Bahaya Ghibah dan Namimah

gosip_cart

pic taken from salafy.wordpress.com

Beberapa waktu yang lalu, terdapat satu kejadian tidak mengenakkan di dalam sebuah grup usaha yang saya ikuti di Facebook. Ada salah satu member yang membuat thread mengenai seseorang diluar grup tersebut (sesama pedagang) -sebut saja A-, yang dianggap telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan bagi pelaku usaha lain (mohon maaf saya tidak bisa menyebutkan bentuk perbuatannya). Tadinya TS (thread starter) tidak mau menyebut siapa yang dia maksud, tapi pembicaraan berkembang hingga disebutlah satu nama dan kemudian member lain saling bersahutan membicarakan mengenai perilaku si A tersebut.

Qodarullah ada member grup yang “mengadukan” hal tersebut pada si A. Entah bagaimana caranya bercerita dan melaporkan kepada si A, hingga  terjadilah satu “perang terbuka”. Si A membawa-bawa nama grup tersebut dalam status FBnya dan berbalik “menyerang” grup tersebut. Sepertinya si A ini sakit hati sekali sehingga selama beberapa hari selalu mengungkit kejadian tersebut, Bahkan berakhir dengan acara blokir memblokir. Padahal teman-teman saya tersebut sama-sama tergabung dalam satu grup induk sesama pedagang yang notabene tadnya berteman baik.

Sungguh sangat disayangkan. Suatu pertemanan bisa hancur hanya karena dua hal, yaitu GHIBAH (bergunjing) dan NAMIMAH (adu domba).

Member grup secara bersama-sama melakukan kesalahan dengan berghibah mengenai si A.

Apa itu ghibah?

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya (Muslim no 2589)

Padahal sudah jelas ketentuan Allah mengenai hal ini.

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

Dan untuk member yang mengadukan kepada si A, tanpa sadar dia telah melakukan NAMIMAH (adu domba).

Apa itu namimah?

Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita, maupun pihak lainnya. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Baik berupa aib ataupun bukan.

sumber >> http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/namimah-adu-domba.html

Lalu apa hukuman bagi pelaku namimah?

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhari)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”

Na’udzubillahi mindzalik. Semoga Allah melindungi kita dari melakukan perbuatan tersebut.

Saya juga menyayangkan pihak A yang tidak mau tabayyun terlebih dahulu. Dia memilih untuk mempublikasikan berita yang dia dengar, tanpa menyelidiki atau bertanya dulu secara pribadi mengenai kebenaran berita tersebut.

Padahal dalam hal ini Allah sudah mengatur agar kita tabayyun (teliti dahulu) apabila ada seseorang membawa kabar berita. 

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].

Penjelasan dari satu pihak yang mengadu tanpa tabayyun kepada yang diadukan, dapat menyebabkan keruhnya pandangan kita terhadap seseorang yang asalnya bersih, sehingga kita berburuk sangka kepadanya, enggan bertemu dan bahkan memboikotnya, dan akibat yang ditimbulkannyapun meluas

Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini, sesuai dengan kesimpulan yang bisa diambil dari ayat di atas (Al Hujurat/49:6) sebagai berikut :

  1. Ayat ini merupakan pelajaran adab bagi orang beriman dalam menghadapi suatu isu atau berita yang belum jelas.
  2. Pelaksanaan perintah tabayyun, merupakan ibaadah yang dapat meningkatkan iman. Dan meninggalkan tabayyun dapat mengurangi iman.
  3. Kewajiban tabayyun dibebankan kepada orang yang menerima kabar berita dan akan menjatuhkan vonis terhadap pihak yang tertuduh.
  4. Dilanggarnya perintah tabayyun, dapat berdampat pada kerusakan hubungan pribadi dan masyarakat.
  5. Penyesalan di dunia maupun akhirat akan ditimpakan kepada orang yang menerima isu negatif, menyebarkannya, serta kepada orang yang menjatuhkan vonis tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu.

(sumber : http://almanhaj.or.id/content/3445/slash/0/mengapa-mesti-tabayyun/ )

SO, SAY NO TO GHIBAH and NAMIMAH !

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s