#AyahyangDirindukan

bestdad

Walaupun judul postingan ini mirip dengan hashtag #surgayangtakdirindukan, tapi isinya sama sekali lain dengan hashtag tersebut yaa hehe.. Apa yang akan saya bahas disini adalah mengenai fatherhood.

Hari Senin satu minggu yang lalu ketika suami dinas ke kota Palu, malam hari sebelum tidur saya chat dengan ayah Khansa via  whatsapp. Kemudian saya minta Khansa yang ada di sebelah saya untuk mengetik. Khansa ketik, “Abi lagi apa”. Sesudah dijawab oleh ayahnya, lalu Khansa saya minta untuk kirim audio, dia bertanya, “Abi makan apa?”. Trus kesenengan deh, berulangkali gantian sama Abu Khansa kirim-kiriman audio sampai akhirnya saya sudahi dan minta Khansa untuk tidur karena sudah malam .

Sesudah itu saya merem sambil pukpuk Khansa di sebelah saya, lalu pas saya melek untuk cek Khansa apakah sudah tidur atau belum, lho kok dia malah lagi prembik-prembik mau nangis sambil bilang “Khansa mau sama abi”. Bilang begitu terus beberapa kali, padahal sudah saya jelaskan “Iya, in sya Allah hari Kamis abi pulang”. Akhirnya dia mau tidur sambil mengusap airmata dan ingusnya.

Walah genduk ini, padahal kalau ada ayahnya kadangkala keduanya “berseteru”. Ayahnya juga sih sukanya nggodain anaknya sampai teriak-teriak. Biasanya ta tinggal tidur saja “wis kono sing akur” hihi.. Lha rukunnya itu kalau ayahnya mulai keluar rumah atau ambil kunci motor. Langsung deh, gadis kecilnya membuntuti di belakang. Begitupun kalau ayahnya sholat ke masjid biasanya Khansa minta ikut. Alhamdulillah walau kadang “ribut” tapi hubungan ayah-anak dekat, sama-sama sayang. Buktinya? lha itu kalau ayahnya ngga ada dicariin hehe.. Ayahnya juga hafal benar kesukaan anaknya, mulai dari makanan sampai hal kecil lainnya.

Menjadi ayah memang sesuatu. Sanggup mengubah laki-laki yang tadinya tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga menjadi salah satu anggota paspampers (pasukan pengganti pampers)terkemuka. Itu ketika anaknya masih bayi. Ketika beranjak dewasa tantangannya lebih banyak lagi. Bagaimana menjadi ayah yang dekat dengan anak-anak ditengah kesibukan mencari nafkah. Mengatur waktu bagaimana menyelesaikan pekerjaan kantor dengan bermain dengan si kecil. Memanage hati ketika pulang hendak istirahat eh ada yang minta main kuda-kudaan, atau pasar-pasaran.

Ingin menjadi ayah yang bagaimana di mata anak kita, itu ada di tangan kita masing-masing. Apakah ingin menjadi seorang ayah yang ditakuti? dicueki? disegani? disayangi?

Ada tipe ayah yang ditakuti.
Ketika ia datang maka semua diam, berusaha melakukan semua aktivitas dengan sebaik-baiknya. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan maka suara menggelegar keluar dari mulut sang ayah dan menciutkan hati anak-anak (dan istrinya), bentakan dan kemarahan menghiasi hari-harinya. Maka untuk tipe ayah yang seperti ini maka kehadirannya tidak dirindukan oleh anak-anaknya. Disaat ayahnya tidak ada di rumah, maka keadaan aman tentram, tidak ada kekhawatiran dan ketakutan. Mereka berharap ayahnya jangan berlama-lama ada di rumah agar para penghuni rumah merasa nyaman.

Ada tipe ayah yang cuek.
Dia tidak peduli rumah mau keadaan berantakan atau rapi, anak sudah ada di rumah atau belum, dsb. Dia menyapa keluarga sekedarnya, sampai di rumah hanya untuk makan kemudian tidur. Sama sekali tidak ada interaksi hati dengan keluarga. Ketika anak menghampiri untuk bermain maka tanggapannya, “Main saja diluar, ayah tidak mau diganggu”. Untuk ayah tipe ini, ada dirumah maupun tidak, keberadaannya tidak ada pengaruhnya.

Ada pula tipe ayah yang perhatian dan sayang kepada keluarga.
Dia sangat memperhatikan hak-hak istri dan anaknya. Memberi nafkah, makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak. Memilihkan lingkungan yang baik bagi keluarganya. Ketika di rumah dia menyempatkan waktu untuk bercanda dan berbincang dengan anak dan istrinya. Kepulangannya dari tempat kerjanya sangat dinanti-nanti anaknya. Ayah seperti inilah yang merupakan #AyahyangDirindukan.

