Ketika Hati Harus Memilih

moms

Bismillah…

Terkadang kita harus melepaskan sesuatu yang besar, untuk kemaslahatan yang -insya Allah- lebih besar

Alhamdulillah, mulai 1 April 2012 ini saya resmi resign dari kantor dimana saya bekerja selama kurang lebih 6 tahun ini. Walaupun sampai saya menulis ini Surat Keputusan Direksi untuk pemberhentian saya belum turun, tapi karena berdasar surat resign saya terhitung per 1 April 2012, maka mulai tanggal itulah saya non aktif dari kantor.

Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan untuk resign, terutama sejak anak saya -Khansa- lahir.

Walaupun dia masih kecil, namun seiring berjalannya waktu, dia akan semakin membutuhkan sentuhan ibunya, terutama dalam masalah pendidikan. Saya tahu bahwa ilmu saya baru seuprit, tapi insya Allah saya ingin mendidiknya dengan tangan saya sendiri. Mengajarinya mulai dari hal-hal kecil seperti merangsang motorik halus dan kasarnya, hingga mengenai adab dan akhlak, dimana hal-hal ini tidak bisa saya pasrahkan begitu saja ke khadimah.

Kedua orangtua saya dan zauji alhamdulillah bisa menerima resign ini dengan legawa. Mereka menyerahkan sepenuhnya di tangan saya dan zauji. Walaupun tidak terucap, tapi mungkin ada rasa eman-eman di dalam pikiran mereka, karena sebagai orangtua mereka mengetahui dan mengalami sendiri bagaimana rasanya keadaan rumah tangga ketika masih dalam tahap piyik alias masih awal-awal pernikahan.

Eman-eman, kata yang sering terucap ketika mengetahui saya akan resign, baik teman kantor, tetangga, bahkan petugas di agen pemaketan JNE yang sering saya temui mengatakan demikian :)

Dikala orang susah untuk mendapat pekerjaan dan membutuhkan materi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi saya yang sudah memilikinya malah meletakkan (bukan membuang yah ;p ) kesempatan tersebut. Bahkan atasan saya berulang kali menyuruh saya untuk mempertimbangkan niat resign saya. Selain tenaga saya masih dibutuhkan kantor, beliau meminta saya untuk menghitung-hitung berapa rupiah yang saya lewatkan kalau saya sampai berhenti kerja. Ditambah lagi kata-kata bahwa kebutuhan hidup semakin lama semakin bertambah.

Ya, jujur saya sempat mengalami “dilema materi” tersebut. Bagaimana nanti kalau saya tidak bekerja, sedangkan keperluan kami masih sangat banyak. Apalagi kami saat ini masih mengontrak rumah, sepertinya akan semakin jauh keinginan kami memiliki rumah apabila berasal dari satu pintu pendapatan. Ditambah lagi tekad saya dan zauji (insya Allah) untuk tidak menggunakan bank dalam mewujudkan keinginan kami tersebut karena khawatir masuk ke dalam jerat riba yang sangat keras siksanya di sisi Allah. Na’udzubillahi mindzalik.

Namun pada akhirnya, saya tetap mantap untuk mengambil keputusan resign dari kantor.

Terkait dengan materi, saya bertawakal pada Allah. Bukankah Allah maha luas rizkinya? Dia-lah yang Maha Kaya dan penguasa alam semesta. Bagaimana saya bisa meragukan kekuasaan Allah dalam hal rizki?

Sebagaimana umur, maka rizki kita pun sudah ada jatahnya masing-masing. Takkan tertukar rizki satu orang dengan yang lainnya. All we have to do is ikhtiaar, yaitu berusaha disertai doa untuk menjemput rizki Allah tersebut.

Dan bukankah Allah telah berjanji dalam satu firmannya?

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka,,” (At-Thalaq: 2-3)

Maka insya Allah, tidak ada kekhawatiran untuk hal tersebut. Memang akan ada penyesuaian dalam hal pengeluaran, mengurangi jajan dan pengeluaran tidak perlu, menabung agar bisa pulkam, tapi insya Allah kami bisa melaluinya, dengan mengharap pertolongan Allah tentunya :)

Na’am, kalaupun saya terus memaksakan diri untuk bekerja, ada beberapa hal yang menjadi beban pikiran saya.

Hal yang utama yaitu mengenai anak.

Seperti yang saya tulis di awal. Saya tidak bisa memasrahkan masalah adab, akhlak dan keilmuan lainnya kepada khadimah. Isi pikiran saya dan khadimah jelas berbeda karena kami tumbuh dengan lingkungan yang berbeda. Beliau punya banyak kelebihan dibandingkan saya dalam masalah perawatan anak. Namun ada hal-hal prinsipal dalam masalah agama yang berbeda antara saya dan beliau.

