Bahaya yang Terselip dalam Film Kartun

Boy & girl watching tvDear parents,
Berhati-hatilah dalam memilihkan tayangan untuk anak, dan usahakan dampingi mereka ketika sedang menontonnya, walau film kartun sekalipun yang kelihatannya “aman” bagi mereka.
Saya memang sangat membatasi anak saya dalam menonton TV, apalagi kalo ada suami, sama sekali tidak menonton TV di rumah.

Beberapa waktu lalu saya iseng nonton berdua dengan Khansa film kartun Pororo di televisi *I know, my fault :'( *
Awalnya memang biasa saja, Pororo dan teman-temannya sedang berusaha berlatih utk memenangkan kejuaraan ski. Masalah muncul ketika malam sebelum kejuaraan berlangsung, Pororo dan teman-temannya melihat bintang jatuh, dan kemudian mereka mengajukan doa kepada bintang jatuh tersebut agar bisa memenangkan lomba, dan doa itu diucapkan berulang-ulang.

See the probs? kalau tidak berhati-hati dan tidak kita dampingi serta diberi pengertian (apalagi jika anaknya sudah paham kata-kata yang diucapkan tokoh tersebut), sang anak bisa meniru hal itu dan tentunya bahayanya besar sekali, yaitu termasuk kedalam perbuatan syirik/ menyekutukan Allah.

Beberapa bulan lalu juga saya sempat sekilas melihat film kartun Aladin dari tv kabel yang sedang disetel ketika sedang berada di rumah kerabat. Alhamdulillah waktu itu Khansa asyik dengan mainan yang lain jadi tidak memperhatikan tayangan tersebut. Tapi ketika saya melihat seorang anak kecil berusia 6 tahun yang berada di dekat saya, tampak ekspresinya terlihat senang dan “berbunga-bunga” ketika menyaksikan Aladin dan putri Jasmine berpelukan dan kemudian terbang bersama karpet ajaibnya.

Hellow, anak itu baru 6 tahun. Disuguhi adegan dua orang dewasa  berlawanan jenis yang saling berpelukan.  Kids are like sponge. Mereka menyerap (dengan sangat baik) apa yang dilihatnya. Bagaimana jadinya kalau anak kita meniru adegan tersebut dengan teman lawan jenisnya? ya kalau “hanya” berpelukan (yang tetap saja salah!), bagaimana jika ditambah adegan berciuman yang bisa saja kita jumpai dalam film-film kartun buatan western country. Berpelukan dan berciuman dengan siapa saja mungkin merupakan budaya negara tersebut yang biasa di mata mereka, tapi tidak dalam pandangan Islam.

Agama ini mengajarkan pembatasan dalam pergaulan antara lawan jenis, termasuk dalam hal berpelukan dan berciuman, bahkan berpegangan tangan. Pembatasan ini bukan karena Islam adalah agama kolot yang mengekang kebebasan seseorang,tapi justru Islam berusaha menjaga dan melindungi kita agar terhindar dari hal-hal yang mengandung dan mengundang keburukan serta kemaksiatan. Islam menjaga agar” perhiasan yang mulia” bagi wanita hanya dipersembahkan bagi suaminya, begitupun bagi kaum prianya.

Ini masih membicarakan adegan dewasa yang tidak pantas dikonsumsi anak yang terselip dalam film kartun. Belum lagi jika kita lihat pakaian para princess tersebut. Kalau tiap hari anak dicekoki dengan tontonan para putri dengan pakaian yang serba terbuka -bahkan ada yang terlihat bagian belahan dadanya- , mereka pun menjadi terbiasa dengan pakaian tersebut, bahkan bisa jadi kemudian menirunya. Na’udzubillahi mindzalik. Lalu dikemanakan tuntunan rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- mengenai adab berpakaian bagi muslimah? akankah kembali ke masa purba dengan pakaian yang serba minim?

Mengambil perkataan dari seorang wartawan wanita asal Yaman peraih Nobel Peace Prize 2011, Tawakul Karman, ketika dalam sebuah kesempatan seorang jurnalis mempertanyakan hijab yang dipakainya seraya mengatakan (busana) itu tidak sebanding dengan intelektualitas Karman, begini jawaban Karman :

“Man in The early times was almost naked, and as his intellect evolved he started wearing clothes. What I am today and what I’m wearing represents the highest level of thought and civilization that man has achieved, and is not regressive. It’s the removal of clothes again that is regressive back to ancient TIMES.” (source : here)

NOTE : saya bukan pengagum Karman, hanya menukil perkataannya tentang hijab saja.

Please dear parents,Berhati-hatilah dalam menjaga amanah kita. Anak-anak itu belum tahu mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Kita sebagai orangtua yang memegang kendali dalam mengarahkannya, hingga saatnya mereka dewasa dan menjalani hidupnya.

Siapa yang tahu keadaan dunia di masa yang akan datang?anak-anak kita akan menghadapi tantangan luar biasa terutama dalam hal mempertahankan aqidahnya. As we all know bahkan sekarang pun free sex sudah menjadi hal lumrah di bumi pertiwi ini. Paham yang memperbolehkan nikah mut’ah (kawin kontrak) sudah mulai bercokol di nusantara. Belum lagi bahaya narkoba dan minuman keras yang makin merajalela.  Na’udzubillahi mindzalik. Ya Allah lindungi kami dan generasi penerus kami dari segala kemaksiatan dan keburukan :'(

Sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua memberikan bimbingan dan menanamkan pendidikan agama yang kuat bagi anak-anak kita karena itulah bekal utama bagi mereka dalam mengarungi hidup. Tanamkan nilai-nilai Islam yang berpedoman pada Al Qur’an dan As-Sunnah, “peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham”. Ambil teladan dari rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- serta para shahabat dan shohabiyah.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. ” (QS. Al-Ahzab :21)

Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal para tokoh kartun itu daripada rasulullah, shahabat, dan shohabiyah.
Ganti cerita menjelang tidur yang biasanya mengenai Cinderella, Snow White, ataupun Princess Aurora dengan kisah dan keteladanan dari pendahulu umat ini. Ceritakan mengenai kelembutan akhlak rasulullah, kesetiaan Khadijah, kecerdasan dan luasnya ilmu Aisyah, ketegasan Umar bin Khattab, keberanian Kholid bin Walid, dan lainnya yang tentunya jauh lebih baik dan mulia dibandingkan para tokoh rekaan manusia tersebut.

Didiklah anak kita agar berpegang teguh pada tali agama Allah hingga hembusan nafas terakhir, kuatkan aqidah dan pendidikan akhlak mereka. Karena kita tak selamanya ada di samping mereka.
Wallahul musta’an.

8 Comments

  1. Makin ke sini tayangan TV memang makin mengkhawatirkan ya Mak… Terutama buat anak-anak yang tentunya masih suka meniru & belum bisa memfilter. Ini tantangan besar bagi umat Muslim yg pandai membuat film animasi… Perlu dicounter nih… Macam Upin & Ipin tuh aman sepertinya ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s