Antara Omzet dan Keluarga

Alhamdulillah.. pindahan basecamp ternyata membawa beberapa hikmah bagi saya, khususnya dalam hal pengelolaan online shop.

Salah satu hal yg cukup membawa pengaruh yaitu ketiadaan ART/asisten rumah tangga, sehingga sekarang semua pekerjaan rumah saya lakukan sendiri mulai dari pagi hingga malam.

Kegiatan di rumah [kontrakan] dulu dan basecamp permanen sekarang terdapat beberapa perbedaan yang menyebabkan perubahan dalam diri saya.

Dulu saya itu jaraaang banget ngepel lantai, sekarang hampir tiap hari menyapu plus ngepel. Rasanya ada yg kurang kalo sehari ngga ngepel.. kurang olahraga hihi..

Dulu saya seriiing banget beli sayur mateng, semua dijelajahi.. mulai dari soto, sop iga, ayam penyet, pecel lele, gado-gado.. sampai wajah saya dihafal oleh beberapa pedagang matengan. Sekarang diusahakan lebih sering masak di rumah, walaupun rasa dan menu makanan saya juga itu-itu aja.  Mungkin juga kondisi ini didukung dengan sedikitnya yg jual matengan dan aneka makanan di daerah saya *dompet slamet*

Dulu saya agak jarang mengajak Khansa main bersama (terutama kalo sedang overload orderan). Sekarang lebih sering main bareng, entah di dalam maupun di luar rumah. Masak bareng, dan kadang sore mengajak Khansa jalan-jalan ke lapangan atau menemani Khansa naik sepeda.

Dulu saya jarang bersosialisasi dengan tetangga, hampir seharian uplek online dan packing, paling sesekali aja keluar rumah kalau ada perlu. Sekarang kadangkala main ke rumah tetangga depan sama Khansa (tentu dengan para ibunya ya), ngobrol. Tapi teteup menghindari ngomongin orang alias ghibah. Dan tentu saja jadwal keluar rumah teteup dibatasi, mengingat tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- tempat terbaik bagi wanita itu di rumah, dan saya sepakat dengan hal tersebut. Ya iyalah hehe..

Aneh tapi nyata. Padahal dulu dengan adanya ART seharusnya waktu saya mengurus keluarga dan bersosialisasi lebih banyak ya. Tapi sekarang saya rasakan waktu saya lebih produktif dan lebih banyak mengurus keperluan keluarga.

Disini saya tidak terlalu memikirkan omzet usaha. Pokoknya kerjaan rumah selesai dulu, baru menyelesaikan gaweyan olshop. Atau kalo pas overload ya berusaha membagi waktu agar pekerjaan rumah bisa terselesaikan disamping kerjaan olshop.

It brings enlightenment for me.

Bahwa tugas utama saya adalah sebagai istri dan seorang ibu. Inilah yang akan saya pertanggungjawabkan di akhirat kelak, yaitu pengelolaan dalam rumah tangga.

Saya tidak akan ditanya berapa omzet saya per bulan, ataupun berapa barang yang terjual dalam sehari. Tapi saya akan mempertanggungjawabkan bagaimana amanah yang saya tanggung dalam rumah tangga saya, yaitu suami dan anak(-anak) saya.

Seperti yang saya kutip dalam postingan saya di sini.

“Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. ” (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap ra’in tentang apa yang dibawah pengaturannya, apakah ia menjaganya atau malah menyia-nyiakannya. ” (HR. Ibnu ‘Adi dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Hafizh rahimahullahu dalam Fathul Bari, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Sumber >> http://www.salaf.web.id/1155/tanggung-jawabmu-di-rumah-suamimu-al-ustadzah-ummu-ishaq-al-atsariyyah.htm

Saya seharusnya tidak menanyakan (dan memusingkan) berapa omzet saya setiap hari, tapi yang harus saya tanyakan adalah sudah berapa banyak ilmu yang sudah saya ajarkan ke anak? berapa banyak waktu yang yang saya berikan pada mereka? sudahkah saya bersikap dan meladeni dengan baik keperluan suami dan anak-anak saya?

Ini masih menjadi PR bagi saya, by process tentunya. Semoga Allah memberikan kemudahan.

Yes I do serious in taking care of my business.. but I (should) do MORE SERIOUS in taking care of my family, insya Allah. Wallahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s