelum menikah, dimana saya sangat preman dalam berpakaian, termasuk dalam berjilbab. Pada waktu itu saya seringkali memakai jilbab nyumplik, kadang diikat dibelakang, atau kadang dimasukkan ke dalam baju. Pakaianpun seringkali memakai celana panjang, alasan saya supaya praktis dan ngga ribet. Maklum, waktu itu masih suka sepeda motoran kemana-mana (sampai sekarang ding), ditambah lagi ketika bekerja di Jakarta dan tinggal di Cibubur (rumah tante) maka saya harus berlari-lari mengejar bis kota. As we know bahwa angkot di jakarta itu kezam. Kaki masih satu yang masup udah main pancal gas saja *ngelus dada*. Belum lagi kalo harus disertai lompat indah untuk masuk ke dalam bus. Bisa sobek tuh kalo memakai jarik (sing kon nggo jarik yo sopo).

Mengingat kondisi tersebut, saya lumayan mikir-mikir ketika calon suami (waktu itu) ketika ta’aruf bilang kalau menginginkan saya memakai rok, katanya dia cemburu apabila melihat istrinya memakai celana panjang di depan umum (karena dengan memakai celana panjang maka lekuk tubuh kita masih terlihat,red). Kok agak neko-neko sih permintaannya, pikir saya. Kemudian dalam suratnya dia bilang “ketika seseorang mempunyai sesuatu yang berharga tentunya dia ingin menjaganya dengan baik”.

Ihiks.. mendengar hal itu hati saya bagaikan tersiram es sop buah dengan isian strawberry, melon, semangka, buah naga..pokoke maknyess ngono lho. Kemudian saya pun mulai.. BERUBAH (bukan kotaro minami).

Kemana-mana memakai rok panjang, dan alhamdulillah bisa lho melakukan segala kegiatan ajaib dengan memakai rok. Mau naik motor, nyetir mobil, lompat ke dalam bis, lari-lari..insya Allah bisa! asal jangan pake rok span ya. Ternyata kekhawatiran saya akan betapa ribet dan ngga praktisnya kalo pake rok itu tidak benul.

Satu hal terlewati, muncul hal berikutnya (maap saya cerita dulu ya sebelum ke intinya).

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dulu jilbab saya ngga sepanjang dan selebar ini, nyumplik. Sekali lagi, ingin ringkes, ngga ribet dan ngga panas. Perlahan-lahan dibimbing suami untuk mengenakan hijab dengan lebih baik. Ada suatu saat dimana saya protes. Wong jilbab udah nutup dada kok masiih aja kurang panjang. Suami bilang “Dek, kalo jilbabnya “hanya” sedada, misalnya dek mengangkat tangan itu auratnya bisa keliatan (ex: mau ambil barang yg posisinya di atas, mau gantungan di bus). Dan kalo mas ngga ada di deket dek, jilbab itu yang bisa melindungi dek (dari gangguan dan pandangan liar kaum lelaki)”. Manut deh. Alhamdulillah sampai sekarang saya merasa nyaman dengan pakaian yang saya kenakan saat ini, yaitu bergamis dan berjilbab panjang :)

Sekarang mulai masuk ke intinya.

Sebenarnya bagaimana sih jilbab atau cara berpakaian muslimah yang sesuai dengan syari’at?

Terdapat penjelasan tentang hal ini di web asysyariah di bawah ini

**********

Ustadzah, saya mempunyai pertanyaan dan mohon untuk dijawab:
Bagaimana jilbab yang sesuai dengan syariat? Mohon penjelasannya, jazakillah khairan.

Halimah
asy-….@plasa.com

Jawab :
Jilbab yang sesuai dengan syariah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

Menutupi seluruh badan

Tidak diberi hiasan-hiasan hingga mengundang pria untuk melihatnya
Allah  berfirman :
“Katakanlah (ya Muhammad) kepada wanita-wanita yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan mereka, dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan kerudung di atas kerah baju mereka (dada-dada mereka)… (An-Nuur: 31)

Tebal tidak tipis
Rasulullah  bersabda :
“Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang…
Kemudian beliau bersabda ;

“…laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat”. (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu`jamush Shaghir dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam kitab beliau Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 125)
Kata Ibnu Abdil Baar t: “Yang dimaksud Nabi  dalam sabdanya (di atas) adalah para wanita yang mengenakan pakaian dari bahan yang tipis yang menerawangkan bentuk badan dan tidak menutupinya maka wanita seperti ini istilahnya saja mereka berpakaian tapi hakikatnya mereka telanjang”.

Lebar tidak sempit
Usamah bin Zaid c berkata: Rasulullah  memakaikan aku pakaian Qibthiyah yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau maka aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu ketika beliau  bertanya: “Mengapa engkau tidak memakai pakaian Qibthiyah itu?” Aku menjawab: “Aku berikan kepada istriku”. Beliau berkata : “Perintahkan istrimu agar ia memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut karena aku khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk tubuhnya”. (Diriwayatkan oleh Adl Dliya Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan, kata Syaikh Al-Albani t dalam Jilbab, hal. 131)

Tidak diberi wangi-wangian
Karena Rasulullah  bersabda :
“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium wanginya maka wanita itu pezina.” (HR. An Nasai, Abu Daud dan lainnya, dengan isnad hasan kata Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 137)

Tidak menyerupai pakaian laki-laki
Abu Hurairah z mengatakan: “Rasulullah  melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Jilbab, hal. 141)

Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
Karena Rasulullah  dalam banyak sabdanya memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka baik dalam hal ibadah, hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka.

