Makan Malam Paling Romantis

Kemarin malam bisa dibilang adalah makan malam paling romantis bagi saya dan zauji, karena dengan makan malam itu kami bisa jalan berdua seperti di awal-awal pernikahan. Bukannya saya tidak suka adanya Khansa lho yaa, justru saya sangat bersyukur kepada Allah dengan adanya Khansa yg menyemarakkan hari-hari kami berdua. Hanya saja as pasutri ada saat-saat dimana kami ingin menikmati “our time”, walaupun hanya dengan berboncengan motor berdua :D

Mengapa semalam merupakan makan malam romantis?begini ceritanya..

Malam itu kami seperti biasa makan berdua di rumah. Kami makan (ke)malam(an) jam 21.30, karena jam 20.30 Khansa sudah mengajak bobok , dan membutuhkan waktu lumayan lama hingga dia tidur. Kebiasaan saya menunggu zauji pulang ngajar ngaji selepas Isya untuk makan malam, sedangkan Khansa sudah makan terlebih dahulu ba’da magrib.

Makanan yang terhidang biasa saja, nasi putih dengan berlauk pepes ikan yang saya beli waktu mengantar Khansa ke posyandu jam 10 pagi. Pepes tersebut masih utuh karena siang harinya kami makan urap dan ayam.  Seperti biasa kami makan berjama’ah sepiring berdua disambi ngobrol to the south to the north (ngalor ngidul). Seusai makan kami ke kamar karena saya mau buka internet untuk mentransfer sejumlah uang ke supplier, sedangkan zauji juga membuka laptopnya karena ingin nyicil proposal thesis.

Setengah jam sesudah makan, waktu sedang di hadapan layar netbok, saya merasa kepala saya senut-senut. Ternyata zauji pun merasakan hal yang sama. Bahkan kemudian kepala semakin berat, detak jantung meningkat, dan muka kami berdua memerah. Zauji yang menyadari keanehan tersebut lalu berasumsi bahwa kami berdua keracunan makanan. Zauji langsung menyuruh saya meminum susu UHT yang tersedia di lemari es, dan meminum norit 3 butir, dan zauji pun melakukan hal yang sama. Gejala bertambah lagi dengan adanya rasa mual, tapi tidak bisa kami muntahkan.

Tanpa babibubebo jam 22.00 zauji langsung bilang agar saya bersiap-siap ke rumah sakit karena khawatir keadaan kami semakin memburuk. Saya lalu menelpon ummu bima yang tinggal di dekat rumah kami, meminta bantuan beliau untuk menjaga Khansa yang sedang tidur. Alhamdulillah ummu bima bisa membantu kami.

Alhamdulillah kami sampai di Rumah Sakit terdekat dengan lancar. Dalam pikiran saya di sepanjang perjalanan merasa khawatir dan berdoa semoga Allah memberkahi kami keselamatan dan dijauhkan dari kemadhorotan. Saya memikirkan bagaimana Khansa kalo kami berdua jatuh sakit :'( , dan ternyata zauji pun memiliki kekhawatiran yang sama.

Sampai di rumah sakit kami langsung ke IGD, konsul ke dokter dan dokter juga langsung mendiagnosa kalau kami keracunan makanan. Setelah diukur tensi dan temperatur alhamdulillah semua normal. Sakit kepala saya dan zauji pun sudah semakin berkurang, mungkin susu dan norit yang kami minum sudah mulai bereaksi terhadap racun di tubuh kami, dan juga karena ikan yang kami makan tidak terlalu banyak (masih ada separuh bagian).

Alhamdulillah saat itu zauji langsung tanggap dan berasumsi kalo kami berdua terkena keracunan makanan dan segera ambil tindakan pencegahan agar tidak memburuk, mungkin kalau yang kena hanya saya dan ngga ada zauji, saya ngga akan tanggap kalo keracunan makanan. Ketika itu saya pikir hanya pusing biasa, dan biasanya kalo pusing saya hanya tiduran (dasar ngga gawul)

Selama di rumah sakit tidak ada perlakuan khusus kepada kami, hanya diminta beristirahat di bilik IGD. Tadinya dokter langsung bilang agar kami dirawat, tapi kemudian setelah melihat bahwa kami sepertinya sudah berangsur pulih kemudian hanya diminta menunggu sebentar untuk observasi.

Pukul 23.30 kami putuskan untuk kembali ke rumah karena alhamdulillah -bi idznillah- kami merasa benar-benar sudah pulih. Ketika perjalanan pulang situasi sangat berbalik dari ketika awal berangkat yang kemrungsung dan agak panik. Dalam perjalanan pulang ini kami lebih santai menikmati malam hari di sepanjang jalan.

Itulah mengapa bisa dibilang merupakan makan malam paling romantis bagi saya dan zauji, karena dari makan malam itulah kami bisa “menikmati” waktu berdua, ngobrol dan guyon di bilik IGD *hayah*, dan berboncengan naik motor dengan santai di tengah malam. Ada himah dibalik musibah. Tapi tetap saja berdoa smoga Allah melindungi kami dari segala kemadhorotan.

Bagaimana nangsib pepes ikan yang masih separuh dan rencananya akan kami santap lagi keesokan harinya untuk sarapan?wasallam, silakan masuk tempat sampah, pes. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s