Perhatikan Batas Tanahmu

wpid-dsc_0174.jpg

Ini adalah pintu pagar rumah saya. Terlihat agak aneh (tidak sama dengan umumnya) karena bagian pintu kecilnya miring/serong, tidak sejajar dengan pintu rel dorongnya.

Tadinya kami agak bingung menentukan bentuk pintu pagar karena tanah kami terletak di hook dan di bagian pojok kanan depan yang sedianya untuk pintu pagar berbentuk agak oval, jadi tidak persis siku-siku.

Beberapa waktu lalu ada seseorang yang mampir ke rumah dan bilang “mbok ya diluruske pagere”. Hmm.. bisa sih kami melakukannya dan hasilnya pasti lebih indah, tapii..ini berarti melanggar batas tanah kami walaupun hanya sedikit.

Saya beberapa kali melihat di perumahan, ada rumah yang pintu pagarnya melebihi batas tanahnya karena lahan garasinya terlalu sempit untuk memuat mobil yang dimilikinya. Jadi pintunya nungul memakan jalan umum. Mungkin ini dianggap remeh. Halah cuma dikit ini, paling 10 cm aja keluar ke jalan, toh orang masih bisa leluasa lewat.

Ya, cuma 10 cm, tapi akibat perbuatan tersebut sangat luar bisa di akhirat nanti ketika semuanya harus kita pertanggungjawabkan.

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Barang siapa yang berbuat zhalim (dengan mengambil) sejengkal tanah maka dia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.” Muttafaqun ‘Alaih, Riyadhush Shalihin no. 206.

Berkata Syaikh Al Utsaimin rohimallohu, “Hadits ini memberikan contoh jenis dari macam-macam perbuatan zhalim yaitu kezhaliman dalam masalah tanah, dan masalah merampas tanah termasuk dosa besar.
Dan sabdanya (sejengkal tanah) bukanlah ini bentuk penentuan kadar tetapi bentuk mubalaghah (kiasan) yaitu berarti jika merampas kurang dari sejengkal tanah juga tetap dikalungkan. Orang arab menyebutkannya sebagai bentuk mubalaghah yaitu walaupun sekecil apa pun maka akan dikalungkan kepadanya pada hari kiamat. Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.

Sumber : https://abuabdilbarr.wordpress.com/2007/06/22/merampas-tanah-dan-mengubah-tanda-batas-tanah/

Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam masalah ini. Jangan sampai mengambil apa yang bukan hak kita. Manfaatkan tanah kita dengan sebaik-baiknya tanpa mendzolimi/ mengambil hak orang lain. Kalau ada yang sudah terlanjur maka segera diperbaiki, sesuaikan dengan hak yang kita miliki.
Wallahu a’lam bishshowwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s