House Hunt

home

Sudah menjadi impian bagi banyak keluarga untuk mempunyai rumah milik sendiri. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperolehnya, sebagian besar mungkin memperolehnya melalui proses pengajuan KPR di bank. Tapi kami tidak memilih melalui jalan tersebut, insya Allah. Sesuai dengan yang kami pahami bahwa sistem yang ada di perbankan saat ini mengandung riba (di bank syariah sekalipun, wallahu a’lam), maka kami memilih untuk menabung sedikit demi sedikit untuk meraih impian kami.

Perjalanan mencari rumah idaman sudah kami lalui selama kurang lebih 4 tahun ini. Ada up and down. Kalo lagi semangat ya browsing internet, tanya kesana kemari, mendatangi rumah-rumah dijual yang kira-kira potensial, baik perumahan baru ataupun lama, baik datang ke kantor marketing maupun ke perseorangan.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya sempat berharap bahwa akhirnya penantian kami akan berakhir dan keluarga kami akan memiliki rumah sendiri. Ternyata.. mari kita simak kisah berikut ini *hayah*

Kisah diawali dengan penemuan zauji di iklan toko ba*us mengenai sebuah rumah mungil dengan harga yang agak terjangkau bagi kami. Memang tabungan kami masih kurang, tapi insya Allah kekurangannya ngga terlalu banyak, dan insya Allah ada keluarga yang sudah menyanggupi untuk membantu.

Pada hari Sabtu tgl 23 Sept yang lalu kami datang ke tempat penjual (sebut saja pak M). Ternyata rumahnya sedang dikontrakkan,dan penghuni rumah saat itu ngga ada jadi kami ngga bisa masuk. Penilaian sekilas sih saya suka, bentuknya minimalis dengan cat warna biru (warna kaporit saya dan zauji), dan ada taman kecil di depan rumah. Utk ukuran memang lumayan minimalis juga, dengan luas 66 m2. Tapi insya Allah tidak menjadi masalah bagi kami. Nilai plusnya lagi rumah tersebut dekat dengan musholla, pasar, rumah sakit dan angkutan umumnya banyak. Nilai minusnya mobil ngga bisa parkir di depan rumah karena gangnya sempit, dan juga tetangga satu gang ada yang memelihara anjing *atuut*

Keesokan harinya kami ke rumah tersebut lagi untuk melihat bagian dalam rumah. Sempet bisik-bisik sama suami, kursi diletakkan dimana, lemari dimana, dagangan dimana (yaa.. namanya juga usaha xixixi.) Kemudian ketika kami hendak nego harga sang empunya rumah menjelaskan kalo sebelum kami sudah ada orang yang datang dan beliau sudah deal hendak membeli rumah tersebut, dan esok senin hendak melihat kelengkapan surat-suratnya. Sebagai seorang muslim, kami memahami adab “tidak boleh menawar dagangan yang ditawar saudaranya”. Oleh karena itu kami menunggu keputusan hari Senin, apakah setelah melihat kelengkapan surat, calon buyer sebelum kami jadi melanjutkan akad jual beli ataukah tidak.

Pada hari Senin zauji mendapat kabar bahwa buyer sebelum kami tidak bisa datang, dan mau reschedule sabtu depan. Tapi pemilik rumah mengatakan bahwa “pak, saya ini kan jualan, jadi siapa cepat dia dapat”. Ya wis, it means terbuka peluang bagi kami utk menawar kembali. Satu hal yang agak mengherankan bagi kami yaituu.. si pemilik rumah yang tempo hari bilang kalo status tanah adalah SHM (sertipikat hak milik), kemudian berubah bilang bahwa status masih AJB (akta jual beli) dan proses SHM masih dalam pengurusan notaris. Hmm.. hal itu menjelaskan tanda tanya di benak saya kenapa sertipikat tanah ada di notaris dan bukannya dipegang dia.

Senin sore saya, zauji dan Khansa rencana berangkat ke kontrakan pemilik rumah utk negosiasi lebih lanjut. Keheranan kedua saya, kenapa dia ngontrak sementara rumahnya dikontrakkan ke orang lain ya? tapi biarlah itu menjadi rahasia keluarga mereka yang kami tidak perlu tahu. Qodarullah dalam perjalanan turun hujan sehingga kami pun balik lagi ke rumah. Sesudah memulangkan saya dan Khansa, zauji melanjutkan kembali perjalanannya menuju kontrakan pak M.

