Setahun Resign..

Awal bulan April ini (telat posting) tepat setahun resign dari kantor di salah satu BUMN Kehutanan. Alhamdulillah sejauh ini saya sangat menikmati dan mensyukuri keputusan yang saya buat setahun yang lalu.

Bukan merupakan keputusan dadakan ketika saya mengajukan resign ke perusahaan dimana saya sudah bekerja selama 6 tahun. Saya telah memikirkannya kurang lebih selama satu tahun, yaitu ketika anak saya -Khansa- lahir.

Berbagai pertimbangan menjadi dasar keputusan, selain dari segi syari’at -yang merupakan alasan utama-, juga dari segi perkembangan dan pendidikan anak.

Bila ditinjau dari segi syari’at, dengan berada di kantor akan terjadi ikhtilath (percampuran) lawan jenis yang apabila tidak berhati-hati bisa menimbulkan fitnah. Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi saya melihat bapak-bapak dan ibu-ibu saling bercanda, bahkan kadang tanganpun sengaja atau tidak sengaja mendarat di bagian tubuh lawan jenis. Jenis candapun kadangkala agak keterlaluan, menjurus ke arah vulgar. Belum lagi kalau ada lembur yang mengharuskan berduaan , bertigaan , berempatan dengan lawan jenis dalam satu ruangan. Ataupun dinas luar yang mengharuskan seorang wanita safar tanpa mahram yang sepemahaman saya merupakan hal yang tidak sesuai syariat. Saya mempercayai bahwa syariat dibuat oleh Allah untuk kebaikan manusia, demikian pun dengan tuntunan bepergian bagi para wanita, yg merupakan penjagaan bagi diri mereka sendiri. Silakan bagi yang menganggap saya berlebihan, kita mempunyai pemikiran masing-masing. Yang jelas, suami saya merasa lebih nyaman dan tenang ketika saya berada di rumah ^^

Selain itu, satu hal yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat oleh saya -selaku istri dan ibu- adalah pengelolaan rumah tangga. Saya tidak akan ditanyakan seberapa besar penghasilan saya, seberapa banyak proyek kantor yang sudah saya selesaikan, tapi kelak akan dipertanyakan bagaimana tanggung jawab saya di dalam pengelolaan rumah tangga, termasuk didalamnya mengenai pendidikan anak, pengabdian pada suami, dan pengaturan rumah tangga lainnya yang menjadi tanggung jawab istri, sebagaimana dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

“Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. ” (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap ra’in tentang apa yang dibawah pengaturannya, apakah ia menjaganya atau malah menyia-nyiakannya. ” (HR. Ibnu ‘Adi dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Hafizh rahimahullahu dalam Fathul Bari, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Sumber >> http://www.salaf.web.id/1155/tanggung-jawabmu-di-rumah-suamimu-al-ustadzah-ummu-ishaq-al-atsariyyah.htm

Wallahu a’lam.

Sesudah mendapatkan dalil-dalil syari’at dan alasan yang membuat saya mantap, persiapan selanjutnya ketika mau resign yaitu menyiapkan mental (selain mempersiapkan diri dari sisi finansial).

Dari sisi mental tentu saya mendapatkan pandangan “eman-eman” dari beberapa orang, termasuk dari keluarga, tetangga, kolega (rekan dan atasan). Eman-eman sudah cari kerja susah-susah kok keluar. Eman-eman sudah susah pindah ke kantor cabang yang notabene dekat dengan rumah kok akhirnya resign. Eman-eman berpendidikan -lumayan- tinggi (S1) kok “hanya” jadi ibu rumah tangga. Alhamdulillah karena dari hati saya sudah bertekad bulat, maka hal semacam itu tidak menjadi hal yang saya risaukan, insya Allah.