Bukan merupakan pakaian untuk ketenaran, yakni pakaian yang dikenakan dengan tujuan agar terkenal di kalangan manusia, sama saja apakah pakaian itu mahal/ mewah dengan maksud untuk menyombongkan diri di dunia atau pakaian yang jelek yang dikenakan dengan maksud untuk menampakkan kezuhudan dan riya.

Berkata Ibnul Atsir: Pakaian yang dikenakan itu masyhur di kalangan manusia karena warnanya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka hingga manusia mengangkat pandangan ke arahnya jadilah orang tadi merasa bangga diri dan sombong. Rasulullah  bersabda:
“Siapa yang memakai pakaian untuk ketenaran di dunia maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian dinyalakan api padanya”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dengan isnad hasan kata Syaikh Albani dalam Jilbab, hal. 213)

Demikian kami nukilkan jawaban untuk saudari dari kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani t.

**********

Terkait dengan jilbab style, saya juga teringat dengan postingan salah satu teman pemilik online shop yaitu mba Farida Hanim yang selama ini berkutat di dunia muslim clothing. Suatu saat dia membuat note dengan judul “Sebuah Teguran Sayang dari Allah Melalui Seorang Sahabat Lama”. Latar belakang cerita tersebut adalah teguran dari salah seorang teman mba FH pada satu produk yang beliau upload di lapaknya yaitu pashmina ponytail (zararena). Pada produk tersebut menampakkan lekuk leher wanita, sehingga penampakannya menyerupai pemakaian penutup kepala di kalangan suster non-muslim, yang notabene (selain leher merupakan aurat yang tidak boleh ditampakkan lekuknya, red) berarti merupakan tasyabbuh (mengikuti suatu kaum). Padahal dalam satu hadits Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- dikatakan bahwa “barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari golongan mereka”. Na’udzubillahi mindzalik. Pada akhirnya, walaupun order untuk produk tersebut sudah banyak dan jilbab sudah siap kirim, mba FH tidak mengirimkannya karena tidak ingin “menjerumuskan” saudara sesama muslimnya ke hal yang berlawanan dengan syariat. Smoga Allah menggantinya dengan rizki yang lebih baik :) .

Berikut saya nukil note dari mba Farida Hanim.

**********

Bismillahirrahmanirrahim…

Tulisan ini sy buat setelah sy memperoleh teguran dari seorang sahabat untuk salah satu jenis produk yg sy jual; pashmina pony tail/zararena. Dia mengingatkan sy utk lebih berhati-hati supaya tidak tasyabuh — mengikuti suatu kaum.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Penjelasan ringkas:

Seorang muslim memiliki kepribadian sendiri yang membedakannya dan menjadikannya istimewa dari yang non muslim. Karenanya Allah Ta’ala menghendaki agar dia nampak berbeda dari selainnya dari kalangan kafir dan musyrik, demikian pula Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan jangan sampai seorang muslim menyerupai orang kafir. Beliau sangat mengharamkan tasyabbuh kepada orang kafir dari sisi penampilan luar karena bisa mengantarkan kepada tasyabbuh dari sisi iman dan keyakinan, karenanya beliau telah melarang kaum muslimin untuk tasyabbuh dengan mereka dalam banyak hadits.

Berikut sy lampirkan beberapa foto yg insha Allah berguna utk para muslim-muslimah :)

kerudung yg menyerupai suatu kaum.. menampakkan bentuk leher — mirip model pashmina zararena/ponytail

Larangan jilbab yang bersanggul ini datang sendiri dari nabi Muhammad SAW seperti yang terlihat pada gambar di atas. Rasullullah bersabda “ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: 1. Suatu kaum yang memiliki cemeti seperti ekor lembu untuk memukul manusia dan, 2. Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti bonggol unta yang bergoyang-goyang. Wanita yang seperti itu tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan baunya dapat tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim)

Seorang muslim memiliki kepribadian sendiri yang membedakannya dan menjadikannya istimewa dari yang non muslim. Karenanya Allah Ta’ala menghendaki agar dia nampak berbeda dari selainnya dari kalangan kafir dan musyrik, demikian pula Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan jangan sampai seorang muslim menyerupai orang kafir. Beliau sangat mengharamkan tasyabbuh kepada orang kafir dari sisi penampilan luar karena bisa mengantarkan kepada tasyabbuh dari sisi iman dan keyakinan.

**********

Na’am, kalaupun saya posting tentang hal-hal di atas bukan berarti cara berpakaian saya sudah baik lho. No no no.. laa laa laa.. tidaaak! *hayah*. Saya sendiripun masih berproses untuk mengenakan pakaian sesuai syariat dengan lebih baik lagi. Saya masih diingatkan suami untuk memakai daleman jilbab agar anak rambut ngga keluar, masih diingatkan memakai kaos kaki ketika keluar rumah, masih diingatkan untuk memakai manset tangan agar ketika lengan baju saya tertarik maka lengan saya tidak terlihat, dan masih banyak lagi hal perlu saya perbaiki.

Tujuannya adalah mari bersama-sama memperbaiki diri agar niat baik kita untuk berjilbab diikuti pula dengan kesesuaian terhadap syariat untuk menggapai ridho Allah, insya Allah.

Sudah seharusnya kita meneladani para shohabiyah di masa Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-dalam berlomba-lomba menunaikan perintah Allah, khususnya terkait dengan jilbab.

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

Smoga kita semua diberkahi keistiqomahan dalam mentaati syariat Allah. Amin :)

3 Comments

  1. Pingback: Hijab atau Jilbab? « line of my life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s