Kecil-kecil Kok Cadaran?

parenting
credit : twitter.com/islamparenting

credit : twitter.com/islamparenting

“Duh, kasian amat ya kecil-kecil sudah disuruh pakai cadar”, demikian batin saya ketika melihat sekelompok anak-anak memakai jilbab ritz safar ketika saya datang kajian di sebuah pondok di daerah Cileungsi Bogor.

Mereka adalah anak-anak yang belajar di pondok tempat kajian diselenggarakan. Saat itu memang cadar mereka dibuka karena ruangan untuk ibu-ibu terpisah dengan jama’ah laki-laki. Tapi di jilbab mereka terdapat cadar tempel dengan menggunakan retsleting yang memudahkan untuk dibuka tutup, sehingga saya berasumsi bahwa mereka disuruh untuk mengenakan cadar tersebut oleh orangtua mereka masing-masing.

Ternyata asumsi saya tidak sepenuhnya benar.

Belum tentu orangtua anak-anak tersebut yang meminta mereka untuk mengenakannya. Bisa jadi keinginan untuk memakai cadar berasal dari anak-anak itu sendiri. Kok tau?

Hal ini saya ketahui sesudah ngobrol dengan para ummahat tentang anak mereka masing-masing. Salah satunya adalah anak dari teman saya Ummu Saffa, anak ke 3 beliau yang bernama Hafshoh (kelas 1 SD) meminta sendiri untuk mengenakan cadar ketika suatu saat kami berjumpa di salah satu kajian di Cibinong. Kemudian ada lagi anak dari Ummu Zidan yang bersekolah di salah satu SD bermanhaj salaf di Bogor, beliau bercerita kalau anaknya ketika hari berpakaian bebas selalu meminta untuk memakai gamis lebar lengkap dengan jilbab bercadar, anaknya kelas 2 SD.

Kemudian satu lagi saya dapatkan ketika beberapa waktu lalu membaca di buku komunikasi TK, salah seorang ibu menuliskan di buku komunikasi tersebut bahwa anaknya ingin mengenakan cadar ketika sekolah, beliau meminta tolong kepada ustadzah untuk dibantu memotivasi apabila ada teman yang mengejeknya (dan in sya Allah tidak ada anak yang mengejek karena anak-anak di TK Anshorussunnah sudah akrab dengan cadar). Dan tahukah usia anak tersebut? baru 5 tahun.

Begitulah anak-anak menyerap segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dengan baik. Dalam hal ini, ketika para akhowat yang di lingkungannya berpakaian tertutup, menjaga aurat, maka in sya Allah mereka pun akan mencontohnya. Apalagi jika orangtuanya juga mengarahkan jikalau keluar rumah memakai baju yang sopan dan menutup aurat, maka in sya Allah seiring usianya mereka pun akan terbiasa mengenakan pakaian tersebut hingga dewasa kelak. Begitupun sebaliknya, jika dari kecil ketika keluar rumah dibiasakan memakai pakaian yang tidak menutup aurat seperti legging ketat, baju u can see, celana pendek (diatas lutut) dan lain sebagainya, ditambah lagi jika melihat ibunya pun berpakaian seperi itu, maka itulah yang akan dia serap dan teladani. Dia akan tumbuh sesuai kebiasaan dan lingkungannya.

Seorang penyair mengatakan:

Seorang anak tentu akan menghafal apa yang diberikan kepadanya

_____ Dan tidak akan lupa

Karena Hatinya seperti permata yang bening

_____ Maka ukirlah di atas hatinya berita yang engkau kehendaki

Maka kelak ia akan mengungkapkan

_____ Dari hafalannya yang sempurna

Seorang anak pikirannya kosong dan siap menerima segala sesuatu, sebagaimana dikatakan (dalam peribahasa):

“Mengukir (belajar) di masa kecil seperti mengukir di atas batu.”

Nah, contohnya saja saya yang baru mengenakan jilbab selepas SMA. Mengapa? ya salah satu sebabnya karena lingkungan saya tidak ada yang mengenakan jilbab. Hingga kemudian kakak saya mulai memakainya dan saya mulai coba-coba kemudian juga mengenakannya. Awalnya pun jilbab saya masih pendek, kemudian berubah ketika kuliah mulai dipanjangkan karena banyak berteman dengan akhowat berjilbab lebar dan ikut halaqoh. Kemudian berubah lagi mengecil ketika lepas kuliah dan mulai bekerja. Lalu berubah memanjang lagi ketika mulai mengenal manhaj salaf dan menikah dengan suami yang selalu mengingatkan akan syari’at yang benar dalam menutup aurat. Apa yang bisa disimpulkan dari memendek dan memanjangkan jilbab saya? yaitu pengaruh lingkungan dan bimbingan dari pihak-pihak terdekat (suami, keluarga, teman, saudara, dll). Maka pilihlah lingkungan yang mendukung untuk berubah menjadi lebih baik (in sya Allah).

Akan tetapi satu hal yang juga menjadi pegangan bagi para orangtua yaitu jangan terlalu memaksa anak-anak untuk sesuatu yang mereka belum terkena hukumnya (secara syari’at). Misalnya dalam masalah berpakaian. Jika suatu saat anak perempuan kita (masih balita) ketika di dalam rumah ingin memakai celana pendek (masih selutut dan tidak ketat), atau mereka tidak mau mengenakan jilbab ketika keluar rumah karena gerah, maka jangan kemudian kita marah dan menghardiknya kemudian menghukumnya dengan keras. Hal ini bisa jadi akan membuat trauma pada anak dan malah menjadikan mereka semakin enggan untuk menaati arahan/bimbingan dari orangtuanya untuk berlaku sesuai syari’at. Berkatalah dengan lembut kepada mereka akan hakikat menjaga aurat. Jikalau mereka tetap tidak mau maka orangtua harus mengalah selama keinginan anak masih dalam batas wajar. Jangan sampai ketika nanti pada waktunya mereka terkena hukum syar’i (sudah baligh) malah mereka tidak mau karena sudah merasa tertekan dan dipaksa saat sebelumnya.

Masih menjadi PR bagi saya dan suami akan kewajiban dan tanggungjawab bagi kami selaku orangtua untuk mendidik dan memberikan lingkungan yang baik bagi anak kami. Membiasakannya akan adab-adab islami (tata cara makan, minum, bertamu, bersin, mendoakan yang sakit, dll), memberikan contoh yang baik, dan memilihkan lingkungan pergaulan yang baik bagi mereka sebagaimana hadits An-Nu’man “Permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk adalah seperti pembawa minyak kasturi dan peniup api…” [Muttafaqun Alaih].

Seorang penyair berkata:

Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya
Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh
(Adabud Dunya wad Diin, hal. 334)

Senada dengan syair di atas ada pepatah arab yang mengatakan:

“Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tuapun dia akan terus melakukannya.” (Dinukil dan dibenarkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin dalam Majmu’atul as-Ilah Tahummul Usratal Muslimah, hal. 43)

Semoga Allah memberkahi kita para orangtua petunjuk dan kemudahan dalam mendidik anak-anak kita, sehingga menjadikan mereka sebaik-baik manusia yang berilmu dan bermanfaat bagi ummat. Wallahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s