Lecutan Penyemangat dari Pak Marhaban

bannersemangat
credit : beginwiths.deviantart.com

credit : beginwiths.deviantart.com

Beberapa waktu yang lalu salah seorang ummahat di grup wa ta’lim Bogor share artikel Renungan untuk Ikhwan Lendah (edisi 22) yang ditulis oleh Ustadz Abu Nasim Mukhtar. Ketika membaca artikel tersebut, ada ummahat yang nyeletuk “Masyaa Allah cerita di atas, jadi teringat ummu Khonsa’.. yg tiap hari nganter Khonsa dari Bil***** ke TK”. Nah, qoddarulloh kemarin juga ada teman SMA saya yang share artikel yang sama ke saya kemudian berkomentar “Kuwi cocok nggo In*** (nama saya) semangatt!!”

Ya, artikel tersebut membahas tentang seorang bapak bernama Pak Marhaban. Beliau berdomisili di Samigaluh, kecamatan paling utara di Kabupaten Kulonprogo dengan relief perbukitan. Tiap hari dia mengantar anaknya ke sekolah di Ma’had Ar Ridho Sewon di Kabupaten Bantul yang berjarak 40-50 km dari tempat tinggalnya. Waktu tempuh sekali jalan adalah 1,5 jam, sedangkan beliau sesudah mengantar anaknya ke sekolah kemudian pulang lagi ke rumah dan menjemputnya kembali di siang hari. Jadi total 6 jam beliau habiskan dalam perjalanan pulang pergi setiap hari. Sudah berapa lama beliau jalankan aktivitas tersebut? selama 4 tahun pemirsah! Maasya Allah..

Malu aku malu..pada Pak Marhaban *hayah*, saya mah ngga ada apa-apanya dibanding perjuangan beliau. Tiap hari saya antar Khansa hanya 15 km, jalan yang dilalui mungkin tidak seliku-liku pak Marhaban yang tinggal di daerah perbukitan. Waktu tempuh sekali jalan ya kurang lebih hanya 40 menitan. Hmm.. In sya Allah sebenarnya bisa lebih cepat jika jalan Bojonggede yang tiap hari saya lalui ada perbaikan mengingat kondisi jalannya saat ini yah bisa dibilang sebagian besar hancur. Bahkan ada beritanya di media elektronik mengenai hal ini, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, padahal jaraknya dengan kantor Pemda Kabupaten hanya kurang lebih 8 km. Mudah-mudahan didengar oleh pemerintah Kabupaten Bogor dan segera ada perbaikan karena kondisinya sudah memprihatinkan. Terlebih jika hujan turun, suami pulang kantor basah kuyup, katanya seperti melewati arung jeram. Bukan lebay tapi memang begitulah adanya. Belum lagi sekarang yang menyusul kondisi jalannya memprihatinkan yaitu Jalan Pomad-Karadenan, hal ini menyebabkan waktu tempuh semakin panjang karena harus menghindari berbagai lubang yang cukup besar di jalan. Allahul musta’an.

Cerita dari Pak Marhaban menjadi pelecut semangat bagi saya untuk mengantarkan anak menempuh pendidikan sesuai Al Qur’an dan As sunnah. Dengan kondisi medan yang buat saya seorang emak cukup berat disebabkan jalan rusak dan waktu tempuh yang cukup lama, kadangkala menimbukan rasa “aras-arasen” untuk mengantar Khansa. Belum lagi ketika pulang panas terik, hujan turun di tengah jalan, atau ban bocor sehingga terasa perjalanan semakin berat. Akan tetapi sesudah membaca kisah dari Pak Marhaban, maka apa yang saya lalui cuma seujung kuku dari perjalanan beliau. Sepertinya malu kalau harus menyerah, kecuali memang ada udzur seperti hujan tidak berhenti, salah seorang dari kami sakit, atau halangan lain yang tidak memungkinkan bagi kami untuk berangkat.

Semoga Allah menguatkan, mempermudah, dan melindungi kami dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu, dan juga kepada rekan-rekan seperjuangan lainnya yang mengalami hal serupa dengan kami.

Berikut saya copas selengkapnya isi artikel tersebut agar dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama, in sya Allah.

*****

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
( Edisi 22 )

Rasanya, cerita-cerita tentang hal-hal unik dan luar biasa dalam dunia pendidikan anak memang tiada habisnya. Sejak dulu saya senang mengamati hal-hal seperti ini. Bagi saya, melalui pengamatan secara langsung, akan memunculkan fakta-fakta inspiratif. Sekaligus bisa dijadikan cermin bagi diri sendiri supaya lebih baik lagi didalam menggeluti dunia pendidikan.

