Jangan Kau Laknat Anakmu

credit : www.studenti.it

                credit : http://www.studenti.it

“Genduukk… ngga usah bentak-bentak ibu! nanti mulutmu menyong ben!”

“Tholeee… dasar bodoh, susah diatur, ndableg.. mau jadi apa kamu nanti?jadi wong ngemis aja di jalan sana!”

Na’udzubillahi min dzalik.

Dear parents, berhati-hatilah dalam setiap perkataan dan doa yang kau keluarkan untuk anakmu. Jangan sampai penyesalan yang kita dapatkan, tatkala perkataan buruk yang kita lontarkan dikabulkan oleh Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak diragukan lagi : doa orang yang dianiaya, doa orang yang bepergian jauh, dan DOA (KEJELEKAN) ORANGTUA BAGI ANAKNYA” (HR Al Bukhari dan yg lainnya, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no.14)

Belajarlah dari kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang mendapat ujian dari Allah berupa fitnah dari seorang pelacur karena laknat dari ibunya ketika dia tidak memenuhi panggilan sang bunda.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan (bayi di masa) Juraij” Lalu ada yang bertanya,”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?” Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya.  Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.” Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.

Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.

Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?” Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan (ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”

Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti sedia kala.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.”

(Disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod) [Dikeluarkan pula oleh Bukhari: 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8]

Ya, mari kita petik hikmah bersama dari kisah di atas. Jangan sampai karena emosi semata sehingga keluar laknat bagi buah hati kita yang menjadikannya berbuah keburukan bagi mereka.

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri-diri kalian, anak-anak kalian, dan harta-harta kalian. Jangan sampai kalian menepati saat ketika Allah mengabulkan setiap orang yang meminta, (sehingga doa kejelekan itu) dikabulkan untuk kalian” (HR Muslim no. 5328)

Semoga Allah senantiasa memberkahi kesabaran dalam membimbing dan mendidik anak-anak kita. Wallahul musta’an.

6 Comments

  1. kemarin pas nunggui anak tidur siang terdengar oleh saya ada ibu-ibu lewat sambil memarahi anaknya, nggak cuma ‘doa’ yang jelek, nama2 hewan pun disebutkan sebagai umpatan rasanya malah saya yang mau mewek, anaknya juga sudah meraung-raung. Sesaat kemudian saya mendengar ada ibu-ibu lain mengomentari “Eh dia dimarahin ibunya nggak lama sudah cengengesan aja ya” semoga sebagai ibu saya selalu diberi kekuatan untuk menjaga emosi, ucapan, tindakan & bersikap sabar terhadap anak. Jangan sampai terbiasa berkata buruk terhadap anak, apalagi sampai anak ‘terbiasa’ ditegur dengan kata2 seperti itu, yang pada akhirnya akan ditiru bahkan terbawa saat ia punya anak nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s