Ayah tipe terakhir ini sangat menyayangi anak-anaknya, tak segan untuk mencium mereka. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam-

Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- berkata :

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318)

Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhoinya- ia berkata :

جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

“Datang seorang arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317)

Ya, ketika seorang ayah mencium anaknya maka bukan berarti kegagahannya akan hilang di mata anak-anaknya dan berganti menjadi ayah yang lembek. Justru itu menandakan bahwa dia adalah seorang ayah yang penuh kasih sayang.

Lihatlah bagaimana sikap Rasulullah yang sangat lembut kepada keluarganya (dalam hal ini adalah cucunya). Bahkan beliau rela memperlama sujudnya ketika Hasan menaiki pundaknya ketika sedang mengimami sholat. Beliau sama sekali tidak menghardik atau marah dengan cucunya tersebut.

Suatu hari beliau sedang sujud –tatkala beliau mengimami para sahabat- maka datanglah Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib, lalu –sebagaiman sikap anak-anak-, Al-Hasan pun menaiki pundak Nabi yang dalam kondisi sujud. Nabipun melamakan/memanjangkan sujudnya. Hal ini menjadikan para sahabat heran (*mereka berkata :

هَذِهِ سَجْدَةٌ قَدْ أَطَلْتَهَا، فَظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ

“Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu”-pen),

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka,

ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

“Bukan…, akan tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakan dia hingga ia menunaikan kemauannya” (*HR Ahmad no 16033 dengan sanad yang shahih-pen dan An-Nasaai no 1141 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Lihatlah bagaimana Rasulullah menyayangi anaknya. Menyempatkan disela kesibukannya yang sangat padat sebagai pemimpin umat untuk sekedar menemui putranya yang sedang dalam masa susuan.

Anas Bin Malik –semoga Allah meridhoinya- berkata :

«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»، قَالَ: «كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ»

Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Maka Nabipun berangkat (*ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. lalu beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap. Suami Ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabipun mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali” (HR Muslim no 2316)

Satu hal yang perlu diingat, bahwa kasih sayang seorang ayah tidak menghalangi ketegasan beliau untuk membimbing dan mengarahkan anak-anaknya pada kebaikan dan untuk taat pada perintah Allah. Jangan sampai malah kemudian memanjakan anak sepenuh hati dan membiarkannya masuk ke dalam keburukan serta melanggar larangan Allah.

Salah satu contohnya adalah dalam hal menegakkan sholat.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


مُرُوا أُوْلاَدَكُمْ بِالصًّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِ بُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ .

Artinya: “Suruhlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (II/ 180, 187), Abu Dawud (no. 495), Al-Hakim (I/197), Al-Baihaqi (III/84), Ibnu Abi Syaibah (no. 3482), Ad-Daruquthni (I/230), Al-Khathib (II/278), dan Al-‘Uqaili (II/167), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Lihat juga Shahihul Jami’ (no. 5868)]

Syaikh Ibn Baz rahimahullah berkata,

“Perhatikanlah keluarga dan jangan lalai dari mereka wahai hamba Allah. Hendaknya kalian bersungguh-sungguh untuk kebaikan mereka. Perintahkan putera puteri kalian untuk melakukan shalat saat berusia tujuh tahun, pukullah mereka saat berusia sepuluh tahun dengan pukulan yang ringan yang dapat mendorong mereka untuk taat kepada Allah dan membiasakan mereka menunaikan shalat pada waktunya agar mereka istiqomah di jalan Allah dan mengenal yang haq sebagaimana hal itu dijelaskan dari riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”

(Majmu Fatawa Bin Baz, 6/46)

Tentu saja pukulan yang dimaksud pada hadits Rasulullah  dan fatwa Syaikh bin Baz di atas yaitu pukulan yang tidak melukai, tidak membuat kulit luka, atau tidak membuat tulang atau gigi menjadi patah. Pukulan di bagian punggung  atau pundak dan semacamnya. Hindari memukul wajah karena diharamkan memukul wajah berdasarkan larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pukulan hendaknya tidak lebih dari sepuluh kali, tujuannya semata untuk pendidikan dan jangan perlihatkan pemberian hukuman kecuali jika dibutuhkan menjelaskan hal tersebut karena banyaknya penentangan anak-anak atau banyak yang melalaikan shalat, atau semacamnya.  Sumber : disini

Bagaimana? Sudah siap menjadi #AyahyangDirindukan?

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s