Hati saya sudah mantap, dan siapa bilang pendidikan tinggi tidak bermanfaat dalam menjadi ibu rumah tangga? Ibu yang berilmu itu penting dalam pendidikan anak dan pengelolaan keluarga. Dan ilmu itu pun bisa didapatkan dimana saja, tidak hanya dari bangku kuliah. Bagaimana bisa mengajarkan anak mengenai akhlak, fiqh, dan ilmu lain apabila sang ibu tidak mempunyai wawasan akan hal tersebut? Tentunya hal ini terkait dengan peran ibu sebagai madrasah pertama anak. Jadi kalau ada yang bilang eman-eman kalau sarjana “hanya” menjadi ibu rumah tangga, nuwun sewu saya tidak sependapat ^^

Sedangkan dari sisi finansial, bukan hal mudah bagi saya yang sudah berada di zona nyaman untuk melangkah keluar darinya. Gaji bulanan tetap dari kantor yang selama ini saya dapatkan tidak akan ada lagi, begitu juga dengan fasilitas lain seperti bonus, premi, tunjangan kesehatan -yang membuat saya “hanya” mengeluarkan uang satu juta untuk biaya persalinan cesar- , yang hampir semuanya berbau materi. Ditambah lagi suami saya dalam posisi sedang tugas belajar yang otomatis tidak ada pemasukan tambahan selain gaji pokok dan uang beasiswa (yang datangnya rapelan per semester dan biasanya terlambat T_T).

Untuk itulah 9 bulan sebelum mengajukan resign (saya sudah merencanakan mau resign ketika anak saya berusia satu tahun), saya berusaha membuka lapak, sebagai bekal kegiatan saya di rumah dan juga untuk menambah pemasukan bagi keluarga. Satu usaha yang saya tertarik menggelutinya adalah bidang mainan. Qodarullah suatu saat ketika sedang menonton televisi sedang meliput salah satu produsen mainan kayu, yang ternyata lokasinya berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah kami (hasil googling). Dimulai dari mainan kayu, hingga kemudian berkembang menjadi berbagai macam mainan edukatif yang menjadi koleksi di zeatoys. Saya mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dari gaji bulanan dan bonus yang saya dapatkan. Laba yang saya peroleh di awal-awal usaha tidak saya ambil, melainkan saya putarkan lagi sebagai modal. Alhamdulillah -bi idznillah- saat ini omzet usaha saya sudah sekitar 30 kali lipat dari awal buka usaha, dan labanya sedikit demi sedikit sudah mulai mendekati gaji saya di kantor. Semua itu atas izin dan pertolongan dari Allah.

Nah, selain persiapan mental dan finansial, saya juga berusaha mencari tahu pengalaman beberapa orang teman yang sudah resign terlebih dahulu. Sudah menjadi sifat saya “dari sononya” seringkali memperhitungkan semua secara detail dan persiapan sebanyak mungkin bekal, kalo basa jawanya “nritik”. Maklum, ini merupakan salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya.

Sharing mengenai resign banyak saya dapatkan dari teman-teman di grup pedagang online. Ternyata banyak dari mereka yang sebelumnya bekerja dan akhirnya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga+ (plus buka olshop). Dan hampir semuanya in the end sangat menikmati keputusan mereka tersebut, no regret. Mereka sangat senang bisa mengamati dan menemani anak secara penuh dalam masa tumbuh kembangnya. Sedangkan dari sisi keuangan -saya pun sudah membuktikannya sendiri-.. bahwa kita tidak akan bisa berhitung dengan matematika Allah. Kebanyakan dari mereka mendapatkan rizki diluar persangkaan mereka. Entah suami mereka mendapatkan promo, ataupun rizki dari jalan lain (ex : dari usaha olshop mereka yg berkembang).

Sesudah persiapan secara pribadi tersebut di atas, langkah selanjutnya adalah membicarakannya dengan orangtua (baik ortu saya maupun ortu suami). Saya membutuhkan ridho orangtua saya, walaupun secara syariat sesudah menikah maka segala keputusan saya harus berdasar ridho suami -yang tentu saja sangat mendukung keputusan saya-. Suami selalu mendampingi saya ketika sounding ke ortu saya, dan suami lah yang membicarakan hal ini dengan bapak ibu mertua. Alhamdulillah prosesnya lancar, walaupun saya yakin terbersit sedikit rasa keberatan di hati mereka. Terutama karena kami masih baru dalam berumah tangga dan tentu saja membutuhkan banyak modal, selain itu posisi suami yang sedang tugas belajar. Tapi pada dasarnya, mereka merestui keputusan kami. Mereka anggap kami sudah dewasa dan sudah mempertimbangkan segala sesuatunya.

Semua persiapan insya Allah sudah matang, maka per 1 April 2012 yang lalu saya resmi resign dari kantor. Sekali lagi, satu keputusan yang saya syukuri hingga saat ini. No regret, insya Allah ^^

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s