Lulus Toilet Training, Alhamdulillah..

Lega rasanya ketika Khansa kurang lebih 2 minggu yang lalu tiba-tiba bilang, “ummi, mau pipis”, dan ternyata memang benar dia pipis di kamar mandi.  Saya pikir itu hanya sesaat saja, dalam arti hanya kebetulan, karena beberapa saat sebelumnya Khansa masih belum lulus toilet training. Memang dia ngomong mau pipis, tapi ternyata sudah ngompol di celana. BAB juga begitu, bilang mau eek, eh ternyata sudah eek duluan di celana.

Jadi ketika waktu itu dia beberapa kali bilang “ummi mau pipis” dan “ummi mau eek”, hati saya masih cemas bahwa hal itu hanya sementara. Maklumlah, perjalanan toilet training Khansa bukanlah hal yg mudah. Sebenarnya sudah diniatkan sejak dia berusia kurang lebih 18 bulan, tapi pada prakteknya emaknya ini yang semangatnya masih turun naik. Malas melihat pipis berceceran dimana-mana, jadi masih memakaikan clodi ketika di rumah, dan pospak ketika bepergian.

Niat dan semangat yang benar-benar dari dalam hati terdalam yaitu sesudah pindah ke rumah baru pada bulan Mei yang lalu. Saya full mengenakan Khansa training pants di siang hari, dan mengenakan clodi hanya ketika Khansa tidur siang ataupun bobok malam. Dengan telaten saya me-“natur” (jawa,red)Khansa ke kamar mandi tiap 1 atau 2 jam sekali. Waktu mau tidur saya biasakan pipis dulu, bangun tidur juga demikian, langsung saya bawa ke kamar mandi. Lama kelamaan saya mengetahui ritme pipisnya, dan dia pun perlahan-lahan memahami ritualnya (pipis sebelum tidur dan sesudah bangun tidur). Kalau BAB , saya memperhatikan ketika Khansa mulai melakukan tanda-tanda pup (membungkuk-bungkuk, ngumpet di pojokan) langsung saya bawa ke kamar mandi. 

Memang ada kalanya ketika saya telat natur, misalnya ada tamu sehingga lupa membawa Khansa ke kamar mandi, maka Khansa pun pipis di celana. Bahkan saya sempat pada tahap super jengkel ketika Khansa beberapa kali pipis ataupun pup di celana sehingga  saya marah padanya (ibu-ibu jangan meniru ya).  Rasa jengkel ini biasanya muncul ketika saya letih karena seharian menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengelola toko kemudian pipis Khansa berceceran entah di lantai atau karpet. Dan tentu saja.. sesudah (marah) itu saya pasti merasa menyesal :'(

Gemes juga sama diri sendiri mengapa kurang sabar mendidik anak. Rasulullah saja membiarkan seorang anak kencing di bajunya, membiarkan dia menyelesaikan hajatnya tanpa memarahi anak tersebut. Saya pun seharusnya demikian, karena namanya anak-anak membutuhkan kasih sayang dan bimbingan orangtuanya, bukan bentakan emosional. Astaghfirullah. Bahkan saya sampai memohon pada Allah agar diberkahi kesabaran, dan juga memohon agar anak saya bisa lulus toilet training (saking capeknya saat itu).  Dan Allah mengabulkan hal tersebut sekarang, sesudah kurang lebih 5 bulan dari masa toilet trainingnya. Panjang memang waktunya, but still … alhamdulillah ‘ala kulli hal. Maafkan ibumu ya nduk yang kurang sabar dalam mendidik dalam masa toilet training genduk T_T

Ya, walaupun Khansa baru lulus toilet training pada usia 33 bulan tapi saya sangat bersyukur. Saya jadi mengerti ketika dulu ada teman bilang kalau anak lulus toilet training itu rasanya melebihi dikhitbah hehe.. Proses yang dilalui tidaklah mudah (ini yang saya alami lho, mungkin berbeda dengan ibu-ibu lainnya). Emosi turun naik, rasa capek, bolak balik nyuci celana dan baju bekas pipis/pup, sprei, lantai, karpet..  mewarnai masa-masa toilet training anak.

Dari proses tersebut saya belajar beberapa hal dalam melalui proses toilet training seorang anak. Here goes the tips and tricks..

1. Butuh ketelatenan
Seorang ibu harus telaten membawa anaknya ke kamar mandi per 1-2 jam sekali, dan merutinkan kebiasaan pipis sebelum tidur dan sesudah bangun. Insya Allah dengan kebiasaan tersebut anak akan terbiasa pipis/pup di kamar mandi.

2. Jangan marahi anak
Memang hal yang sulit, terutama ketika kita merasa lelah. Saya pun beberapa kali loose control dan memarahi anak saya, which is wrong! Ketika anak dimarahi maka mereka akan takut untuk bilang ketika mau pipis atau ketika sudah pipis, sehingga kita tidak tahu dimana pipis mereka berceceran.

3. Puji mereka
Ketika anak dipuji saat mereka pipis di kamar mandi, maka itu akan semakin meningkatkan kepercayaan dirinya. Mereka akan senang dan insya Allah akan bersedia melakukannya lagi, pipis/pup di kamar mandi.

4. Jangan banyak minum sebelum tidur.
Sebelum anak bobok, kita agak membatasi konsumsi minum anak. Karena anak saya ngga mimik dot jadi lebih mudah. Kadang Khansa minum susu UHT beberapa jam sebelum dia tidur. Kalo mau bobok mimik putih, itupun ngga begitu banyak, hanya segelas atau setengah gelas.

5. Bila perlu bangunkan anak ketika malam
Ya, kalau anak kita mempunyai kebiasaan mimik dot sebelum tidur jangan malas utk membangunkan anak dan mengajaknya ke kamar mandi. Memang bukan suatu hal yg mudah melawan kantuk dan belum lagi anak yg marah-marah ketika dibangunkan. Tapi itu hal yg harus dihadapi kalau benar-benar berniat melatih anak pipis di kamar mandi.

6. Jangan tergantung pada pospak/clodi
Kalau berniat toilet training, jangan kenakan pospak atau clodi pada anak. Itu akan membuat mereka tidak merasakan ketidaknyamanan celana yg basah, sehingga mereka akan diam saja ketika pipis/pup di celana. Kalau saya memilih mengenakan training pants pada Khansa sehingga ketika basah dia akan bilang.

7. Beri reward
Ini salah satu trik yang dilakukan salah seorang teman saya. Dia memasang papan achievement di dinding. Jadi ketika anaknya mau pipis di kamar mandi, anak tersebut mendapat satu sticker bintang di papan tersebut. It works bagi anak teman saya tersebut.

Itu beberapa catatan pribadi saya selama masa toilet training Khansa. Mudah-mudahan bermanfaat bagi ayah bunda yang saat ini sedang dalam menjalani masa tersebut dengan putra-putrinya. Yakinlah, insya Allah suatu saat anak kita akan lulus toilet training, cepat atau lambat. Yang terpenting adalah niat dan semangat (serta kesabaran) ibu-ibu (dan bapak-bapak) dalam melatih mereka. Ketika anda merasa capek.. well.. we’re all do.. percayalah banyak teman senasib sepenanggungan dengan anda *tunjuk diri sendiri*. Yang harus kita lakukan adalah tarik napas panjang (jangan lupa hembuskan)… dan lanjutkan proses toilet trainingnya.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s