Eits, Jangan Pipis Sembarangan

pic taken from konsultasisyariah.com
pic taken from konsultasisyariah.com

pic taken from konsultasisyariah.comSudah agak lama kejadiannya, tapi masih berbekas dalam ingatan.

Waktu itu ada yang sedang berkunjung ke rumah kami, seorang anak kecil laki-laki. Ketika saya sedang memandikan Khansa, dia bilang mau kencing, ya sudah saya buru-buru merapikan Khansa dan membawa anak tersebut ke kamar mandi. Usia anak tersebut 5 tahun, saya pikir umur sekian sudah paham adab buang air kecil jadi saya hanya memperhatikan dari luar saja. Eh, tak tahunya dia hanya membuka celananya sedikit, pipis, kemudian memasang kembali celananya (yang saya yakini terkena cipratan air kencingnya), kemudian hendak keluar kamar mandi tanpa cuci tangan. Hoaa…horor langsung pikiran saya haha.. Lebay biarin, tapi bagi keluarga kami menjaga diri dari najis itu penting.

Langsung saja saya masuk kamar mandi dan saya mandikan sekalian anak tersebut (karena qoddarullah dibawakan baju oleh ibunya). Bisa dibayangkan jika tangannya yang terkena sisa air kencingnya kemudian dia buat bermain di rumah kami atau main dengan Khansa maka najisnya bisa nempel kemana-mana, belum lagi kalau kemudian dia makan maka masuklah bakteri ke dalam mulutnya. Jadi jangan heran kalau saya agak berhati-hati dalam masalah ini.

Pada kasus di atas, saya tidak mempermasalahkan apakah anak lelaki tersebut mau kencing berdiri atau jongkok, karena dalam hal ini tuntunan Rasulullah memperbolehkan untuk kencing berdiri (dengan catatan selama tempatnya tertutup, tidak ada orang yang dapat melihat auratnya, dan tidak ada bagian tubuhnya yang terciprati air kencingnya), walaupun lebih afdhol jika kencing sambil jongkok/duduk. Penjelasannya silakan simak fatwa berikut :

*****

BOLEHKAH BUANG AIR KECIL SAMBIL BERDIRI?

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bolehkah seseorang buang air kecil sambil berdiri ? Perlu diketahui bahwa tidak ada bagian dari tubuh atau pakaian yang terkena najis tersebut ?

Jawaban
Boleh saja buang air kecil sambil berdiri, terutama sekali bila memang diperlukan, selama tempatnya tertetutup dan tidak ada orang yang dapat melihat auratnya, dan tidak ada bagian tubuhnya yang terciprati air seninya. Dasarnya adalah riwayat dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm pernah menuju sebuah tempat sampah milik sekelompok orang, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri. Hadits ini disepakati keshahihannya. Akan tetapi yang afdhal tetap buang air kecil dengan duduk. Karena itulah yang lebih sering dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain juga lebih dapat menutupi aurat dan lebih jarang terkena cipratan air seni.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal edisi Indonesia Fatawa bin Baaz I, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdullah, Penerbit At-Tibyan – Solo]

*****

Kepada Khansa sedari dia bisa berkomunikasi dan bisa pipis sendiri saya wanti-wanti agar menjaga najisnya supaya tidak kemana-mana. Kalau mau pipis, buka celana semuanya, jongkok di wc, siram secara perlahan agar tidak terciprat air kencingnya ke bajunya. Sesudah itu cebok yang bersih depan belakang, cuci kaki, kemudian cuci tangan. Saya melepas Khansa untuk pipis sendiri sejak usia 3,5 tahun. Itupun awalnya saya dampingi, saya pastikan bahwa cara ceboknya dan membersihkan wc sudah benar dan bersih. Sampai sekarangpun dia usia 4 tahun masih harus sering diingatkan.

