Menyiapkan Sang Pemimpin Kecilku

Setiap manusia adalah pemimpin dan dia akan ditanya pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, baik kepemimpinan dalam lingkup keluarga, masyarakat, pekerjaan, maupun dengan Yang Maha Kuasa.

Begitupun buah hati kita. Kelak dia akan menjadi dewasa dan akan memegang tanggungjawab kepemimpinan serupa, baik anak kita laki-laki ataupun perempuan.

Sebagai seorang ibu, upaya untuk mendidik anak menjadi seorang pemimpin dapat kita lakukan sejak mereka masih kecil. Pendidikan sedari dini, insya Allah akan melahirkan generasi yang tangguh karena sejak kecil akhlaq dan kepribadian  mereka sudah terasah. Diawali dari melatih mereka untuk me-manage diri sendiri, maka insya Allah mereka dapat me-manage orang lain.

Ada beberapa hal mendasar yang perlu diterapkan pada anak kita untuk mempersiapkannya menjadi seorang pemimpin kecil. Tentu saja semuanya disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan tahapan perkembangan mereka.

Saya pribadi sedikit demi sedikit berusaha menerapkannya pada buah hati saya, Khansa (2,5 tahun).

Mari kita ulas satu persatu apa saja hal tersebut.

Kemandirian.

Sifat mandiri ini insya Allah sudah melekat pada tiap anak sejak mereka masih kecil. Hal ini bisa kita ketahui ketika mereka tidak mau dibantu untuk hal-hal tertentu (misalnya ketika mandi atau makan). Ini sudah menunjukkan indikasi kemandirian mereka. Kita sebagai orangtua hanya tinggal mengasahnya.

Sejak anak saya -Khansa- berusia 2 tahun, dimana di usia tersebut tahapan perkembangan motorik halus dan kasar, serta cara berkomunikasinya sudah semakin baik,  saya memintanya untuk bisa melakukan sendiri hal-hal kecil yang dia mampu. Misalnya memakai pakaian sendiri sesudah mandi.  Ataupun sesekali mandi sendiri, tentunya dengan pengawasan ya, walaupun terkadang Khansa meminta saya untuk berada di luar kamar mandi.

Memang, sebagai orangtua kadangkala kita merasa kurang sabar ketika anak kita melakukan semuanya sendiri, karena pasti akan memakan waktu lebih lama, belum lagi kalau ada “insiden kecil” hasil dari usahanya. Berganti pakaian yang jikalau kita bantu hanya membutuhkan waktu dua menit, bisa menjadi 10 menit atau lebih ketika mereka hendak mengenakannya sendiri. Makan pun demikian, kalau kita suapi mungkin waktu yang dibutuhkan akan lebih sedikit daripada ketika anak kita makan sendiri. Belum lagi ceceran makanan atau minuman yang membuat meja dan lantai kotor. Tapi jerih payah kita dalam menunggu dan membersihkan “hasil karya” anak kita akan sepadan hasilnya dengan kemandirian yang mereka capai, insya Allah.

Sedikit demi sedikit, anak kita akan berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan tanpa bantuan dari orang lain. Inilah awal dari pribadi mandiri untuk masa depan mereka.

Kedisiplinan.

Melatih kedisiplinan pada anak sejak dini insya Allah akan berdampak baik bagi masa depannya. Hal ini bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya keteraturan rutinitas dalam jam makan, mandi, tidur, bermain. Kemudian disiplin untuk membereskan mainan mereka sendiri selepas bermain, membuang sampah pada tempatnya, meletakkan piring dan gelas kotor pada tempat cuci piring, dan hal-hal kecil lainnya yang mampu mereka lakukan.

Khansa-pun juga begitu. Ketika dia selesai bermain maka saya memintanya untuk membereskan mainannya. Tentu saja saya tetap membantunya, karena saya memahami sejauh mana kemampuan anak saya untuk membersihkan “hasil kreasinya”.

Selesai makan Khansa sudah mulai terbiasa untuk meletakkannya di tempat cuci piring. Ehm.. walaupun meletakkanya dengan cara setengah melempar karena bak cuci piring yang masih agak terlalu tinggi bagi dia. Alhamdulillah sejauh ini belum ada korban pecah dari “pelemparan” piring dan gelas kotor, karena biasanya peralatan makan yang dia gunakan dari plastik atau melamin *pfiuh.. lap keringat*

Kebiasaaan buang sampah pada tempatnya juga sudah mulai tertanam di dalam diri Khansa. Ketika selesai makan atau minum yang berkemasan, dimanapun dia berada selalu mencari tempat sampah. Kalaupun tidak menemukan tempat sampah, saya menyediakan plastik untuk menampung sampahnya.