Malam hari zauji datang dengan membawa berita yang kurang menggembirakan. Pemilik rumah tersebut menjelaskan bahwa dia masih ada tanggungan hutang dengan developer, sehingga menyebabkan proses sertifikatnya terhambat di notaris. Kalo rumahnya terjual, maka akan digunakan utk melunasi hutangnya kepada developer tersebut dan menyelesaikan proses sertifikatnya. Zauji menanggapi hal tersebut dengan mengatakan bahwa hubungan kami hanya dengan bapak tersebut, sedangkan hubungan bapak tersebut dengan developer kami tidak perlu tahu. Inginnya kami tahu beres utk proses sertipikatnya, that’s it. Kami tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan urusan keluarga tersebut. Terlebih di kemudian hari diketahui bahwa developer tersebut agak bermasalah. Wallahu a’lam.

Hari Selasa kami datang ke tempat notaris untuk melihat surat-surat yang ada. Qodarullah ada kejadian di luar dugaan. Notaris bilang bahwa AJB dibawa oleh developer, katanya utk menyelesaikan kekurangan sekian juta dengan Pak M. Keadaan sempat tegang, karena bagaimana mungkin sebuah dokumen penting bisa keluar dari notaris tanpa sepengetahuan pihak yang bersangkutan dalam AJB tersebut.
Setelah menunggu agak lama, developer itupun muncul dan bilang kalo dia tidak membawa dokumennya. Eh ngga berapa lama notaris muncul dan bilang kalo dokumen AJB dibawa stafnya utk diuruskan sertipikatnya ke BPN. Walaah.. sing bener sing endi iki? notaris kok mencla mencle.

Kemudian diputuskan bahwa nego akan dilanjut setelah kami bertemu dengan staff notaris yang “katanya” sedang mengurus proses sertipikat tanah Pak M.

Oleh karena saya ragu-ragu dengan alas hak atas tanah tersebut, maka saya berkonsultasi dengan mantan atasan kantor saya yg sekarang sedang mengambil magister kenotariatan.

Sebab saya sendiri juga bingung ketika Pak M menjelaskan status tanahnya AJB, karena sepengetahuan saya baik ketika masih kuliah Hukum maupun bekerja di (eks) kantor saya bagian agraria, status tanah yg saya tahu ya Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pengelolaan, Hak Pakai, selain itu juga ada girik/tanah adat/ letter c tapi yang terakhir disebut ini sepemahaman saya bukan bukti “kepemilikan” hak atas tanah, tapi hanya bukti “penguasaan tanah” dan pembayaran pajak saja. CMIIW.

Ketika saya tanyakan kepada atasan saya “apa yg harus saya ketahui ketika membeli tanah dengan status AJB?”

Beliau membalas sms saya begini :
“Mungkin maksudnya alat haknya Girik/tanah adat/letter c , krn kalo AJB kan bentuk perbuatan hukumnya. Apa gak sebaiknya tanah yg sdh terdaftar/bersertipikat. Kalo tanah milik adat/letter c atau orang awam sering bilang ajb : harus ada letter c/giriknya, ada ajb-nya, ada keterangan tidak sengketa, ada riwayat tanah, dan kelengkapan lain setelah melihat data yang ada.”

Naaah, sesudah membaca sms atasan saya kemudian hati saya bertambah ragu untuk melanjutkan akad dengan Pak M. Tapi zauji bilang untuk bersabar dan diniati membantu Pak M, dengan catatan bahwa surat tanah beres. Tapi kalo ternyata rumit ya udah ngga usah dilanjutkan.

Qodarullah keesokan harinya Pak M sms zauji dan bilang bahwa ada sesuatu yang mau dibicarakan. Akhirnya malam hari kami ke rumah pak M, terpaksa Khansa kami titipkan ke ummu bima, karena kalo diskusi dengan mengajak Khansa spertinya akan ribet bin ribut.

Ketika sudah sampai dirumah Pak M, beliau menjelaskan kalo siang harinya dia dan istrinya melakukan cek ke notaris, dan ternyata…. AJB beliau belum diurus sama sekali untuk pensertipikatannya. AJBnya terumpuk di berkas mantan staff yang sudah resign, bahkan aktanya trsebut juga belum di-finishing.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak M, akhirnya kami memutuskan untuk mundur dari akad jual beli rumah tersebut. Karena sepengetahuan saya membutuhkan waktu cukup lama utk pengurusan tanah dari girik/letter c ke SHM. Tapi tak lupa kami mendoakan yg terbaik untuk Pak M sekeluarga, smoga permasalahannya bisa diselesaikan dengan baik. Insya Allah utk jalinan silaturrahim dengan keluarga beliau tetap kami jaga.

Yah begitulah, ternyata belum rizki kami utk mempunyai rumah.. :'(

Hikmah dari house hunt ini adalah… saya harus belajar lagi masalah pertanahan hehehehe… Zauji bahkan sempet terpikir agar saya sekolah lagi ambil kenotariatan. Haduuh.. mau sih mau, tapi kayaknya cari spongsor dulu deh buat biaya belajar lagi ;p

Home sweet home.. where are you?? *halaah lebay*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s