Belenggu Gaya Hidup Konsumtif?

Kemarin saya membaca artikel di majalah Asysyariah no 81/VII//1433 H/2012 berjudul “Gaya Hidup Konsumtif Mencengkeram Anak-Anak” Kita oleh ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran.

Apa yang disampaikan beliau sangat mengena bagi saya. Walaupun di dalam judulnya lebih fokus ke gaya konsumtif pada anak-anak, tapi isi artikel bisa berlaku untuk umum.

Di dalam artikel tersebut, di awalnya menyebutkan mengenai fenomena blackberry yang menimpa para kaum muda (dan kaum tua sepertinya :D.. hayo ngakuu xixi.. ), dimana mereka membelinya walaupun belum tentu membutuhkan gadget tersebut. Bisa jadi hanya karena gengsi, sekedar tampil “wah”, ataupun agar tidak dibilang gaptek/gagap teknologi (kampungan).

Saya sebenarnya merasa tersentil dengan artikel tersebut, karena pernah ingin mempunyai beberapa gadget, termasuk blackberry. Bukan karena  gengsi ataupun tidak ingin dibilang kampungan lho (lha wong saya emang orang kamfung xixi) tapi untuk kebutuhan online shop.

Hal ini berdasar pengalaman beberapa rekan pedagang online yang merasa terbantu dengan adanya BB sehingga impactnya omzet jadi meningkat. Selain itu juga pengalaman saya sendiri yaitu adanya puluhan customer yang menanyakan “ada pin BB ngga?”.  Walah.. mba..mba saya ngga punya blekberi, yen blekkrupuk aku nduwe wekekek…

Yaa.. memang sih, mungkin dengan adanya BB bisa mempermudah customer-seller berkomunikasi melalui BBM. Tapi kemudian niat ini saya urungkan karena ada hal lain yang lebih layak untuk didahulukan daripada blekberi. Sepertinya juga lebih urgent beli lemari makan -yang belum terealisasi karena menunggu keuangan lega- padahal kardus yang jadi penyangga magic com dll sudah miring kaya menara pisa hehehe… *mesakne* . Hanya bisa berucap bismillah.. smoga Allah mempermudah usaha saya walaupun saat ini tanpa bebeh :D

Oya, talking about konsumtif (dan impulsif  *dasar wanita*).. duluuu juga sempet pengen beli leptop. Maklum leptop yang saya pakai sekarang keyboardnya sudah rusak. Jadi kalo mau berlaptop ria harus menggunakan banyak perangkat yang bergandulan seperti hub, keyboard tambahan segedhe gaban (lebay), dan mouse. Tapi kemudian ngga jadi. Zauji bilang untuk bersabar dulu, karena usai zauji kuliah laptop yang dipakainya insya Allah nganggur karena biasanya dapat jatah dari kantor. Jadilah, sampe sekarang menggunakan laptop jadul dengan segala perlengkapan perangnya, dan -alhamdulillah- bersyukur masih ada laptop ini yang bisa membantu browsing, membuat laporan keuangan, buka lapak dll. Bahkan kemarin pas laptop zauji makbedunduk rusak, laptop jadul ini membantu zauji mengerjakan tugas kuliahnya, walaupun dengan kemampuan apa adanya :D

Walah, mau mengulas tulisan ustadzah ummu abdirrahman bintu imran kok malah curcol xixixi… *ngga fokus*

Selanjutnya dalam uraiannya tersebut beliau menukil satu hadits (yang sangat mengena bagi saya ;p) …

Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- pernah mengingatkan :

“Sesungguhnya Allah ridha atas kalian tiga hal dan membenci atas kalian tiga hal. Dia ridha (1) kalian beribadah hanya kepada-Nya semata (2) kalian tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun , dan (3) kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak tercerai berai. Dia membenci atas kalian (1) banyak menukil berita (2) banyak bertanya, dan (3) menghambur-hamburkan harta” (HR Muslim no 1715)

Beliau -penulis- menasihatkan mengenai Hakikat Kehidupan Dunia  yang fana dan amat rendah. Apabila kita buka lembaran-lembaran kitabullah, niscaya akan kita dapati banyak peringatan Allah akan hina dan fananya dunia ini.

“Berikanlah perumpamaan kepada mereka (manusia) , kehidpan dunia itu seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu dengannya menjadi suburlah tumbuhan-tumbuhan di muka bumi. Kemudian tumbuhan-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia . Sementara itu amalan-amalan yang kekal dan saleh lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Al kahfi 45-46)

Allah juga berfirman

“Tiadalah kehidupan dunia ini selain kelalaian dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui” (Al ankabut : 64)

Dan hal ini pun tercantum dalam beberapa hadits sebagaimana berikut

Seorang sahabat, al -Mustaurid bin Syaddad menyampaikan bahwa Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda :

“Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat selain seperti salah seorang diantara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan (kemudian diangkat kembali-pen). Lihatlah apa yang dibawa kembali oleh jarinya itu?” (HR Muslim no 2858)

Oleh karena itu bliau -penulis- juga menasihatkan agar Zuhud Terhadap Dunia. Zuhud disini adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi diri kita di akhirat. Dunia bukan lagi sesuatu yang mulia dan pantas dipuja, sehingga tidak lagi mengejarnya, dan justru berbalik mengejar akhirat. Dunia hanya dijadikan sarana untuk meraih kehidupan bahagia yang hakiki di negeri akhirat nanti. Dia hanya mengambil sesuatu yang bermanfaat di akhirat.

Untuk itu pada akhir artikel beliau tuliskan, selain berbekal sikap zuhud terhadap dunia, juga membiasakan diri (dan anak-anak kita) untuk bersyukur dengan apa yang ada.

Tidak semua apa yang dimiliki orang lain harus kita miliki pula. Bahkan kalo kita mau membuka mata, betapa banyak orang yang tidak mampu memiliki apa yang kita miliki.

Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kita..

“Lihatlah orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan memandang orang yang ada di atas kalian, karena yang demikian ini lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian (HR Muslim no 2963)

Beliau juga bersabda..

“Apabila salah seorang diantara kalian melihat orang yang dilebihkan harta dan bentuk rupanya, hendaknya dia melihat pada orang yang lebih rendah darinya (HR Al Bukhari no 6490)

Demikian, smoga ulasan di atas membawa manfaat bagi diri kita (terutama saya hiks..), dan insya Allah bisa kita pahami dan amalkan sehingga mendapatkan kebaikan atasnya. Artikel lengkapnya bisa dibaca di Asysyariah no 81/VII//1433 H/2012 halaman 86.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s