Dari Chatting menjadi Cheating

Cheating bisa luas sekali maknanya. Diambil dari bahasa Inggris yang berarti curang, maka cheating bisa terjadi dalam berbagai hal, misalnya cheating di bidang penulisan,  cheating dalam pertandingan olahraga, atau cheating ketika ujian, dan lain sebagainya. Tapi yang akan saya bahas dalam hal ini adalah cheating dalam sebuah pernikahan, yaitu pengkhianatan cinta.

Bukan sekali dua kali saya dicurhati mengenai seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Dari lingkaran terdekat saja saya mengetahui ada 7 pasangan yang mengalami hal tersebut, dan saya yakin masih banyak pasangan yang mengalami hal tersebut. Kok yakin amat? karena saya pernah membaca salah satu postingan teman di FB yang dikhianati suaminya ketika dia sedang hamil tua, dan di komentar-komentar teman saya tersebut keluarlah curhatan beberapa istri yang mengalami hal serupa.

Duluuuu..cheating atau perselingkuhan bisa berawal dari ngobrol dengan teman lawan jenis di kantor, berlanjut sms-an, kemudian ketemuan, dan mulailah babak baru dalam pernikahanya yaitu adanya perselingkuhan.

Sekarang..cheating lebih mudah dilakukan, apalagi dengan banyaknya media sosial atau sarana chatting yang menjadi penghubung, sebut saja facebook, twitter, bbm, whatsapp, line, instagram, path, dan lain sebagainya. Bisa saja di depan istri menjadi seorang suami yang baik, berbuat seakan-akan tidak ada apa-apa, tapi dibalik handphone, tersembunyi obrolan dan kata-kata mesra kepada lawan jenis, bahkan janji-janji manis untuk bertemu di suatu tempat.

Ya, berawal dari chatting kemudian menjadi cheating. Ini bisa terjadi pada siapa saja (baik pria maupun wanita), kapan saja, dan dimana saja yaitu selama ada kesempatan, godaan syaithan dan lemahnya iman. Na’udzubillaahi min dzalik.

Padahal Allah sudah mengingatkan, dalam firman-Nya disebutkan,

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Penjelasan makna ayat وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

Dan janganlah kalian mendekati zina.
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam rangka melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan zina dan larangan mendekatinya, yaitu larangan mendekati sebab-sebab dan pendorong-pendorongnya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/55)

Kemudian dalam hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Ditetapkan atas anak cucu Adam bagiannya dari zina akan diperoleh hal itu tidak mustahil. Kedua mata zinanya adalah memandang (yang haram). Kedua telinga zinanya adalah mendengarkan (yang haram). Lisan zinanya adalah berbicara (yang haram). Tangan zinanya adalah memegang (yang haram). Kaki zinanya adalah melangkah (kepada yang diharamkan). Sementara hati berkeinginan dan berangan-angan, sedang kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)

Sumber : disini

 

Zina, pada awalnya hanya saling sapa, kemudian berpandangan mata, lalu tangan saling berbicara, hatipun ikut berkata, dan pada akhirnya kemaluanpun ikut serta. Na’udzubillahi mindzalik.

Perbuatan zina bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada seorang yang sudah berilmu sekalipun, terlebih jika syahwat sudah bergemuruh dan syaithan ikut serta didalamnya membisikkan untuk melakukan perbuatan maksiat.  Ingat bahwa syaithan bisa menyusup dalam diri manusia mengikuti aliran darah, sesuai hadits berikut.

 عَنْ صَفِيَّةَ ابْنَةِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُعْتَكِفًا ، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ ، فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِى لِيَقْلِبَنِى . وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ ، فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَسْرَعَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

Dari Shofiyah binti Huyay, ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku. Kala itu rumah Shofiyah di tempat Usamah bin Zaid. Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya wanita itu adalah Shofiyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

Ya, tentunya dalam kehidupan rumah tangga akan ada ujian, bisa jadi suatu saat pasangan kita berulah sangat menyebalkan sehingga membuat kita kesal hingga ke ubun-ubun, tapi bukan berarti kemudian itu menjadi alasan pembenar untuk melakukan suatu perbuatan maksiat.

Apabila seorang istri ada kesalahan/kelalaian dalam menunaikan kewajibannya, maka kewajiban suami adalah memberikan nasihat yang baik, jangan malah berbuat maksiat dengan wanita lain -yang belum tentu lebih baik dari istrinya-. Ingatlah tuntunan rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)

Ini adalah perintah untuk para suami, para ayah, saudara saudara laki laki dan lainnya untuk menghendaki kebaikan untuk kaum wanita, berbuat baik terhadap mereka , tidak mendzalimi mereka dan senantiasa memberikan hak-hak mereka serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini yang diwajibkan atas semua orang berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam, “Berbuat baiklah kepada wanita.”

sumber : disini

Jikalau suatu saat sorang istri nusyuz/ membangkang sehingga mengakibatkan suami marah, jangan kemudian curhat dan membicarakan aib/ keburukan istri dengan teman wanitanya. Mari lihat lagi tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- dalam hal ini. Kenali apa itu dan bentuk-bentuk nusyuz.

Secara bahasa nusyuz bermakna irtifa’, tinggi. Istri yang bermaksiat kepada suaminya diistilahkan nasyiz (orang yang berbuat nusyuz) karena pada perbuatannya tersebut ada sikap tinggi dan mengangkat dirinya dari menaati suaminya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Nusyuz istri adalah ia tidak menaati suaminya apabila suaminya mengajaknya ke tempat tidur, atau ia keluar rumah tanpa minta izin suami dan perkara semisalnya yang seharusnya ia tunaikan sebagai wujud ketaatan kepada suaminya.” (Majmu’ Fatawa, 32/277

Kemudian pelajari bagaimana sikap seorang suami ketika istrinya nusyuz.