Mengapa masalah menjaga kebersihan dari najis ini sangat penting? karena ini merupakan masalah yang dianggap remeh tapi akan mendapatkan azab dari Allah ta’ala jika kita tidak berhati-hati melakukannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَرَّ النَّبِيُّ n بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan adzab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Satu hal  lagi, saya sering melihat ada anak laki-laki kencing sembarangan di pinggir jalan/ selokan (ehm, orang dewasa juga banyak mungkin yaa). Padahal ada ibunya di samping anak tersebut, dan diijinkan lho. Padahal bisa saja anak tersebut pulang dulu ke rumah, atau minta izin tetangganya untuk bisa numpang kencing sebentar. Entah orangtuanya tidak tahu adabnya atau memang karena menggampangkan masalah tersebut,  “Ah kan masih kecil biarin aja kenapa”. Lhaa.. biarin gimana kalau nantinya kebiasaan tersebut berlanjut hingga dewasa. Kencing di pinggir jalan itu bukankah berarti auratnya bisa terlihat orang lain? lalu itu ceboknya bagaimana? membersihkan kemaluannya menggunakan apa? membersihkan tangannya?

Jadi, PR buat kita semua sebagai orangtua (terutama ibu, yang lebih sering menghabiskan waktu bersama anak dan sebagai madrasah pertama bagi mereka) untuk mengajarkan adab buang air kecil secara benar sesuai tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-

Sebagai penutup tulisan ini, berikut saya nukil beberapa bagian penting dari artikel Adab Membuang Hajat untuk menjadi perhatian bagi kita bersama. Artikel lengkapnya silakan dibaca di tautan tersebut.

*****

ADAB MEMBUANG HAJAT

1. Doa Sebelum Buang Hajat
Perkara awal yang perlu diperhatikan dari Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini adalah ketika seseorang akan masuk ke tempat buang hajat (WC, toilet, dan semisalnya) hendaknya ia mengucapkan doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375)

2. Langkah Kaki Ketika Masuk dan Keluar WC
Telah diketahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mendahulukan bagian yang kanan dalam seluruh keadaan beliau. (HR. al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Hadits di atas menunjukkan keumuman. Namun, khusus pada keadaan-keadaan tertentu dimulai dengan yang kiri, seperti apabila beliau masuk WC, keluar dari masjid, dan yang semisalnya. Demikian dinyatakan oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied. (Syarah ‘Umdatil Ahkam, 1/44)

3. Menutup Diri
Abdullah bin Ja‘far radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengkan aku di belakangnya. Lalu beliau membisikkan kepadaku satu pembicaraan yang aku tidak akan memberitahukannya kepada seorang pun selama-lamanya. Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi menjadikan tempat yang tinggi (berupa bangunan atau selainnya) dan kebun kurma sebagai tempat berlindung (menutup diri) ketika buang hajat.” (HR. Muslim no. 342)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Kabar yang pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya bila ingin buang hajat beliau pergi ke tempat yang jauh dari penglihatan manusia. Namun, bila sekadar buang air kecil beliau tidak menjauh dari mereka.” (al­-Ausath, 1/321)
Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi untuk membuang hajat hingga tersembunyi dari para sahabatnya. (HR. al-Bukhari no. 203 dan Muslim no. 274 dari al-Mughirah ibnu Syu’bah radhiyallahu ‘anhu)

4. Tidak Memasukkan Sesuatu yang Mengandung Dzikrullah ke WC

Seseorang yang buang hajat lebih utama baginya untuk tidak membawa sesuatu yang padanya tertera zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala seperti Al-Qur’an dan lainnya, yang di dalamnya ada penyebutan nama Allah subhanahu wa ta’ala.

5. Larangan Menghadap dan Membelakangi Kiblat
Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar ataupun kencing, serta jangan pula membelakangi kiblat. Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat1.” (HR. al-Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264)

6. Boleh Kencing Berdiri

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah ketika membawakan hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang menerangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing berdiri sebagaimana telah lewat di atas, beliau mengatakan dengan judul bab (Bolehnya) Kencing Berdiri dan Jongkok.

Jadi, dipahami di sini bolehnya kencing dalam keadaan berdiri dan duduk, walaupun dalam hal ini terdapat perselisihan pendapat di kalangan ahli ilmu.