Melalui latihan kedisiplinan sejak kecil, insya Allah ketika dewasa maka anak akan merasakan manfaat dalam bentuk keteraturan dalam hidup yang dapat dia terapkan ketika mempimpin suatu kelompok.

Melatih bertanggungjawab.

Anak-anak harus diajarkan bagaimana mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sedari muda. Mereka harus belajar bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Dengan hal ini mereka tidak berbuat “semau gue” tanpa memikirkan orang lain, dan juga tidak mudah menyalahkan orang lain ketika dewasa nanti.

Untuk melatih rasa tanggung jawab, saya pun menerapkan prinsip reward and punishment pada Khansa. Misalnya Khansa melakukan kesalahan dengan sengaja menumpahkan makanan atau minumannya, maka saya memintanya untuk membersihkannya, tentu saja saya tetap mendampinginya. Alhamdulillah sekarang ketika Khansa melihat tumpahan makanan atau minuman, dia langsung mencari tissue atau lap dan berusaha membersihkannya sendiri.

Saya juga menerapkan “time-out” ketika Khansa melakukan perilaku kurang baik, misalnya memukul maupun melempar-lempar barang. Saya minta dia untuk duduk diam di bangku kecilnya selama beberapa waktu. Sesudah itu saya jelaskan alasan dia berada disitu dan kesalahan apa yang dia lakukan. Alhamdulillah frekuensi time-out sudah jauh berkurang, karena dia mengetahui kalau dia melakukan hal kurang baik akan ada konsekuensinya.

Dan sebaliknya ketika Khansa melakukan perbuatan yang baik, maka dia akan mendapat reward, baik berupa pujian maupun hadiah. Misalnya ketika dia bisa memakai baju sendiri maka saya memujinya “wah, Khansa hebat ya, bisa memakai baju sendiri”. Atau ketika Khansa mau pipis sendiri di kamar mandi saya hadiahkan mainan kepadanya. Reward ini bermanfaat untuk mengajarkan anak agar berbuat lebih baik serta meningkatkan kepercayaan diri pada anak.

Membantu dan Berbagi.

Seorang pemimpin adalah orang yang bisa bekerja sama dengan orang lain, saling membantu dengan partner-nya untuk kelancaran suatu kegiatan. Bahkan dia juga harus siap berbagi dengan orang lain. Baik berbagi ilmu, kemampuan, bahkan berbagi dalam hal materi.

Bekal inilah yang harus diasah dan dipersiapkan sedari awal. Seorang anak disiapkan mentalnya agar mau membantu orang lain dan berbagi agar tidak menjadi pribadi individualis yang tidak peduli dengan sesama.

Khansa sejak usia 1,5 tahun sudah mulai membantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah. Itupun seringkali dengan keinginan dia sendiri,

Sebagai ibu rumah tangga tentu banyak pekerjaan rumah tangga yang saya lakukan. dan Khansa seringkali membantu mengerjakannya. Misalnya memotong dan mengupas sayur dengan pisau plastik mainannya, menjemur pakaian, bahkan ketika saya mengepel lantai pun dia dengan semangat ikut serta. Juga ketika ayahnya sedang berkebun tidak lupa dia membawa sekop mainannya untuk “membantu” ayahnya mencangkul tanah. Kegiatan semacam ini insya Allah dapat bermanfaat untuk melatih motorik halus dan kasarnya.

Dan untuk melatih sense berbagi, sejak dia bisa berkomunikasi saya tekankan agar mau berbagi dengan orang lain. Memang agak susah mengingat anak di usia ini sudah mulai memahami “barang ini milikku”. Tapi dengan pengertian dan pemahaman berulang insya Allah mereka lambat laun bisa mengerti.

Ada suatu kejadian di saat Khansa sedang main di rumah tante saya. Dia melihat dan memegang tangan tante yang mempunyai banyak gelang emas. Khansa pun tertarik dan bertanya, “Ini punya siapa?”, sambil memegang gelang-gelang tersebut. Kata saya, “punya mbah”. Kemudian dia balik badan sambil senyum-senyum “Ngga boleh pelit, harus berbagi”. Hadeh naak.. masa berbagi gelang emas, bangkrut atuh embahnya *tutup muka*. Hmm.. paling tidak Khansa sudah memahami konsep berbagi dan tidak boleh pelit ya Nak.

Itulah beberapa hal yang saya lakukan kepada buah hati saya -Khansa- untuk mempersiapkannya menjadi seorang pemimpin di masa depan. Mengajarkannya dari hal kecil sehari-hari untuk diterapkan dalam kehidupannya. Mudah-mudahan bisa menjadikannya pribadi yang baik dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Doa ibu bersamamu wahai anakku, sang pemimpin kecilku.

Blog Competition Nutrisi untuk Bangsa

Blog Competition Nutrisi untuk Bangsa

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog writing competition oleh Nutrisi untuk Bangsa,

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s