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. An Nisa’: 34).

Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t dalam tafsirnya berkata, “Allah  berfirman, ‘Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka’, maksudnya mereka menarik diri dari menaati suami mereka dengan bermaksiat (tidak patuh) kepada suami, baik dengan ucapan ataupun perbuatan, maka suami hendaknya memberikan ‘pengajaran’ kepada si istri dengan cara yang paling mudah/ringan kemudian yang mudah/ringan.

Pertama, “berilah mau’izhah kepada mereka”, dengan menerangkan hukum Allah dalam perkara taat dan maksiat kepada suami, memberikan anjuran untuk taat kepada suami serta menakuti-nakuti dengan akibat yang didapatkan bila bermaksiat kepada suami. Bila si istri berhenti dari perbuatannya maka itulah yang dimaukan.

Namun bila tetap terus dalam perbuatannya, dalam artian nasihat sudah tidak mempan, barulah beranjak pada tahap berikutnya yaitu (kedua) diboikot/didiamkan di tempat tidur dengan tidak mau “tidur” bersamanya, tidak meng-”gauli”nya sekadar waktu yang dengannya tercapai maksud.

Bila tidak berhasil juga, barulah pindah ke tahap selanjutnya yaitu dipukul dengan pukulan yang tidak keras. Apabila telah tercapai tujuan (istri tidak lagi berbuat nusyuz, –pent.) dengan salah satu dari beberapa tahapan di atas dan istri kalian kembali menaati kalian, “maka tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka”, maksudnya adalah telah tercapai apa yang kalian sukai/inginkan, maka janganlah kalian mencela dan mencerca mereka dalam kesalahan-kesalahan mereka yang telah lalu, dan jangan menyelidiki/mencari-cari kesalahan yang akan bermudarat bila disebutkan serta menjadi sebab timbulnya kejelekan.” (Tafsir Al-Karimir Rahman, hal. 177)

sumber : disini

Tuh, di Islam sudah ada tuntunan dalam berumahtangga.

Saya juga hanya ingin mengingatkan.. para suami, berhati-hatilah terhadap fitnah wanita yang dapat menjerumuskan kepada perbuatan zina. Bukan, bukan berarti saya  menggenaralisir bahwa semua kaum saya adalah sumber fitnah. Saya hanya mengingatkan hal ini karena sudah banyak kejadian bahwa salah satu penyebab rusaknya rumah tangga seseorang adalah karena fitnah wanita (dari 7 orang lingkaran terdekat saya, semuanya adalah disebabkan hal tersebut).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda, 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740)

Hal ini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Seorang wanita dengan pesonanya dapat meluluhlantakkan hati laki-laki. Membuatnya lupa akan tugas yang diembannya dalam rumah tangga maupun kekuasaan yang dijabatnya.  Bahkan seorang pria rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi seorang wanita, ini berdasar kisah nyata yang saya ketahui sendiri.

Wahai suami, terimalah pasangan kita apa adanya -baik kekurangan dan kelebihannya-. Apabila dalam istri ada kekurangan/kelemahan, maka bersabarlah, nasihati, dan lihat kebaikan yang ada padanya, seperti firman Allah..

 

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang ma’ruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan.” (An-Nisaa’:19)

Demikian juga seorang istri juga hendaknya bercermin (termasuk diri saya), bisa jadi diri kita adalah pemicu dari perselingkuhan suami. Sudahkah kita memenuhi hak suami dengan baik?menunaikan kewajiban kita dengan seharusnya?menghibur suami dikala lelah, meladeni segala keperluan suami dengan sebaik-baiknya, mendengarkan segala keluh kesahnya, dan lain sebagainya. Saya pun masih belajar dalam hal ini, masih buanyak kekurangan saya dalam memenuhi kewajiban saya sebagai istri, tapi alhamdulillah saya diberkahi suami yang penuh kesabaran membimbing menuju kebaikan, barokallohufih Abu Khonsa.

Seorang istri, ketika suami marah maka sebaiknya bersabarlah. Susah memang untuk dilakukan (demikian pula dengan saya), terlebih jika ego sudah berbicara, akan tetapi ganjaran untuk bersabar dan menggapai keridhaan suami sangatlah besar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Sebagai istri, mari berusaha semoga kita menjadi sebaik-baik perbendaharaan dan perhiasan dunia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”

Oleh karena itu, yuk sama-sama introspeksi. Jikalau ada permasalahan dalam rumah tangga mari diselesaikan baik-baik. Tidak perlu curhat kesana kemari membicarakan aib atau keburukan pasangan kita yang berbuntut pada retaknya rumah tangga.

Batasi ikhtilath atau campur baur dengan lawan jenis, batasi pembicaraan yang tidak perlu dengan lawan jenis, tinggalkan kawan-kawan yang sekiranya bisa menjerumuskan kita ke perbuatan buruk. Untuk yang wanita, janganlah berkata dengan lemah lembut di hadapan lawan jenis yang bisa menimbulkan penyakit hati, tidak perlu tebar-tebar pesona foto selfie di media sosial, biarlah kecantikan kita hanya untuk suami semata. Ini adalah bentuk-bentuk pencegahan akan terjadinya perselingkuhan.

Ingatlah bahwa kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban akan setiap perbuatan kita.

…. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]

Semoga Allah melindungi keluarga kita dari keburukan dan perbuatan maksiat.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s