Inspirasi tulisan ini berawal dari pemaparan mengenai negara Jepang yang diberikan ibu Ani Kawasaki, salah seorang wartawati dengan segudang prestasi baik dalam negeri maupun internasional, pada hari Minggu lalu (14/4/2013) yang diadakan oleh salah seorang teman pemilik online shop di cibinong Bogor.

Dalam pemaparan mengenai situasi dan kondisi keluarga di Jepang, ibu Ani menyebutkan beberapa kondisi disana, yang membuat saya tertohok dan berkaca, sudah baikkah peran saya selama ini sebagai seorang istri dan seorang ibu? :’(

Di Jepang, wanita disana ketika sudah menikah sangat mengutamakan keluarga. Oleh karena itulah, ketika mereka memutuskan untuk menikah, maka mereka full menjadi ibu rumah tangga. Mendedikasikan seluruh waktu untuk kepentingan keluarga mereka masing-masing. Mulai dari mencuci, memasak, setrika, membersihkan rumah, bahkan untuk mencukur rambut suami dan anak-anak pun mereka lakukan sendiri. Makanya jangan heran ketika ada laki-laki dari pasangan muda ketika berangkat kantor poninya terlihat miring, itu karena yg memotong adalah istri mereka yang masih awal-awal belajar memotong rambut. Begitu juga bu Ani sendiri, beliau memotong sendiri rambut suami dan keempat anak laki-lakinya.

Ketika hal ini saya sampaikan kepada ummu afiif, salah seorang teman FB saya yang saat ini stay di Jepang, beliaupun mengatakan hal yang serupa. Beliau kagum, wanita Jepang ketika mereka sudah menikah maka mereka akan mengabdikan full untuk keluarganya, bangun pagi-pagi, menyiapkan bento buat suami , untuk anak juga (kalau sudah sekolah, karena rata rata di Jepang bento , tidak  ada jajan diluar) , bento-nya pun bener-bener yang niat banget begitu kesannya. Kemudian membersihkan rumah yang benar-benar bersih, dan juga melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Ibu Ani mengatakan kalau wanita Jepang tidak mengizinkan anak mereka dipegang oleh baby sitter. Mereka mendidik dan menanamkan sendiri nilai-nilai dan budaya Jepang ke anak-anak mereka. termasuk dalam hal kedisiplinan dan lain-lain. Ibu-ibu Jepang kemana-mana membawa tas plastik untuk tempat sampah anaknya. Walaupun pergi ke restaurant, mereka membuang sendiri sampah-sampah bekas tissue mereka. Berbeda dengan kita, yang seringkali mengandalkan bantuan pelayan untu membersihkannya. Japanese merasa bertanggung jawab terhadap lingkungan mereka, karena mereka berpikir bahwa suatu saat ada kemungkinan keluarga saya ada yang makan di restaurant ini, jadi mereka pun turut bertanggung jawab terhadap kebersihan tempat tersebut.

Itulah mengapa seorang ibu mempunyai kedudukan yg terhormat di Jepang. Tidak ada yang berani menentang kata-kata ibu. Bahkan para pejabat pemerintahan setempat di Jepang pun merasa was-was ketika serombongan ibu datang ke kantor mereka untuk mengadukan sesuatu. Ya, di Jepang pemerintah dituntut untuk bertanggung jawab penuh atas rakyat mereka. Masyarakat bebas mengajukan tuntutan (misalnya untuk pengadaan suatu fasilitas) di kota mereka, dengan cara-cara yang sesuai dengan birokrasi tentunya, bukan dengan demo.

Di Islam pun demikian terhormat kedudukan ibu, hingga dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah & berkata,

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku utk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)

Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dlm membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an & sunnah Nabi. Karena berpegang dgn keduanya akan menjauhkan setiap muslim & muslimah dari kesesatan dlm segala hal. (taken from here)

So, moms, dimanapun anda berada, darimanapun anda berasal. Di tangan anda-lah (bi idznillah) terletak pondasi dasar pendidikan dan pembentukan pribadi serta akhlak anak, yang akan mempengaruhi tatanan masyarakat dan suatu bangsa. Cukuplah balasan dari Allah yang kita harapkan dengan mendidik anak kita di rumah, seperti sabda Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- :

“Sungguh bila salah seorang diantara kalian mendidik anaknya, maka hal itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah tiap hari setengah sha’ kepada orang miskin” (diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al Muj’am Al Kabir)
>> taken from majalah Akhwat vol 16 /1433 H/2012 hal 79,dari artikel berjudul Didiklah Anak-Anakmu!

About these ads

About ummuyusufabdurrahman

Serius bisaa.. becanda bisa.. serius sambil becanda bisaa.. becanda sambil serius bisa.. :)) Translation : Serious yess.. joking yess.. seriously joking yess.. joking seriously yess.. halah yes yess.. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s