Sutrah yang Dilupakan

sutrah
credit : thibbalummah.wordpress.com

         credit : thibbalummah.wordpress.com

Pada hari Minggu tanggal 17 Januari 2016 yang lalu, di masjid Arrahman Bantarjati Bogor dilaksanakan ta’lim yang diisi oleh ustadz Abdussyakur dari Ma’had Riyadhuljannah Cileungsi  dimana salah satu temanya membahas tentang sutrah dalam sholat.

Saya jadi teringat kejadian ketika pulang mudik ke Semarang bulan Desember tahun lalu. Ketika saya sedang melaksanakan sholat Maghrib di masjid stasiun Senen, ada seseorang yang hendak lewat persis di depan saya. Waktu itu posisi saya sedang berdiri. Secara spontan tangan kanan saya menepis mbak tersebut agar tidak lewat didepan saya. Mungkin apa yang saya lakukan mengagetkan dia, sudah siap-siap mau jalan lha kok tiba-tiba ditahan..

Nuwun sewu nggih mbak, bukannya saya ngga sopan, tapi sepemahaman saya itulah yang dituntunkan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Lagipula saya sudah meletakkan sutrah/penghalang di depan saya berupa tas. Monggo kalau mbak mau lewat ya di depan tas tersebut, bukan dibelakangnya (antara saya dan tas tersebut).

Hal seperti ini kadangkala dilalaikan oleh kita sebagai seorang muslim, yaitu dengan seenaknya lewat sliwar sliwer didepan orang sholat, terutama ketika  berada di musholla umum. Mother yes please (mbok yao) sabar tunggu dulu, atau bisa lewat dibelakangnya, atau taruhlah sutrah didepan orang sholat tersebut sehingga kita dapat lewat. Jangan makbedunduk orang lagi ruku’, sujud tiba-tiba dilewati/dilompati didepannya. Terutama jika orang tersebut sholat sendiri, sedangkan jika dia berjama’ah, maka sutrah imam adalah sutrah makmum. Wallahu a’lam.

Sebenarnya apa sih sutrah itu? dinukil dari artikel  disini :

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Kemudian, apa saja benda-benda yang bisa dijadikan sutrah?

  1. Tiang masjid
  2. Tongkat yang ditancapkan
  3. Hewan tunggangan
  4. Pohon
  5. Dinding/tembok
  6. Tempat tidur
  7. Benda yang tinggi
    Boleh menjadikan sesuatu yang tinggi semisal mu`khiratur rahl sebagai sutrah. Mu`khiratur rahl adalah kayu yang berada di bagian belakang pelana hewan tunggangan yang dijadikan sebagai sandaran si penunggang hewan tersebut. Tingginya sekitar 2/3 hasta. (Nailul Authar 3/4, Taudhihul Ahkam, 2/64, Asy-Syarhul Mumti` 1/731)

    Aisyah -radhiallahu anha-  berkata, “Nabi -sholallahu alaihi wasallam- pernah ditanya dalam Perang Tabuk tentang tinggi sutrah orang yang shalat. Maka beliau menjawab:

    مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

    “Semisal mu’khiratur rahl.” (HR. Muslim no. 1113)

    Rasulullah n pernah bersabda:

    إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، وَلاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

    “Apabila salah seorang dari kalian meletakkan semisal mu`khiratur rahl di hadapannya maka silakan ia shalat dan jangan memedulikan orang yang lewat di belakang sutrahnya tersebut.” (HR. Muslim no. 1111)

Untuk selengkapnya silakan membaca di artikel ini yaitu “Apa Saja yang Bisa Dijadikan Sutrah”.

Nah, yang saya lakukan dengan memasang tas sebagai sutrah di depan saya adalah termasuk pada poin ke 7, karena saya memandang bahwa ukuran tas saya sudah memenuhi syarat sutrah yaitu 2/3 hasta.

Lalu apa alasannya saya mencegah orang untuk lewat dihadapan saya ketika sholat?

Abu Said Al-Khudri berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْ فِي نَحْرِهِ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنّمّا هُوَ شَيْطَانٌ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang menutupinya dari manusia (menghadap sutrah), lalu ada seseorang ingin melintas di hadapannya, hendaklah ia menolaknya pada lehernya. Kalau orang itu enggan untuk minggir (tetap memaksa lewat) perangilah (tahanlah dengan kuat) karena ia hanyalah setan.” (HR. Al-Bukhari no. 509 dan Muslim no. 1129)

Ibnul Arabi menyatakan yang dimaksud dengan muqatalah dari lafadz: فَلْيُقَاتِلْهُ adalah menolak/mendorong bukan maknanya al-qatl (membunuh). (Al-Qabas fi Syarhi Muwaththa’ Malik, 1/344).

Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Kami memandang pernyataan mudafa’ah ini diinginkan dengannya penekanan untuk betul-betul mendorong orang yang lewat dan tentunya segala sesuatu ada batasnya.” (Al-Istidzkar 6/163)

Orang yang shalat mencegah orang yang hendak lewat pertama kali dengan cara yang halus, dengan menggunakan isyarat. Namun bila tetap memaksa ingin lewat, didorong lebih kuat dibandingkan dorongan sebelumnya. (Syarhus Sunnah 2/456, Subulus Salam, 1/230)

Sumber : http://asysyariah.com/ukuran-sutrah/

Terkait dengan hal ini, dari kecil saya sudah membiasakan Khansa untuk tidak lewat/ mondar mandir di depan orang sholat. Memang susah pada awalnya ya karena dia belum paham, tapi alhamdulillah semakin besar dia semakin mengerti akan hal tersebut, yah.. walaupun adakalanya “nggodain” ibunya dengan sengaja berada di depan sajadah, akan tetapi ketika saya akan mengangkat tangan untuk bertakbir maka dia beringsut minggir.

Yeuk, mari bersama-sama kita tegakkan tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- ini, dengan mendekat pada sutrah atau memasang sutrah ketika sholat dan juga tidak lewat di depan orang yang sedang sholat.

Abu Juhaim ibnul Harits  berkata, “Rasulullah n bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat (dalam jarak yang dekat dengan orang yang shalat, pent.) mengetahui apa yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40, itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 510 dan Muslim no. 1132)

Wallahu a’am bishhsawwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s