Belajar dari Kematian

Pada Jumat malam  yang lalu saya dikabari tante kalau mbah (yg merupakan mertua tante) meninggal. Walaupun dari segi kekerabatan lumayan jauh, tapi hubungan saya dengan mbah cukup dekat. Kami sering ngobrol ketika bertemu di rumah tante, dan juga dalam masa sakitnya kami sekeluarga selalu menyempatkan untuk menengok beliau baik di rumah maupun RS.

Hari Sabtunya mbah dimakamkan, dan sekali lagi saya diingatkan akan kematian (sesudah postingan saya yang lalu disini). Sesuatu yang sangatlah dekat dengan kita, tak tahu kapan datangnya. Walau berlindung di benteng yang kokoh kita takkan mampu sembunyi darinya. Tak dapat dimajukan, atau dimundurkan. Mengingat kematian, merupakan satu pemutus kenikmatan (dunia). Dan mengingat kematian juga salah satu tanda kecerdasan seorang muslim,sebagaimana hadits Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-.

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka. ’ ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas. ” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384).

Ya, tak ada salahnya kita belajar dari kematian.
Demikian juga dengan saya, ada beberapa hikmah yang saya petik dari meninggalnya mbah saya tersebut.

1. Dampingi seseorang ketika hendak berpulang, agar di akhir hidupnya yang terucap adalah kalimat laa ilaaha illallaah.
Saya ingat waktu itu tante bercerita pada suami kalau beliau mendampingi ketika mbah menghembuskan nafas terakhir dan mentalqinnya. Saya dan suami berharap akhir ucapan dari mbah saat itu adalah laa ilaaha illallah.

“Tuntunlah orang yang hendak meninggal di antara kalian dengan Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” (HR. Al Hakim dari shahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ahkamul Janaiz)

Dan sesudah saya diskusi dengan suami, ternyata ada adab dalam mentalqin mayit, yaitu :
a. Hendaknya dilakukan secukupnya tanpa perlu mengulang-ulang
b. Cukup sekali, kecuali bila mengucap ucapan lainnyac. Talkin adalah mengingatkan bukan memerintahkan
d. Talkin diperuntukkan kepada seluruh orang
e. Talkin dengan lafadz laa ilaaha illallaah

Saya sebelumnya berpikir, ketika mentalqin dilakukan berulang-ulang, tapi ternyata bukanlah demikian. Ketika orang yang kita talqin sudah menyebut laa ilaaha illallah maka sudah kita hentikan, tidak memaksanya berulang-ulang menyebutkan hal itu. Apalagi jika kita bumbui dengan perkataan lain diluar kalimat tahlil tersebut (misal disuruh istigfar, mengucap basmallah, dan lain-lain), karena dikhawatirkan nanti malah akhir perkatannya bukanlah laa ilaaha illallah. Na’udzubillahi mindzalik.

2. Harta boleh banyak, kedudukan boleh tinggi, tapi yang ikut adalah amalan.
Waktu itu saya mengikuti proses pemakaman mbah, walaupun saya tidak ikut ke makam, tapi saya ikut dalam proses mengkafani beliau. Saya sempat menitikkan airmata ketika membantu proses pengkafanannya. Ya Allah..inilah nanti ketika seorang manusia meninggal dunia. Tidak ada yg bisa dia lakukan, hanya bisa pasrah dengan orang-orang yang menolong memakamkannya. Menjadi pelajaran bahwa semasa hidup kita harus tetap menjalin silaturrahim dengan baik lingkungan sekeliling kita, baik dengan keluarga, tetangga maupun saudara, karena merekalah yang nanti akan membantu kita, mulai dari proses memandikan, mengkafankan, menyolatkan, memakamkan.

Dan menjadi pelajaran juga bahwa sebanyak apapun harta yang kita punya, uang bermilyar-milyar, pakaian mewah beratus potong, puluhan mobil  sport harga selangit, itu tidak akan kita bawa ketika kematian datang. Modalnya hanya kain kafan yang membungkus badan, dan yang tersisa dan bisa dibawa hanya amalan. Itu saja.

“Ada tiga perkara yang mengikuti mayat (ke kuburan): Keluarganya, hartanya, dan amalannya. Maka dua darinya akan pulang dan yang satu akan tinggal: Keluarga dan hartanya akan pulang dan amalannya yang akan tinggal.” (HR Bukhori Muslim, diriwayatkan dari Anas Bin Malik)

3. Doa seorang anak sangatlah berharga bagi orangtuanya yg telah berpulang.
Telah kita ketahui bersama sebuah hadits masyhur mengenai terputusnya segala amalan ketika meninggal kecuali tiga perkara

Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Disinilah perlunya kita mendidik anak sedari kecil hingga akhir hayatnya mengenai pendidikan agama. Melindunginya dari kesyirikan, mendekatkannya pada kebaikan, mengajarkannya akhlak dan adab, serta hal-hal yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan harapan -bi idznillah- ia akan menjadi anak sholih/sholihah, diberkahi Allah menjadi penghuni surga, dan bisa membantu kita -sebagai orangtua- ketika sudah berpulang kelak dengan terus mendoakan dan memintakan ampun kepada Allah.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di jannah, kemudian ia berkata: ‘Wahai Rabbku, dari mana ini?’ Maka Allah berfirman: ‘Dengan sebab istighfar (permintaan ampun) anakmu untukmu’. ” (HR. Ahmad)
Dan Al-Bazzar meriwayatkan dengan lafadz:
“Dengan sebab doa anakmu untukmu” (Lihat Ash-Shahihul Musnad, 1/383-384, cet. Darul Quds)

Semoga Allah memberkahi kita akhir yang baik. Wallahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s