Olshop Story : Suppliernya Mana?

Selaku online shop, pertanyaan seperti judul di atas terkadang muncul dari customer maupun dari teman-teman. Saya pun pernah ditanyakan hal tersebut oleh customer saya, dan ngga hanya satu orang lho yang menanyakannya.

Awalnya sih dia order barang, tapi karena barang di saya habis, lalu dia menanyakan supplier saya dimana. Wah, dilemma juga. Maklum, seorang pedagang ketika menemukan supplier itu lumayan membutuhkan perjuangan. Entah googling via internet maupun survey langsung ke lapangan. Itupun ngga langsung menemukan supplier yang cocok, kita juga membandingkan harga supplier satu dan lainnya, termasuk bagaimana pelayanan mereka.

Sehingga wajar kalo teman-teman sesama seller di salah satu grup di FB merasa “risih” ataupun agak sensi kalo ditanya “suppliernya mana?” atau “barangnya ambil dimana?”, karena bagi seorang seller, supplier itu adalah salah satu aset dalam pengelolaan usaha mereka.

Bukannya kita pelit info dan ngga mau berbagi rizki dengan yang lain ya. Tapi kalau kita sendiri -sebagai seller- ditanyakan hal serupa mungkin juga akan pikir-pikir untuk menjawabnya. Apalagi jika mengingat effort untuk mendapatkan supplier yang bagus (dan murah) itu ngga mudah. Saya sendiri waktu cari supplier juga googling kesana kemari, atau langsung datang ke TKP dan mencari mana yang murah dengan kualitas yang bagus, it takes time and energy.. and money, of course :D

Ada salah satu teman sesama online-shop-owner yang gemes karena sering ditanyakan hal tersebut -terutama oleh temannya-, “belinya di mana sih?kasi bocoran donk, kan aku buat direct selling aja, toh toko online ku juga belum segede kamu, udah lah rejeki udah diatur”. Teman saya cuma bisa ngomong dalam hati , “Ya memang rejeki sudah diatur sama Yang Maha Pemurah , makanya usaha donk, yang suka motong jalan juga rejekinya akan lama bertahan.” Hehehe… mungkin teman saya sudah saking gemesnya ya sampe mbatin kaya gitu.

Kalo saya pribadi ditanyakan seperti itu biasanya menjawab tergantung person dan mood hehe.. Misalnya yang tanya saudara ya saya bilang dimana sumbernya, apalagi kalau dia berniat juga untuk menjual dan saya tahu kondisi saudara saya tersebut. Tapi kalo customer baru pertama kali mau beli tiba-tiba tanya supplier yaaa nuwun sewu, saya ngga bisa memberi kontaknya. Terutama kaitannya dengan privacy supplier saya tersebut. Ngga bisa kan, saya makbedunduk memberi kontak telp ataupun email tanpa seijin yang bersangkutan.

Sebagai bakul, saya juga ngga pernah menanyakan suppliernya bakul lain. Kalaupun saya mau memesan barang dimana teman dagang saya yang tahu suppliernya ya saya memesan lewat dia, dengan ada biaya admin tentunya (teman saya kan juga perlu biaya untuk sms dan sebagainya). Nah, kalau begini lebih enak, tau sama tau mengenai kode etik perbakulan hehe..

Jadi, perlu menjadi pertimbangan (halah bahasane), bahwa  menanyakan kontak supplier pedagang itu adalah sesuatu yang “tabu” atau let say hal itu terkamsuk melanggar kode etis perdagangan (walaupun hanya tersirat, tidak tersurat xixixi).

Daripada menanyakan sesuatu yang tidak pasti jawabannya, lebih baik yuk kita gunakan energi untuk blusukan –entah browsing maupun ke TKP langsung- mencarisupplier sendiri yang cocok baik dari segi harga maupun kualitas. Insya Allah dengan begitu hati kita akan puas, dan insya Allah tidak akan ada pihak yang merasa “terdzolimi” hehehe..

*hanya sekedar curcol seorang bakul :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s