Quit or Not?

quit
quit

credit : catchsmile.com

Beberapa waktu lalu saudara sepupu saya -yang berkenan membantu menjaga toko offline ZEATOYS-  ngobrol dengan seorang ibu pemilik salah satu usaha di deretan toko yang kami tempati. Kata ibu tersebut (kurang lebih) seperti ini, “Harus sabar buka toko begini, kalau saya kan *menyebutkan usahanya* disini jarang ada jadi laku, kalo toko mainan di sebelah sana juga ada, itu aja sepi. Ya ini paling bertahan setahun habis itu ngga ada lagi”. Mak jleb juga saya mendengarnya hehe.. Saudara saya bilang ke beliau, “Jangan dong bu, mudah-mudahan tetap ada selamanya. Kalo disini kan yang kenceng onlinenya, sehari bisa sekian paket, lagipula ini juga sekalian buat nyimpen semua mainan soalnya kalo di rumahnya ngga muat”.

Wajar saja kalau beliau berpikiran bahwa toko kami kurang laku, karena yang ibu itu ketahui bahwa toko kami jarang yang beli. Masih sepi dibanding toko lain yang ada di deretan ruko kami.  Saya tidak perlu membantah ataupun membuktikan apa-apa ke ibu tersebut. Toh beliau juga tidak mengamati bahwa hampir tiap hari kami ada kiriman sekian paket dan beliaupun tidak tahu berapa nominal tiap paket tersebut. Tak perlu pula saya sodorkan mutasi rekening zeatoys untuk menunjukkan bahwa omzet toko kami sekian juta rupiah dalam sebulan. Saya hanya bisa berdoa dalam hati akan keberkahan dan kemudahan usaha kami untuk selanjutnya.

Memang saat ini kami masih timik-timik belajar tentang segala sesuatu berkaitan dengan toko offline. Beberapa perbedaan pengelolaan toko offline dan online sudah saya jelaskan disini. Wajar jika masih ada kendala dalam pengelolaan toko, lha wong ibaratnya masih bayek. Hal ini seperti mengulang masa lima tahun yang lalu ketika saya masih belajar usaha online (yang sampai sekarang pun masih teteup belajar). But quit is not an option, in sya Allah.

Kalau saya mau menyerah itu sudah saya lakukan sejak dulu waktu awal merintis usaha online..
Ketika 4 hari menjalankan toko online baru ada teman saya yang order.
Ketika dalam 2 minggu sesudahnya tidak ada orderan sama sekali, bahkan dalam minggu-minggu berikutnya pun kami harus sabar menanti.

Ketika dalam jangka waktu 3 bulan baru ada real customer (bukan dari saudara, keluarga, atau teman).
Ketika awal membentuk team marketer zeatoys dan belum ada peningkatan signifikan dalam omzet.

Tapi saya (dengan dibantu suami tentunya) terus berusaha, baik dengan menambah variasi produk, menjadi distributor dan agen beberapa produk edukatif, menjaring lebih banyak marketer potensial, pembuatan web dan fanpage, utak atik sistem penjualan, dan lain sebagainya. Salah satu faktor penyemangat adalah karena passion saya memang di dunia mainan anak, serta beberapa faktor lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Hingga akhirnya perlahan-lahan bi idznillah (dengan izin Allah) omzet mengalami peningkatan, grup marketer juga semakin aktif, bahkan sampai dengan saat ini ada 400an member request yang belum saya approve. Beberapa anggota marketer bahkan mengadopsi sistem yang saya buat, dan dengan senang hati saya persilakan hal tersebut. Kalau ada hal yang bermanfaat dari perniagaan saya silakan diambil, yang jelek-jelek ditinggalkan. Butuh 5 tahun untuk berproses, membangun network dan trust.

Ya, jangan semuanya mau instant. Usaha maunya yang langsung besaarr, langsung lakuu, omzet langsung puluhan jutaa. Nikmati segala proses perjuangan dari titik nol ke kilometer selanjutnya. Ibarat misal saya mau mudik naik mobil ke Semarang, eh di jalan ada musibah ban bocor, macet, mogok.. lha kalau saya menyerah dan balik ke Bogor maka saya akan kehilangan kesempatan untuk menikmati tahu bakso, tahu gimbal, lumpia, mie kopyok *hayah kok panganan kabeh*

Begitu juga kalau saya menyerah di awal usaha, maka saya akan kehilangan momentum membuka toko offline serta membuka lapangan kerja.

Dilain pihak, ketika dengan segala doa dan upaya sudah kita lakukan akan tetapi pada akhirnya keputusan berhenti yang kita ambil ya tidak mengapa. At least kita sudah ikhtiar maksimal dan tidak menyerah di kesempatan pertama.

Dikala kita down, ingatlah satu hadits penyemangat berikut..

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Seperti quotation di image di atas, “Instead of looking at the hundreds reasons to quit, look at  the thousands reasons not to give up“, agree?

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s