Say No to Credit Card

creditcard

Tulisan ini terinspirasi dari postingan teman di salah satu grup FB yang saya ikuti.

Dia memposting bahwa ada salah satu tetangganya yang terjerat hutang kartu kredit yang menyebabkannya harus menggadaikan rumah, padahal notabene dia adalah seorang dokter yang berpenghasilan lebih dari cukup. Tak disangka bahwa sifat konsumtifnya akan barang-barang elektronik dan furniture membawanya kepada jerat kartu kredit. Naudzubillahi mindzalik.

Saya pribadi memang tidak menyukai yang namanya kartu kredit ini. Selain bisa membawa kita kepada gaya hidup konsumtif (karena diberikan kemudahan “tinggal gesek”), yang utama adalah sisi keharamannya karena mengandung riba.

Hal ini bisa kita baca dari nukilan hukum kartu kredit dari artikel di sini dan di sini sebagai berikut :

*********

Pertanyaan: Ada sejumlah bank yang memberikan pelayanan kartu kredit kepada nasabahnya dengan nama kartu Visa. Kartu ini memungkinkan pemakainya mengambil uang dari bank meskipun saat itu mereka tidak memiliki uang di rekening mereka. Setelah waktu tertentu, pihak nasabah diharuskan membayar kembali uang yang telah diambil dan jika dia tidak melakukan pembayaran pada waktunya maka pihak bank akan memberi biaya tambahan lebih besar dari uang yang diambil.

Peraturan ini dikenakan bagi nasabah yang melakukan pembayaran setiap tahun karena memakai kartu kredit tersebut. Saya mohon penjelasan dari anda tentang hukum berkaitan dengan penggunaan kartu kredit ini. Apakah ada kondisi tertentu (kondisi khusus) yang menyebabkan pemakaian kartu kredit dilarang? Semoga Allah memberi balasan kepada anda dengan kebaikan.

Jawab:

Model transaksi seperti ini adalah dilarang (haram) karena di dalamnya terdapat persetujuan untuk membayar bunga bila pembayaran yang dilakukan tidak tepat pada waktunya. Bentuk muamalah (kesepakatan) seperti ini dilarang, meskipun orang tersebut merasa yakin bisa melakukan pembayaran tepat pada waktunya. (Karena) sangat mungkin keadaan berubah yang menyebabkan ia tidak bisa membayar kewajibannya tepat waktu. Dan karena ini sebuah permasalahan yang menyangkut masa yang akan datang, seseorang tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang itu. Karenanya, transaksi model ini adalah tidak boleh.

[Asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin, Silsilah Kitab Ad-Dakwah (12), Al-Fatawa – Jilid 3, halaman 120-121]

(www.fatwaonline.com)

**********

Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ ditanya :

Kartu Kredit (Credit Card) diberikan oleh beberapa perusahaan dengan pinjaman tertentu yang bisa diajukan ke pihak mana pun juga, di mana seseorang bisa mengambil dana yang ada pada kartu tersebut. Kemudian bank yang akan membayar tagihan itu kepada perusahaan yang memberikan kartu dan mengambil yang menjadi haknya. Pinjaman ini dengan tenggang waktu tertentu yang disebutkan di dalam kartu. Jika pemegangnya membayar sebelum jatuh tempo maka tidak ada denda baginya. Dan jika terlambat maka dia harus membayar denda 1%. Dan sebagian perusahaan ada yang meberikan sejumlah uang atas pelayanan ini sebagai imbalan peberian kartu.

Jawaban:

Jika kenyataannya seperti yang disebutkan, yaitu adanya kesepakatan bahwa jika peminjam melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo maka tidak akan dikenakan denda apapun adanya. Dan jika terlambat maka dia harus membayar tambahan 1% dari dana yang ada. Maka yang demikian itu termasuk akad yang berbau riba, di mana di dalamnya masuk riba fadhl, yaitu riba karena adanya penambahan. Juga riba nasi’ah yaitu riba karena adanya penanggungan pembayaran. Demikian juga dengan hukum, jika perusahaan membayar uang dan mengambil tambahan padanya sebagai imbalan atas pelayanan ini, bahkan yang kedua ini lebih jelas mengandung riba daripada yang pertama.

Wabillaahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 5832 (13/523).

Yang menandatangani fatwa ini:

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.

*********

Padahal keharaman riba ini telah disebutkan dalam salah satu firman Allah-subhanahu wata’ala- yang disertai dengan adzab bagi pelaku riba :

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُوْنَ. يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (mengambil riba) maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menumbuh-kembangkan sedekah2. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 275-276)

Walaupun mungkin ada yang menggunakan kartu kredit hanya untuk menikmati fasilitas yang ada di dalamnya (misalnya disc makanan di resto, disc penerbangan, dll), ataupun ada juga yang menggunakannya untuk berjaga-jaga alias just in case membutuhkan dana darurat, tapi saya rasa kenikmatan dan rasa “nyaman” itu tidak sebanding dengan laknat Allah atas pelaku riba.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba dan yang memberi riba.”
Ketika mendengar hadits tersebut dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ‘Alqamah berkata: “(Apakah laknat juga ditujukan kepada) juru tulisnya dan dua saksinya?” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang kami sampaikan hanyalah yang kami dengar (dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Akan tetapi pada hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, pertanyaan ‘Alqamah di atas terjawab. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba, memberi riba, juru tulisnya dan dua saksinya. Beliau mengatakan: ‘Mereka itu sama’.”

Dua hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya, kitab Al-Musaqat, bab Lu’ina Akilur Riba wa Mu’kiluhu, no. 4068 dan 4069.

Subhanallah, dari contoh kasus yang saya sebutkan di atas benarlah salah satu hadits Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-

مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلاَّ كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ

“Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan riba kecuali akhir dari perkaranya adalah hartanya menjadi sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 2279, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Ibnu Majah dan Shahihul Jami’ no. 5518)

sumber di sini

Dari ulasan di atas, insya Allah bisa kita ambil kesimpulan bahwa credit card (yang notabene identik dengan riba) adalah sesuatu yang tidak membawa kemaslahatan sama sekali. Mungkin pada awalnya ada banyak kenikmatan dan kemudahan, tapi pada akhirnya hanya mudharat yang akan kita dapat. Terlebih jika kita melihat pada adzab Allah atasnya di akhirat nanti.

Berperilaku “nrimo”, berusaha hidup apa adanya dan bersyukur dengan rizki Allah berapapun yang kita dapat insya Allah akan lebih membawa kenikmatan hidup pada kita. Kalo belum sanggup untuk membeli sesuatu maka TAHAN. Jangan memaksakan diri pada sesuatu yang akan membawa pada hal yang diharamkan Allah, dan bahkan bisa menyebabkan doa kita terhalang.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para rasul”.

Allah berfirman.
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”. [Al-Baqarah : 172].

Dan firman Allah : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Mukminuun : 51]

Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang lusuh mengangkat kedua tangannya ke arah langit berdoa : ‘Ya Rabi, ya Rabbi tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram serta darah dagingnya tumbuh dari yang haram, bagaimana doanya bisa dikabulkan .?” [Shahih Muslim, kitab Zakat 3/85-86]

Wallahu a’lam.

Smoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang diharamkannya dan memberkahi petunjuk kita agar selalu istiqomah di jalan-Nya.

Jadi, masih mau pake credit card? :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s