#Anak_mah_Gimana_Orangtuanya

parenting2
parenting

                                     credit : http://www.corr.us

Dalam hal mendidik anak, tiap orangtua tentu mempunyai style yang berbeda-beda. Ada yang otoriter, anak tidak boleh ini itu, ada yang bersikap santai sehingga anaknya dibebaskan melakukan semua dan dituruti segala keinginannya tanpa batasan, dan ada yang bersikap pertengahan yaitu anak dibebaskan bertindak tapi diawasi dan diarahkan kedua orangtuanya. Silakan saja mau mengambil sikap yang mana dalam memperlakukan anak.

Saya teringat pada cerita seorang teman semasa di kantor dulu, ada salah satu teman kami (sebut saja A) yang anaknya hingga usia hampir 6 tahun kosakatanya masih sangat sedikit, cenderung pasif dengan lingkungan, dan seringkali tantrum ketika keinginannya tidak dituruti sehingga menyebabkan orangtuanya kemudian mengalah dan menuruti keinginan anaknya tersebut, walaupun mungkin hal itu kurang baik baginya. Anaknya ini suka banget nge-game, sehari-hari sebagian besar dilewatkan dengan gadget dan TV , ketika teman saya menasihati A untuk mengurangi jatah anaknya nge-game agar bisa berkomunikasi dan bersosialisasi lebih baik tapi tanggapan A dia bilang tidak bisa karena nanti anaknya pasti marah. Lho, piye iki..malah anaknya yang mengontrol orangtuanya. Tapi ya sudahlah, saya bukan orang yang berhak dan berkompeten untuk komentar lebih jauh.

Saya hanya akan menuliskan pengalaman pribadi saya mengenai anak.

Sudah sekitar 3 bulan ini Khansa tiap minggu selalu menunggu-nunggu datangnya hari Sabtu. Kenapa ya? hal ini karena hari Sabtu adalah jadwalnya boleh makan permen. Hampir tiap hari selalu bertanya, “Ummi, hari ini hari apa?”, kemudian sesudah saya jawab dia menghitung sendiri hari-hari menuju Sabtu.

Mengapa saya berlakukan one day a week for candy? Ya, karena melihat kondisi giginya agak memprihatinkan yaitu gripis dan ompong tiga gigi seri atasnya. Salah sayasebagai emaknya yang sebelumnya kurang memperhatikan kadar konsumsi permen Khansa. Dulu hampir tiap hari dia makan permen, dan ngga hanya satu per hari *maapkeun ummi ya nduk*. Kalau gosok gigi mah alhamdulillah rutin.

Lalu sekarang sesudah diberlakukan aturan seminggu hanya satu hari makan permen alhamdulillah dia bisa. Walaupun kadang dia berusaha nego dengan memelas “Ummi, hari ini boleh makan permen?”, tapi saya berusaha tetap tegas bahwa hanya Sabtu saja diperbolehkannya. Saya khawatir kalau sekali saja saya goyah, maka itu akan menjadi senjata dia dikemudian hari, “Lha, kemarin aja boleh makan permen ngga hari Sabtu”. Apalagi melihat kadar “kekritisan” Khansa dalam berbicara dan keahliannya membalikkan kata plus didukung kekuatan ingatannya. Pokokna bikin geleng-geleng kefala kalau dia sudah mulai criwis tanya ini itu. Kata ustadzahnya, bakat jadi wartawan. Saya menimpali, kasihan narasumbernya atuh ustadzah, pasti minta “Udahan ya mba jangan tanya-tanya lagi” haha.. ini mah pengalaman pribadi emaknya, lha habis kalau Khansa tanya pasti sampai detil sedetil-detilnya dan diulang-ulang.

Tadinya saya berpikir bisa ngga ya melalui the candy rule? melihat sebelumnya dia itu “fans berat” permen. Ngga bisa lihat permen tergeletak di meja sebentar aja, pasti dia makan. Kalau pas beli snack juga ambilnya permen. Tapi alhamdulillah sampai saat ini bisa juga dia bertahan dan menepati aturan seminggu sekali makan permen. Barokallohufih nduk.. ini untuk kesehatan Khansa in sya Allah.

Nah, cerita kedua adalah nonton TV. Memang dalam keluarga kami tidak dibiasakan nonton TV. Ada TV di rumah tapi jaraaang sekali digunakan. Sekarang ini sudah kurang lebih 6 bulan TV sama sekali tidak menyala. Kalau sebelumnya saya masih membolehkan Khansa nonton TV untuk melihat acara Liputan Unyil, Bolang (Bocah Petualang), Masha and the bear, tapi sekarang NO TV AT ALL. Dan lagi lagi..alhamdulillah bisa lho Khansa tidak menonton TV sama sekali. Sama dengan kisah permen, pernah dia beberapa kali minta nonton TV, tapi saya bilang “Engga usah ya”, kemudian dialihkan dengan bermain yang lain. Alhamdulillah ibunya jualan mainan hehe.. jadi ada beberapa alternatif bermain untuk Khansa misalnya lego, pasir kinetik, lilin cetakan, pasta kreatif, dan lain-lain. Seringnya sih dia main jual-jualan atau masak-masakan dengan menggunakan perlengkapan dapur ibunya, ada panci, kukusan, sutil diangkut semua.

Kalau ingin enaknya sih memang ya agar rumah ngga berantakan nyalakan saja TV-nya biar ramai, berikan saja HPnya biar tenang. Tapi ya masa iya kita lebih suka anak yang diam daripada yang aktif bergerak berkreasi?

In sya Allah dalam beberapa tahun mendatang pemandangan ini tidak akan kita “nikmati” lagi (mainan berserakan, tumpahan minuman/makanan, rumah berantakan). Seiring perkembangan usia mereka, in sya Allah anak-anak akan lebih teratur dan tenang. Semua ada masanya. Kalau sekarang mereka dalam tahap eksplorasi dan suka mengintili ibunya kemanapun pergi ya biarkan saja. Nanti di usia mereka remaja, mungkin kita yang akan merindukan masa-masa tersebut. Apalagi jika anak-anak sudah beranjak dewasa dan menikah, tinggallah kita berdua dengan suami di rumah ihik..

credit : natalieyvonneeast.weebly.com

credit : natalieyvonneeast.weebly.com

Back to topik, tadinya saya juga ragu-ragu bisa ngga ya Khansa tanpa TV sama sekali..dan alhamdulillah BISA! Nah, kalau anak saya bisa, maka in sya Allah anak-anak lain pun bisa. Asalkan orangtuanya lah yang pegang kendali, bukan sebaliknya.

Intinya, #anak_mah_gimana_orangtuanya.

Orangtua membiasakan mereka ngegame ya jadi begitu.
Orangtua membiasakan mereka membaca ya jadi begitu.
Orangtua membiasakan dia sering jajan ya jadi begitu.
Orangtua membiasakan buang sampah sembarangan ya jadi begitu.
Orangtua membiasakan antri ya jadi begitu.
Apa-apa hal yang dibiasakan orangtuanya sejak kecil, maka ketika tumbuh besar sang anak  menjadi seperti apa yang dibiasakan tersebut. Wallahu a’lam bishshawwab.

Maka tugas kita sebagai orangtua adalah menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik bagi anak kita. Dan ini masih menjadi PR buat saya dan suami sebagai orangtua. Semoga Allah memudahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s