Pembatalan Jual Beli

pic : fjbsurakarta.on.paseban.com
pic : fjbsurakarta.on.paseban.com
pic : fjbsurakarta.on.paseban.com

pic : fjbsurakarta.on.paseban.com

Tulisan kali ini ingin membahas salah satu adab dalam bermuamalah/jual beli yang sangaat beraat dilakukan oleh penjual, saya pun baru pernah nyrempet melakukannya sekali selama menjadi pedagang. Lha kok ada kata nyrempet? in sya Allah akan saya jelaskan dibawah.

Di toko online saya zeatoys, memang tidak berlaku term “barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan” seperti pada umumnya dicantumkan di toko-toko, hal ini sudah pernah saya ceritakan disini. Saya perbolehkan pembeli untuk menukar barangnya atau mengembalikan uangnya jika barang yang sudah sampai rusak atau tidak sesuai dengan keinginan. Dalam hal ini saya tentukan jangka waktu maksimal klaim kerusakan atau penukaran barang 1×24 jam sejak barang diterima (data penerimaan barang bisa di-cross check via tracking ekspedisi).

Nah, adab bermuamalah yang akan dibahas disini adalah Iqalah.

Iqalah artinya pembatalan akad jual beli dengan kerelaan penjual dan pembeli. Ini merupakan kebaikan yang dianjurkan oleh Rasulullah -sholallau ‘alaihi wasallam- bila penjual dengan rela mau membatalkan akad jual beli ketika diminta oleh pembeli, di mana pembeli membutuhkannya, sekalipun akad telah sah.
Sebagai gambarannya, disebutkan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud: “Bila seseorang membeli sesuatu dari orang lain lalu menyesali pembeliannya, mungkin karena ada penipuan atau karena tidak lagi membutuhkannya, atau karena tidak punya uang lagi, sehingga ia kembalikan barang kepada penjual dan penjualpun menerimanya, maka Allah  akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat nanti. Hal itu merupakan kebaikannya terhadap pembeli, karena akad telah sempurna sehingga pembeli tidak dapat membatalkannya.”

Hmm.. berat sekali bukan wahai pedagang? *tunjuk diri sendiri*
Bayangkan jika ada yang beli mainan, kemudian sesudah barang diterima dan dipakai oleh pembeli, beberapa minggu kemudian pembeli menghubungi kalau mau mengembalikan mainan tersebut karena anaknya sudah tidak membutuhkannya lagi. Akad sudah sah, suka sama suka, tidak ada komplain dari pembeli.. eh makbedunduk suatu saat buyer bilang mau mengembalikan barangnya dengan meminta kompensasi uang yang sudah dia bayarkan (walaupun mungkin tidak full payment — ya iyalah, kan sudah digunakan barangnya).
Kalau kita (sebagai seller) mendapati hal tersebut apa yang kita rasakan? yup, mungkin emosi. Apa-apaan nih, sudah selesai akad kok mau dikembalikan, mana minta pembayaran lagi. Ogah! *jangan ditiru*
Saya pernah mengalaminya. Kejadian pertama, ada pembeli beli barang, kemudian ketika sudah sampai di tangannya dia tidak jadi membelinya karena anaknya tidak suka.  Saya bilang dia untuk mengembalikan barangnya ke saya dan saya transfer balik sejumlah barang tersebut.
Kejadian kedua, ada seseorang yang lumayan dekat dengan keluarga kami, datang ke rumah dan memilih serta mencoba mainan tersebut di hadapan suami. Kondisi barang oke. Kemudian ketika sampai di rumahnya mainan tersebut katanya rusak (tidak bisa bunyi), padahal saat mencoba di rumah saya fungsinya baik semua, tidak ada yang rusak. Suami saya bilang, “oke dikembalikan saja”. Dan tahukah kapan dikembalikannya?beberapa bulan kemudian. Dia minta ditukar dengan barang yang sama, kami turuti permintaannya.
Itulah yang saya bilang nyrempet, karena di kejadian pertama barang baru dicoba saja (belum lama digunakan), sedangkan kejadian kedua dia tidak meng-cancel orderannya, tapi minta diganti barang yang sama.
Oleh karena beratnya melakukan iqalah tersebut, maka ganjarannya pun sangatlah mulia.
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anha-, ia berkata: Rasulullah telah bersabda:
مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ أَقَالَهُ اللهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa mau membatalkan akad penjualan seorang muslim maka Allah akan lepaskan dia dari kesulitannya di hari kiamat.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan ini lafadznya, Al-Baihaqi dan yang lain, lihat Shahih At-Targhib no. 1758)
Monggo, pilihan di tangan kita apakah mau melakukan amal kebaikan tersebut atau tidak ketika suatu saat terjadi hal demikian di lapak kita. Yang terpenting adalah, mari menjadi pedagang yang memudahkan dalam urusan jual beli.
Dari Jabir,  bahwa Rasulullah  bersabda:
رَحِمَ الله رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى
“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang memudahkan urusan bila menjual, memudahkan urusan bila membeli, dan memudahkan urusan bila menagih haknya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits lain dari Utsman bin Affan berkata: Rasulullah bersabda:
أَدْخَلَ اللهُ الْجَنَّةَ رَجُلًا كَانَ سَهْلًا بَائِعًا وَمُشْتَرِيًا
“Allah memasukkan ke dalam Al-Jannah seorang penjual atau pembeli yang memudahkan urusan.” (HR. Ibnu Majah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s