Benarkah Jilbab dan Cadar Itu Hanya Budaya Arab?

Mulai Oktober tahun lalu, ketika melaksanakan sholat Idul Adha, dimulailah perjalanan pertama saya mengenakan niqob/cadar.

Bukan hal yang mudah untuk memulainya, mengingat di komplek dimana saya tinggal saat ini belum ada seorangpun yang mengenakannya. Lain halnya dengan kontrakan lama saya dimana dalam satu RT saja ada 3 ummahat bercadar sehingga masyarakat disana sudah tidak asing lagi dengan hal itu.

Butuh waktu untuk menguatkan hati dan proses hingga saya mengenakannya full di luar rumah. Belum lagi tanggapan dari keluarga dekat saya ada yang belum sepenuhnya menerima hal tersebut. Beliau mengkhawatirkan bahwa ketika nanti saya mengenakan cadar maka saya akan dijauhi tetangga, kemudian saya akan mengisolasi diri dan tidak mau bersosialisasi. Serta khawatir nantinya saya akan menjauh dari keluarga, karena beliau memandang bahwa orang bercadar itu kemudian nge-grup sendiri dan bersikap ekslusif.

Saya sangat memahami kekhawatiran seseorang yang saya sayangi tersebut. Pandangan beliau bisa jadi mewakili pandangan masyarakat umum mengenai muslimah bercadar.

Saya sudah sampaikan ke beliau bahwa -in sya Allah- tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Mengenai sosialisasi dengan lingkungan sekitar in sya Allah tetap berjalan baik, Khansa tetap ikut posyandu,  anak-anak juga main ke rumah kami begitupun sebaliknya saya dan Khansa main ke tetangga, ngobrol sama ibu-ibu, suami juga sering ngobrol sama bapak-bapak, ikut kerja bakti, ikut membantu ketika penyembelihan Idul Adha, dan kegiatan lain yang tidak melanggar syari’at.

Kalau kekhawatiran menjauh dari keluarga in sya Allah juga tidak demikian. Kami masih sering kontak dengan kakak, adik, saudara-saudara baik via telp, sms, skype, wa, bbm, fb. Kami juga menyempatkan ziaroh (berkunjung) ke om dan tante yang berada di sini. Acara-acara keluarga juga kami hadiri.

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:
“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].
Sumber : disini

Sedangkan mengenai ngegrup atau sikap “ekslusif” muslimah bercadar mungkin saja ada yang berbuat demikian, tapi tidak dapat digeneralisir bahwa semuanya seperti itu. Alhamdulillah banyak teman-teman saya muslimah bercadar yang tetap aktif berkegiatan dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Ada dokter yang membuka praktek, ada apoteker yang mendirikan apotek, ada yang menjadi guru bantu pada sebuah SD yang kekurangan, dan kegiatan sosial lainnya. Maybe we just haven’t met them yet.

Nah, “tantangan” berikutnya adalah dari saudara saya.

Ketika saya ziaroh (berkunjung) ke salah seorang saudara saya, beliau menanyakan perihal cadar yang saya kenakan. Berawal dari pertanyaan tetangganya kepada beliau “itu saudaranya aliran apa sih kok pakai cadar?”. Beliau lalu mengatakan kepada saya kalau cadar adalah budaya arab. Bahkan beliau bilang ada kok haditsnya, tapi saat itu ngga disebutkan hadits manakah yang dimaksud (?). Saya hanya bisa tersenyum dan bilang bahwa ada contoh dari Aisyah bahwa beliau mengenakan penutup wajah. Saya tidak memperpanjangnya karena khawatir malah akan menjadi perdebatan.

Pernyataan saudara saya tersebut terbantahkan sudah. Salah satu penjelasan adalah ketika saya dan suami mengikuti ta’lim di masjid Arrohman Bantarjati bogor pada hari Minggu tanggal 20 April 2014 yang lalu oleh Ust Abdul Jabbar. Oh, I wish she was there.

Dalam pengantar Kajian Sifat Sholat Nabi, beliau menyebutkan beberapa hal. Diantaranya benarkah bahwa memakai jilbab, memakai cadar adalah budaya arab?
BUKAN. Ini adalah tuntunan/ajaran dalam ISLAM, BUKAN BUDAYA ARAB
. Sedangkan budaya arab itu salah satunya adalah tabarruj.

