Panggilan Jiwa Itu di Rumah

hati

Alhamdulillah paska resign dari kantor sudah memasuki hampir bulan ketiga -insya Allah-.. dan sampai saat ini selalu mensyukuri keputusan yang sudah saya ambil beberapa waktu lalu tersebut :)

Bersyukur karena waktu anak sakit saya bisa full konsentrasi di rumah, mencurahkan waktu merawatnya tanpa perlu mendengar deringan telpon dari kantor yang menanyakan masalah pekerjaan

Bersyukur bisa mengetahui perkembangan anak waktu demi waktu, sekecil apapun progress yang sudah dia peroleh, baik perkembangan dalam perkataan maupun perbuatannya

Bersyukur bisa lebih maksimal dalam menstimulasi perkembangannya agar menjadi lebih baik setahap demi setahap, insya Allah

Bersyukur apabilaterserang kantuk di siang hari bisa istirahat bersama Khansa tanpa harus curi waktu di mushola ataupun tertunduk di meja komputer kantor :D

Tentu saja ada beberapa penyesuaian, salah satunya mengenai masalah finansial. Maklum, selama 6 tahun bekerja -alhamdulillah- berada di zona nyaman (secara materi). Sehingga sesudah resign tentu saja ada beberapa hal yang perlu di-adjust, terutama mengenai pengeluaran. Alhamdulillah sudah mulai mengurangi jajan yang ngga perlu. Ya, sesekali beli siomay kalo pas ada rizki boleh saja :) . Intinya ada pada diri masing-masing. Selama kita enjoy, berusaha menikmati, dan berusaha hidup apa adanya insya Allah we’re gonna be fine ^^

Satu hal yang ingin saya garis bawahi (bahasane nota dinas bangettt xixxii) yaitu adanya komentar beberapa teman dan saudara saya setelah mengetahui saya resign. Apa komentar mereka?kurang lebih seperti ini..

“Salut **** (sebut nama), pengen banget kaya kamu, tapi saat ini belum bisa”

Ya, komentar bernada sama diucapkan tidak hanya satu, tapi beberapa orang teman saya yang saat ini masih bekerja. Fenomena apakah iniiii? *jangan lebay donk ah*

Kalo boleh saya simpulkan (boleh donk, kan ini blog saya xixi *maksa*), seorang wanita alias ibu itu jauuuuuh di lubuk hati terdalamnya ingin berada di rumah, merawat anaknya dan mengelola rumah tangga dengan sebaik-baiknya.

Kalopun saat ini mereka belum bisa melakukannya yaitu being a stay at home mom, rata-rata karena alasan finansial. Alasan sama yang saya pergunakan dulu ketika masih bekerja. Niat ingin membantu suami dalam hal pemasukan, ingin membantu keluarga/saudara, dan lain-lain.

Selain itu juga niat ingin mengaktualisasikan diri beserta ilmu yang dimiliki. Padahal self actualization bisa kita “tumpahkan” di dalam proses mendidik anak dan memanage rumah tangga ya :D. Hellow, menjadi ibu rumah tangga bukan hal yang mudah lho, memerlukan skill yang cukup banyak. Mulai dari memanage waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, memasak, bermain bersama anak dan mendidik mereka, mengelola finansial keluarga (termasuk untuk kebutuhan kedepannya), belum lagi kalo ada yg harus jadi” ojek/supir” bagi yang mengantar anaknya sekolah, dll..

Mungkin juga saat ini mereka masih mengurungkan niat untuk resign karena ada faktor eksternal, misalnya keluarga yang tidak mendukung jikalau anaknya “hanya” menjadi ibu RT. Eman-eman sudah dikuliahkan tinggi-tinggi hanya jadi ibu rumah tangga.

Eittsss… siapa bilang hasil kuliah (atau sekulah) dan ilmu yang didapat itu tidak bermanfaat dalam meniti karir sebagai ibu RT?

Saya jadi teringat pada status fb teman saya yang pernah saya bahas di sini

“Perempuan yg b’pendidikan tinggi itu sebaiknya kembali ke rumah utk menerapkan ilmunya dgn mendidik anaknya bukan mengejar karir, krn jika mengejar karis pasti anak akan diasuh oleh orang lain yang lulusan SD/SMP/SMU jadi jangan berharap punya anak yang attitude seperti orangtuanya yg lulusan universitas karena kenyataannya mereka memberi kesempatan anaknya menghabiskan waktu lbh banyak sama si pengasuh di rumah”

Merasa tertampar? SAMA. Saya juga waktu membaca ini merasa tertohok :D

Just for notice, saya tuliskan kembali status fb teman saya tersebut bukan berarti nge-judge atau menggeneralisir bahwa semua anak yang mempunyai ibu bekerja seperti itu keadaannya ya. Sama sekali tidak. Insya Allah para ummahat cukup cerdas untuk mengambil bright side atawa hikmah dari tulisan tersebut daripada memperdebatkannya :)

Kembali ke topik awal. Mencermati komentar beberapa teman saya di atas, sepertinya memang sudah fitrahnya seorang wanita untuk berada di rumah.

Benarkah demikian? coba tanyakan pada hatimu wahai ibu ^^

Hanya ingin mengutip perkataan salah seorang ulama besar…

Asy-Syaikh Ibnu Baz Rahimahullaah berkata:
“Mengeluarkan wanita dari rumah untuk bekerja sementara rumahnya itu adalah kerajaannya dalam kehidupan ini sama artinya mengeluarkan si wanita dari tabiat dan fitrahnya yang Allah ciptakan dia di atas tabiat dan fitrah tersebut.” (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fi Maidanil Amal, hal. 4) >> taken from here

Na’am,  sayapun masih dalam proses belajar untuk menjadi seorang ibu. Beberapa waktu lalu ketika membaca majalah Akhwat, terdapat satu artikel menarik berjudul Didiklah Anak-Anakmu! karya Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdurrahman asy Syatsri,  yang membawa semangat bagi saya dalam melalui proses ini.

Cukuplah balasan dari Allah yang kita harapkan dengan mendidik anak kita di rumah, seperti sabda Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- :

“Sungguh bila salah seorang diantara kalian mendidik anaknya, maka hal itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah tiap hari setengah sha’ kepada orang miskin” (diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al Muj’am Al Kabir)
>> taken from majalah Akhwat vol 16 /1433 H/2012 hal 79,dari artikel berjudul Didiklah Anak-Anakmu!


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s