Juga postingan salah satu teman SMA saya yang pernah saya bahas di sini, masih terngiang-ngiang di dalam pikiran saya.
“Perempuan yg b’pendidikan tinggi itu sebaiknya kembali ke rumah utk menerapkan ilmunya dgn mendidik anaknya bukan mengejar karir, krn jika mengejar karir pasti anak akan diasuh oleh orang lain yang lulusan SD/SMP/SMU jadi jangan berharap punya anak yang attitude seperti orangtuanya yg lulusan universitas karena kenyataannya mereka memberi kesempatan anaknya menghabiskan waktu lbh banyak sama si pengasuh di rumah”

Keluarga adalah madrasah pertama anak, dengan ayah dan ibu sebagai gurunya. Saya sadar dengan kadar keilmuan saya yang masih sedikit, terutama masalah agama. Tapi saya menginginkan anak saya bisa mengenal dan memahami syari’at lebih baik daripada saya. Sama dengan keinginan ummahat lain, saya mendoakan Khansa (dan adik-adiknya,insya Allah) agar bisa menjadi hamba Allah yang membawa berkah kebaikan dan manfaat di dunia dan akhirat, termasuk diantara doa tersebut adalah harapan agar mereka bisa menjadi hafidz/hafidzah Al Qur’an. I’ll try to do my best to teach her (them) that, walaupun hafalan saya masih sangat minim (hiks). Bi idznillah, semoga Allah memudahkan kami dalam mendidik anak (-anak) kami, terutama di dalam masalah syari’at.

Selain itu kalo masih bekerja,ada kemungkinan di kemudian hari saya akan diminta untuk pergi dinas luar. Walaupun mungkin tidak terlalu lama dan tempatnya dekat hanya di seputaran Jawa Barat, tapi tetap saja saya tidak tega meninggalkan anak saya di rumah hanya bersama suami (khadimah ngga nginep * kalo nginep kayaknya bakal lebih repot lagi yaa, masa dua orang dewasa bukan mahrom dalam satu rumah* ).

Dulu pernah saya terlambat pulang ke rumah 2 jam karena menengok teman kantor yang melahirkan, itupun Khansa sudah ribut nyariin. Kata zauji, si Khansa bolak balik keluar masuk kamar satu ke kamar yang lain, ke ruang tengah, mencari-cari ibunya. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan kalo sampai semalaman pisah, ngga kuat rasanya (lebay yo ben tapi memang begitulah adanya :D ).

Untuk masalah dinas selama ini saya bisa menolak dengan alasan anak masih kecil dan masih ASI ekslusif, tapi semakin besar anak, saya tidak bisa terus menerus memakai alasan tersebut kan? Alhamdulillah yang sekarang pimpinannya baik, saya diperbolehkan brangkat siang, dan waktu makan siang saya bisa pulang ke rumah selama kurang lebih 1,5 – 2 jam untuk ngurus anak. Tapi bagaimana kalo ada pergantian pimpinan and I get the strict one? brangkat harus pagi, jam makan siang harus tepat untuk kembali bekerja, kalau ada perintah dinas harus taat, oh nooo. Waktu yang selama ini saja kurang kok untuk berinteraksi dengan Khansa karena dia lebih banyak waktu bangun ketika siang hari, apalagi kalo dikurangi lagi.

Perjalanan dinas itupun akan menimbulkan masalah tersendiri, karena sepemahaman saya -berdasarkan syari’at- tidak diperbolehkan seorang wanita bepergian tanpa mahram.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahramnya.” Kemudian seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah ! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Keluarlah bersama istrimu (menunaikan haji).” (Dikeluarkan hadits ini oleh Muslim dan Ahmad)

Ok, you might say neko-neko n sempit amat sih. Ini ngga boleh itu ngga boleh. Tapi coba pandangan kita diperluas lagi. Ketentuan ini adalah bentuk perlindungan dari Allah terhadap kaum wanita. Sadarkah kita akan hal ini? Kalo terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan, siapa yang akan menjaga wanita tersebut? sudah banyak peristiwa di sekitar kita yang terjadi akibat tidak mengindahkan tuntunan Rasulullah tersebut, na’udzubillah.

Kembali mengenai anak, saya agak merasa “trauma” ketika Khansa sakit herpes di usia 8 bulan. Alhamdulillah tidak sampai menyebar kemana-mana. Dokter bilang kemungkinan karena banyak yang menggendong kesana kemari. Na’am, ketika saya bekerja, siapa yang tahu Khansa kemana saja. Saya tentu saja tidak su’udzon dengan khadimah saya, beliaupun mungkin ada keperluan atau ingin sejenak keluar mampir ke tetangga, pun sakitnya Khansa adalah qodarullah. Namun tentu saja sebagai orangtua saya merasa bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada anak saya. Termasuk menghindarkannya dari kemadhorotan. Apabila saya di rumah, insya Allah waktu dan tempat dimana anak saya bermain akan lebih terpantau.

And one another main reason. Let this hadeeth do the talk *can you see the bold one? :)

Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. (Shahih Muslim No.3408)

So, here I am. Memulai langkah baru sebagai stay at home mom. Mudah-mudahan ini menjadi keputusan yang membawa berkah kebaikan untuk semuanya :)

Saatnya memanfaatkan sisa usia untuk mengabdi pada keluarga
Ketika hati harus memilih, dengan hati pulalah kita menentukan pilihan..

Good bye office..
Welcome… home ^^

6 Comments

  1. Akhirnya!!!!… Semoga lebih focus ngabdi untuk keluarga, nusa dan bangsa……hehehe.
    Tak akan berat untuk kita mengambil keputusan itu, jika kita melihat manfaat yang jauh lebih besar daripada sekedar mengejar karir atau materi…
    Mungkin banyak yang menyayangkan keputusan itu….Tapi anti lebih sayang pilihan itu…coz itulah yang terbaik
    Semoga barakah umm!!!
    Bakalan makin pinter nih adik khansa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s