Menukil dari artikel disini.
Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)

Sedangkan yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus.

Apa itu tabarruj?

 Az-Zajjaj Abu Ishaq Ibrahim bin As-Sirri (wafat th 311H) berkata: “Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan segala yang dapat mengundang syahwat laki-laki.”

Qatadah v menambahkan bahwa wanita yang bertabarruj adalah wanita yang keluar rumah dengan berjalan lenggak-lenggok dan genit. (Tafsir Ath-Thabari, 10/294)

Silakan cek artikel disini mengenai penjelasan lebih lanjut tentang tabarruj.

Jadi kalau mau tahu budaya arab jaman jahiliyah itu antara lain tabarruj, berhias, dan juga memperindah anggota tubuh dengan mentato, mengerik alis, mengikir gigi.

Di dalam kitab Shahih dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Allah melaknat orang yang membuat tato, orang yang minta dibuatkan tato, orang yang mengerik alis, orang yang minta dikerikkan alis, orang yang mengikir giginya dengan maksud memperindah dengan merubah ciptaan Allah.”.Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “mengapa saya tidak mengutuk apa yang dikutuk oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam sedangkan di dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,’Apapun yang disampaikan oleh Rasul kepadamu, maka laksanakanlah, dan apapun yang dilarangnya maka jauhilah’(Al Hasyr:7)”

(Hadist Riwayat Bukhari – Muslim)

Ibnu Katsir menceritakan hal itu di dalam Tafsirnya (2/359 cetakan Dar Al-Andalus):”Dan telah diuji dengan bahaya yang mengkhawatirkan, yang ini merupakan dosa besar dari dosa-dosa besar yang kebanyakan dilakukan oleh wanita sekarang sehingga Namsh (kerikan alis) menjadi sebuah kebutuhan pokok harian. Dan seorang istri tidak diperbolehkan mentaati suami jika ia menyuruh berbuat hal tersebut karena hal itu termasuk perbuatan maksiat”
sumber : disini

Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah berasal dari Islam dan merupakan tuntunan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam.

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nuur: 31)

Lalu bagaimana dengan cadar?betulkah bahwa tidak pernah ada contoh shohabiyah atau tuntunan Rasulullah mengenai hal ini?
Mari simak beberapa hadits berikut..

Perkataan ‘Aisyah dalam peristiwa Haditsul Ifki:
“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)

Asma’ binti Abi Bakar berkata: “Kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisiri rambut sebelum itu di saat ihram.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

‘Aisyah berkata:
“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)

I think it’s clear now. Bahwa ADA contoh dari shohabiyah -bahkan dari ummul mukminin Aisyah- mengenai syari’at cadar.

Alhamdulillah keluarga inti saya sudah bisa mulai menerima, walaupun beliau request agar saya tidak mengenakannya ketika ada acara kumpul keluarga karena khawatir keluarga besar belum bisa menerima. Saya dan suami sepakat untuk menerima permintaan beliau tersebut. In sya Allah semua berproses dan bertahap. Kami berpegang pada pendapat ulama bahwa cadar itu sunnah (ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum cadar apakah wajib atau sunnah, silakan cek disini utk lebih lanjut), namun bukan berarti kemudian bermudah-mudah untuk melepasnya, karena betapa banyak fitnah terjadi berawal dari ketertarikan wajah. Wallahul musta’an.

Kalau ada yang komentar “kan cuma sunnah aja ngga usah dikenakan lah, kerjakan yang wajib dulu aja”.
Maka saya menjawab, “tentu saja saya in sya Allah berusaha memenuhi yang wajib, tapi kalau yang sunnah saya mampu mengerjakannya, mengapa tidak saya lakukan?”

 Semoga Allah memberkahi kami kemudahan dalam menjalankan tuntunan Rasulullah ini ini.

 

6 Comments

  1. Affan ummi …. ini pendapat saya…. terkadang memakai penutup wajah jadi bingung ini sama sapa karna sering tertukar …. insyaalah mudah-mudahan ketika teteh ato sapa saja memakai penutup wajah ketika berbincang dengan yang lain bisa dibuka jadi lebih nyaman ..untuk yang disekitar..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s