Didapatkan pula dari perbuatan sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, ‘Umar ibnul Khaththab, Zaid bin Tsabit, dan selainnya radhiyallahu ‘anhum, mereka kencing dengan berdiri. Ini menunjukkan perbuatan ini dibolehkan dan tidak makruh apabila memang aman dari percikan air kencing. (‘Aunul Ma’bud, 1/29)

7. Berhati-Hati dari Percikan Najis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua kuburan dan mengabarkan,

إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ. ثُمَّ قَالَ: بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

“Dua penghuni kuburan ini sedang diazab. Tidaklah mereka diazab karena perkara yang besar.” Kemudian Rasulullah mengatakan, “Bahkan ya. Adapun salah satunya, ia diazab karena tidak berhati-hati/ tidak menjaga dirinya dari kencing….” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292, dengan lafadz al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dengan merenggangkan/menjauhkan kedua kaki ketika duduk untuk buang hajat guna menghindari percikan air kencing.

Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Telah menceritakan kepadaku orang yang melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau kencing dalam keadaan jongkok dengan merenggangkan kedua kaki beliau selebar-lebarnya, sehingga kami mengira pangkal paha beliau akan terlepas.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 1/121 dan dinyatkaan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih, 1/500)

8. Tidak Berbicara

Tidak sepantasnya seseorang berbicara dengan jenis pembicaraan apa pun ketika sedang buang hajat kecuali bila memang terpaksa, sebagaimana dikatakan oleh para fuqaha.

Keadaan terpaksa itu seperti ia melihat seorang buta berjalan menuju sumur dan dikhawatirkan akan terperosok ke dalamnya, ada orang yang mengajaknya bicara dan mau tidak mau harus menjawabnya, ia punya keperluan kepada seseorang dan khawatir orang itu akan berlalu, ia meminta air, atau ada binatang berbisa yang hendak menggigit seseorang sementara orang itu tidak melihatnya dan semisalnya. Dalam keadaan seperti ini dibolehkan berbicara. (al-Majmu’, 2/107, asy-Syarhul Mumti’, 1/95)

Termasuk pembicaraan yang dilarang adalah menjawab salam dan ucapan zikir lainnya.

Al-Baghawi rahimahullah berkata dalam Syarhus Sunnah, “Bila seseorang bersin dalam keadaan ia sedang buang hajat maka ia mengucapkan tahmid (alhamdulillah) di dalam hati.”

9. Larangan Istinja’ dengan Tangan Kanan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing dan ketika istinja’ (cebok), sebagaimana sabdanya,

لاَ يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلاَءِ بِيَمِينِهِ

“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang kencing dan jangan pula cebok dengannya setelah buang hajat.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 154 dan Muslim no. 267)

10. Larangan Bersuci dengan Tulang dan Kotoran Hewan yang Telah Mengering/Membatu (Rautsah)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk mencari batu guna keperluan bersuci beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ

“Jangan engkau datangkan untukku tulang dan jangan pula rautsah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 155)

Di waktu yang lain, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah diminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari tiga batu untuk bersuci. Namun, ia hanya mendapatkan dua batu, sehingga ia mengambil rautsah lalu diserahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lalu mengambil dua batu tersebut dan membuang rautsah, seraya berkata, “Ini adalah kotoran.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 156)

11. Doa Keluar dari Tempat Buang Hajat

غُفْرَانَكَ

“Aku memohon pengampunan-Mu.” (HR. at-Tirmidzi no. 8, Abu Dawud no. 28, Ibnu Majah no. 296, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 52)

Doa di atas diucapkan ketika seseorang keluar dari tempat buang hajat. Kesesuaian doa ini dengan keadaan tersebut adalah setelah seseorang diringankan dan dilindungi dari gangguan fisik, dia akan teringat gangguan berupa dosa. Maka dari itu, dia meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar meringankan dosanya dan mengampuninya, sebagaimana Allah  subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan perlindungan kepadanya dari gangguan fisik. (asy-Syarhul Mumti’, 1/84)

*****

2 Comments

  1. anakku juga udh aku ajarin utk buang air besar dan kecil yg bener mba.. alhamdulillah umur 2.5 thn ini dia udh ga pake popok dan slalu bilang kalo mw ke wc.. Kdg kalo lg dlm perjalanan, dan dia kita pakein popok, ttp aja ga mw pipis di popoknya.. katanya udh gede :D …Maminya susah deh hrs nyari toilet drpd dia nahan2 pipis ntr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s