Jagalah, Selagi Ada

Kita tentu tahu bagaimana kehilangannya Pak Habibie ketika Ibu Ainun meninggal, kebersamaan mereka berpuluh tahun meninggalkan begitu banyak memori yg mendalam. Suka dan duka mereka hadapi bersama selama berpuluh tahun mengarungi kehidupan rumah tangga, sehingga terpatri kuat kelembutan dan kesetiaan sang istri ketika disampingnya.

Begitu juga dengan Buya Hamka ketika istri beliau mendahuluinya.
Berikut adalah penuturan Irfan, putra Buya, yang menuturkan bagaimana Buya sepeninggal istrinya atau Ummi Irfan .

***

“Setelah aku perhatikan bagaimana Ayah mengatasi duka lara sepeninggal Ummi, baru aku mulai bisa menyimak. Bila sedang sendiri, Ayah selalu kudengar bersenandung dengan suara yang hampir tidak terdengar. Menyenandungkan ‘kaba’. Jika tidak Ayah menghabiskan 5-6 jam hanya untuk membaca Al Quran.

Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?”tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi. [Ayah – Irfan Hamka (hal 212-213)]

***

Dan begitu pula Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- yang merasa kehilangan ketika ditinggalkan oleh Khadijah. Begitu banyak kebaikan Khadijah selama menjadi istri beliau, sehingga sesudah beberapa lama sepeninggal beliau Rasulullah seringkali memujinya.

Aisyah radhiallahu ‘anhaa bertutur:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyebut tentang Khadijah maka iapun memujinya, dengan pujian yang sangat indah. Maka pada suatu hari akupun cemburu, maka aku berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya”. Maka Nabi berkata, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain” (HR Ahmad no 24864 dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad)

***

Dari hal di atas kita belajar, bahwa suami istri itu sejatinya saling melengkapi, sehingga ketika satu bagian hilang maka bagian lainpun akan merasa kurang.

Ada yang bilang rasa sayang itu ada ketika merasa kehilangan. Maka jagalah apa yang ada disisi kita, selagi ada.

Perlakukan dengan baik karena mereka adalah amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jangan sia-siakan apa yang menjadi tanggunganmu. Pelajari mengenai hak istri dan suami dalam pernikahan, lalu amalkan. Penuhi hak pasangan masing-masing, dan lakukan kewajiban dengan sebaik-baiknya.

Belajarlah dari rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bagaimana seharusnya seorang suami memperlakukan istri..

Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah,apa hak istri atas suaminya? Beliau menjawab,
“Dia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkan dan tidak menghajr (boikot) kecuali di dalam rumah.” (HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

Dan juga belajar dari beliau bagaimanakah seharusnya sikap seorang istri..

Hadits nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam sunnan an-Nasa’i dari hadits Abu Hurairoh rodhiyallohu anhu,
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah istri yang baik itu?” Beliau menjawab :
“Yaitu istri yang menyenangkan suaminya ketika dipandang, mentaati suaminya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya dengan sesuatu yang dibenci suaminya baik berkenaan dengan dirinya sendiri ataupun dengan hartanya.” [HR. an-Nasa’i dalam sunannya no. 3231 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 1838]

Hadits Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, bahwasanya Rosulululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian di surga?”
yaitu istri yang akan menjadi penduduk surga disebabkan sifat-sifatnya yang mulia dan tabiatnya yang diberkahi, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Yaitu setiap wanita yang penyayang lagi subur, jika ia marah atau suaminya marah kepadanya, ia berkata : “Ini tanganku kuletakkan di tanganmu, aku tidak akan memejamkan mata sebelum engkau ridho kepadaku” . [HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 1743 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3380]

Karena itu  jagalah amanahmu..  jangan sampai sesal dikemudian hari karena menyia-nyiakan mereka selama hidupnya. Smoga Allah memberikan kemudahan dan petunjuk dalam setiap langkah mengarungi bahtera rumah tangga.

#selfreminder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s