Olshop Story : Hormati Hak Buyer!

Sebagaimana sering kita lihat di dalam salah satu terms and conditions di online maupun offline shop akan adanya ketentuan “barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan”, maka kita perlu menilik kembali apakah persyaratan tersebut sesuai dengan syariat ataukah tidak?

Hal ini bisa kita baca bersama pada artikel berikut yang saya copas dari sini :

**********

Penulis: Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiyah Saudi Arabia

Tanya:”Bagaimanakah pandangan hukum syar’I mengenai tulisan yang menyebutkan: Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau di tukar yang ditulis oleh beberapa pemilik toko pada faktur/kwitansi yang mereka keluarkan. Apakah menurut syari’at syarat seperti ini dibolehkan? Dan bagaimana nasehat anda mengenai masalah ini?

Jawab: Menjual barang dengan syarat bahwa barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan dan ditukar adalah tidak boleh, karena syarat tersebut tidak dibenarkan. Sebab, didalamnya mengandung mudhorot (=ketidak maslahatan). Selain itu, karena tujuan penjual melalu syarat tersebut agar pembeli harus tetap membeli barang tersebut meskipun barang tersebut cacat. Persyaratannya ini tidak melepaskannya dari cacat yang terdapat pada barang. Sebab, jika barang itu cacat, maka dia boleh mengembalikannya dan menukar dengan barang yang tidak cacat, atau pembeli boleh mengambil ganti rugi dari cacat tersebut. Selain itu, karena pembayaran penuh itu harus diimbangi dengan barang yang bagus dan tidak cacat. Tetapi dalam hal ini, penjual yang mengambil dengan harga penuh dengan adanya cacat pada barang merupakan tindakan yang tidak benar. Di sisi lain, syari’at telah memberlakukan syarat-syarat yang sudah biasa berlaku sama seperti syarat berupa ucapan. Hal ini dimaksudkan agar pembeli selamat dari cacat, sehingga dia dapat mengembalikan barang yang sudah dibeli jika terdapat cacat padanya, karena persyaratan barang dagangan bebas dari cacat menurut hukum kebiasaan yang berlaku, berkedudukan sama seperti persyaratan yang diucapkan.

Wabillahi Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa meleimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Al-Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyah Wal Ifta’, Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayan. Anggota: Syaikh Sholih Al-Fauzan. Anggota: Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh. Anggota: Syaikh Bakr Abu Zaid

Catatan Kaki:1) Lembaga tetap Kajian Ilmiyah dan Pemberian Fatwa Saudi Arabia.

Sumber: Fatwa Lajnah Daimah, Kitab Buyuu’. Fatwa no. 13788

**********

Ya, hal ini sepertinya yang kurang menjadi perhatian bagi para penjual, termasuk saya pada awal ber-onlineshop-ria. Ketika saya menulis syarat tersebut pada salah satu proses transaksi, zauji seketika memprotes dan meminta saya untuk menghilangkan syarat tersebut.

Para penjual mungkin tidak tahu (atau belum tahu) bahwa pembeli mempunyai hak khiyar (memilih) , sebagaimana hak ini juga dimiliki oleh penjual.

Apakah khiyar itu?

“Khiyar (memilih) dalam jual beli maknanya adalah memilih yang terbaik dari dua perkara untuk melangsungkan atau membatalkan akad jual beli.”

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Dua orang penjual dan pembeli berhak untuk khiyar selama keduanya tidak berpisah. Apabila keduanya jujur dan menjelaskan (hakikat dari barang-barangnya), maka berkah bagi keduanya dalam jual beli. Akan tetapi apabila keduanya dusta dan menyembunyikan aib barangnya, maka terhapuslah berkah jual belinya.” (Shahih dalam Shahihul Jami’ :2897, Al Albany)

Sebagaimana tulisan dari Syaikh Shalih bin Fauzan Abdullah Alu Fauzan berjudul Khiyar (memilih) dalam Jual Beli, diantara salah satu khiyar yang saya amati (dan saya alami) kurang diperhatikan seller adalah Khiyar Aib.

Yaitu khiyar bagi pembeli yang disebabkan adanya aib dalam suatu barang yang tidak disebutkan oleh penjual atau tidak diketahui olehnya, akan tetapi jelas aib itu ada dalam barang dagangan sebelum dijual.

Adapun ketentuan aib yang memperbolehkan adanya khiyar adalah dengan adanya aib itu biasanya menyebabkan nilai barang berkurang, atau mengurangi harga barang itu sendiri.

Adapun landasan untuk mengetahui hal ini kembali kepada bentuk perniagaan yang sudah terpandang, kalau mereka menganggapnya sebagai aib maka boleh adanya khiyar, dan kalau mereka tidak menganggapnya sebagai suatu aib yang dengannya dapat mengurangi nilai barang atau harga barang itu sendiri maka tidak teranggap adanya khiyar.

Apabila pembeli mengetahui aib setelah akad, maka baginya berhak khiyar untuk melanjutkan membeli dan mengambil ganti rugi seukuran perbedaan antara harga barang yang baik dengan yang terdapat aib. Atau boleh baginya untuk membatalkan pembelian dengan mengembalikan barang dan meminta kembali uang yang telah dia berikan.

Saya garis bawahi dan saya bold tulisan “saya alami” karena baru saja minggu lalu saya mengalami tidak mendapat hak khiyar aib ini dari supplier saya, dan saya merasa TERDZOLIMI (huruf kapital salah satu pertanda esmosi).

Ceritanya saya membeli sejumlah barang secara grosir di supplier, dan setelah barang saya terima, saya dapati bahwa 2 dari 4 barang yang saya pesan rusak. Ketika saya complain ke supplier dia bilang bahwa akad sudah jelas dari awal bahwa barang grosir tidak dicek dan tidak bisa retur. Mereka hanya bisa membantu repair (dengan ongkir keseluruhan ditanggung saya as buyer).

Yes, she already said to me that condition, tapi apakah hal ini ADIL? Saya menghabiskan sekian ratus ribu just for NOTHING! It means, saya membeli BARANG RUSAK donk!

Sepanjang pengalaman saya di beberapa supplier lain, mereka memperbolehkan untuk complain jika ada kerusakan dan memperkenankan retur barang (dengan batas waktu klaim 1×24 jam setelah barang diterima). Jadi ketika saya mendapati persyaratan “aneh” dari supplier yang ini cukup membuat saya tersulut emosi. Maklum, uang yang saya keluarkan tidak sedikit untuk membeli barang tersebut.

Maka berdasar pengalaman dan pengetahuan (yang masih harus terus ditambah) mengenai adab-adab perdagangan, maka -insya Allah- menjadi pelajaran bagi saya dalam bertransaksi dengan buyer sehingga -insya Allah- tidak ada pihak yang terdzolimi.

Yuk sama-sama belajar adab perniagaan agar tidak menyalahi ketentuan yang dituntunkan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- sehingga kegiatan perdagangan kita menjadi berkah bagi semuanya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s