Apalagi jika fakta tersebut terkait dengan kegigihan orangtua, juga keyakinan teguh mereka di dalam menggapaikan cita-cita kebaikan untuk anak-anaknya. Terkadang berbagai kisah tersebut terasa hanya mungkin terjadi di dalam dongeng saja. Walaupun akhirnya fakta membuktikan, realita berbicara bahwa ini semua adalah benar-benar terjadi dialam nyata, bukan sekedar imajinasi.

Ceritera ini bermula dari kajian rutin sebulan sekali di Dekso, Kalibawang, Kulonprogo. Pada setiap malam kamis keempat saya berangkat untuk belajar bersama dengan ikhwan-ikhwan di Dekso. Secara history ikhwan-ikhwan di Dekso terbilang senior dan sesepuh dalam dakwah di Kulonprogo. Saya sendiri meyakini kegiatan ini sebagai ajang untuk bersilaturahmi dengan beliau-beliau di sana.

Dari sekian peserta kajian, ada salah satu dari mereka sudah saya kenal sejak dua tahun yang lalu. Namanya pak Marhaban. Cerita tentang pak Marhaban sebenarnya juga sudah saya dengar sejak lama. Namun entah kenapa, kali ini saya ingin sekali mengangkat kisah perjuangan beliau sebagai salah satu renungan buat ikhwan-ikhwan di Lendah. Barangkali karena malam itu, pak Marhaban ikut makan malam bersama kami.

Pak Marhaban berasal dan berdomisili di Samigaluh. Samigaluh sendiri adalah sebuah kecamatan paling utara di Kabupaten Kulonprogo. Wilayahnya didominasi oleh relief perbukitan yang masuk dalam bagian pegunungan Menoreh. Daerah ini  berada pada ketinggian 500 mdpl sehingga hawa yang terasa lumayan dingin. Perkebunan menjadi andalan. Oleh sebab itu, rata-rata mata pencaharian penduduk setempat adalah bertani dan berkebun.

Pak Marhaban juga termasuk petani dan pekebun. Ketika saya berusaha menggoda dengan pertanyaan berapa luas area yang digarap beliau, dengan tersenyum pak Marhaban menjawab: ”Owalah, Ustadz. Hanya menggarap lahan milik orangtua saja kok”. Namun saya yakin bahwa pak Marhaban adalah tipe pekerja keras yang selalu optimis. Itu tersirat dari raut dan lekuk wajahnya.

Pak Marhaban, telah berhasil membuat saya kagum dan salut. Beliau ibaratnya menjadi sumber inspirasi buat saya dalam hal keseriusan dan kesungguhan di dalam menyayangi anak. Saya rasa, beliau pun layak dijadikan sumber inspirasi untuk kita semua. Tentunya dengan selalu berharap semoga Allah senantisa melimpahkan istiqomah dan keikhlasan.

ooooo_____ooooo

Apa yang menarik dari sosok pak Marhaban? Apa pula yang beliau lakukan sampai membuat saya terkagum? Kenapa pak Marhaban saya sebut sebagai sumber inspirasi buat kita semua?

Pak Marhaban memiliki anak-anak putri, yang terbesar kini sudah berusia 13 tahun. Nah, prioritas perjuangan dan pengorbanan untuk pendidikan putrinya inilah yang kemudian harus membuat kita berdecak kagum sekaligus merasa malu. Saya berterus terang saja bahwa saya sendiri tidak akan sanggup untuk melakukan seperti apa yang telah beliau lakukan.

Demi putrinya untuk tidak terpengaruh lingkungan yang buruk, supaya putrinya tidak mendapatkan pendidikan yang salah dari guru-guru yang belum tentu faham agama secara baik, agar putrinya tidak menjadi seperti umumnya kaum putri zaman ini yang kondisinya sangat menyedihkan, untuk sebuah cita-cita supaya putrinya menjadi putri yang shalehah, Pak Marhaban benar-benar telah menjadi figur seorang ayah yang luar biasa.

Demi putrinya untuk memperoleh bekal ilmu agama yang cukup, supaya putrinya memahami Al Qur’an dan As Sunnah, agar putrinya bisa meniti jejak Salafus Shalih, untuk sebuah tekad mempunyai seorang putri yang berbakti, supaya putrinya menjadi seorang wanita mulia seperti mulianya istri-istri Nabi dan istri-istri para sahabat, Pak Marhaban sungguh-sungguh telah terbukti rela berkorban dalam perjuangannya.
Silakan anda membayangkan! Rumah Pak Marhaban di Samigaluh, sebuah area pegunungan disudut Kulonprogo utara. Sementara lokasi sekolah putrinya di Ma’had Ar Ridho Sewon di Kabupaten Bantul. Berapa jarak tempuh dari rumah sampai ke lokasi sekolahnya? Kalau hanya 40 km, saya yakin lebih. Bahkan jika saya menyebutnya 50 km, sepertinya lebih mendekati ketepatan.

Jangan bayangkan jalan yang dilalui seperti jalan MotoGP atau balapan Formula! Samigaluh itu perbukitan yang tinggi. Sehingga untuk sampai ke Sewon Bantul, harus melalui jalan naik turun yang berlika-liku. Penuh tikungan dan belokan. Traffict light? Jangan dihitung karena banyaknya.

“Kinten-kinten pinten jam, pak Marhaban? Panjenengan saking ndalem dumugi Ar Ridho?” Saya bertanya kepada beliau tentang estimasi waktu perjalanan.

Pak Marhaban dengan agak lirih menjawab : “Kirang langkung setunggal jam setengah, Ustadz”.

Subhaanallah!

Satu jam lebih tiga puluh menit dihabiskan pak Marhaban untuk mengantarkan sang putri ke Ma’had. Itu baru berangkatnya saja. Berarti kalau plus waktu pulangnya, bukankah sudah tiga jam dihabiskan di perjalanan?

Pak Marhaban hanya seorang petani biasa. Berkebun memanfaatkan lahan milik orangtuanya. Terkadang, bahkan seringnya, pak Marhaban kembali pulang untuk bekerja ke kebun atau sawah setelah mengantarkan putrinya ke Ma’had. Siang harinya beliau harus berangkat lagi untuk menjemput. Jika seperti ini bukankah harus menambah waktu tiga jam lagi?

Waktu sekitar enam jam perhari harus beliau alokasikan untuk menyusuri jalan. Ini perhitungan jika perjalanan lancar. Jika ternyata ban bocor misalnya, Masya Alloh. Dan sisi “keistimewaan” dari kisah ini adalah ternyata rutinitas harian seperti ini sudah beliau lakoni selama bertahun-tahun. Itu semua dilaluinya dengan hati gembira dan tidak pernah terlihat mengeluh. Walaupun sesekali, pak Marhaban lebih memilih menunggu di pondok sampai kepulangan putrinya. Untuk menghemat waktu dan biaya.

“Sampun pinten tahun panjenengan nglampahi kados meniko,pak Marhaban?” Saya bertanya sudah berapa lama rutinitas itu beliau lakukan. Ternyata sudah empat tahun! Baarakallahu fiik, Pak Marhaban. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan buat Panjenengan dan keluarga Panjenengan.

Jujur saja pak Marhaban, kalau saya mungkin tidak akan mampu bersabar berbuat seperti yang pak Marhaban lakukan. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Panjenengan. Semoga Allah membalas jerih payah dan usaha Panjenengan dengan balasan yang sebaik-baiknya.

Saya yakin, orang-orang “super” semacam pak Marhaban ada banyak di atas muka bumi ini. Orangtua yang menginginkan kebaikan akhirat untuk anak-anaknya. Terkadang ada was-was,”Wah, udah capek-capek dimasukkan pondok, tapi anaknya kok tidak membahagiakan”. Nah, pikiran seperti itu harus dibuang jauh-jauh! Ingat, Allah tidak akan mensia-siakan amal ibadah hamba-Nya. Asalkan ikhlas dan berharap pahala, pasti Allah akan memberi balasan yang terbaik. Kalau bukan di dunia, maka akan Alloh berikan pahalanya kelak diakhirat.

Efek dakwah salaf memang fenomenal, ribuan pribadi-pribadi hebat telah lahir sepanjang sejarah. Tarbiyyah salafiyyah telah menjadikan sesuatu yang secara logika tidak mungkin menjadi mungkin.

Sebelum berpisah malam itu,saya sampaikan sebuah janji kepada pak Marhaban untuk di bulan Ramadhan tahun ini, saya akan berkunjung silaturahmi ke rumah beliau yang berada di atas ketinggian perbukitan menoreh itu. Saya ingin sekali menikmati hawa sejuk Samigaluh yang memang menjadi salah satu lokasi perkebunan teh. Saya ingin mengobati rasa tidak mampu saya untuk berbuat seperti pak Marhaban.Dengan berkendara ke sana, saya ingin membayangkan betapa besar tekad pak Marhaban untuk mendidik putrinya di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih.

Allahumma amitnaa ‘alal Islam was Sunnah! Ya Allah, wafatkanlah kami di atas Islam dan As Sunnah!

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah Kulonprogo
01 Mei 2016

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
http://tlgrm.me/kajianislamlendah

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s