Dzalim karena Hutang?

hutang

hutangSelamat datang di “permasalahan sejuta umat”, yaitu utang piutang.

Yup, hampir semua orang pernah mengalaminya, entah dalam posisi peminjam ataupun pemberi hutang.

Masalah utang piutang ini memang cukup pelik. Masing-masing pihak seharusnya memahami adab-adab utang piutang sebelum menjalankannya agar terhindar dari berbagai permasalahan dikemudian hari. Sebagaimana kita mengerti bahwa masalah harta itu sangatlah rumit, bahkan bisa menjadi pemutus tali silaturrahim antar keluarga/saudara/teman dan penyebab terjadinya berbagai kerusakan dalam masyarakat.

Perlu diketahui (berdasar pengalaman pribadi), banyak kondisi terjadi dimana ketika seseorang meminjamkan uang kepada orang lain bukan berarti dia berlebihan dalam hal materi, tapi ada dana yang dia tangguhkan pengeluarannya untuk bisa membantu orang lain. Jadi please deh.. ketika peminjam sudah mempunyai kecukupan rizki, maka segeralah melunasi hutangnya tanpa perlu menunggu ditagih.

Hal yang patut disayangkan (dan sering terjadi) adalah ketika pemberi hutang menagih karena membutuhkan uangnya tersebut, si peminjam malah bersikap masa bodoh (diam saja dan tidak membalas pesan dari yang meminjamkan atau tidak mau menemui ketika dikunjungi). Bahkan lebih “ngenes” lagi ada yang bersikap galak kepada orang yang telah membantunya tersebut, sehingga orang yang meminjamkan posisinya bagai pengemis ketika meminta haknya sendiri. Na’udzubillahi mindzalik.

Nah, temans.. ketika kita berada dalam posisi peminjam..

Pernahkah ngga…?
Kita berhutang kepada orang lain, kemudian ketika ada uang yang cukup untuk mencicil atau melunasi eh..tergiur untuk membeli barang kebutuhan lain yang kurang urgent misal hp keluaran terbaru, makan-makan, atau malah untuk jalan-jalan..

Oh NO, please don’t do that..

Tahukah kita?
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:


مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Penundaan orang yang mampu itu adalah perbuatan zalim.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan :

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

“Penundaan orang yang mampu akan menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dalam Sunan Al-Kubra, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Menghalalkan kehormatannya yakni membolehkan bagi orang yang mengutangi untuk berkata keras padanya, sedangkan menghalalkan hukumannya yakni membolehkan hakim untuk memenjarakannya

Na’udzubillahi mindzalik.. semoga kita terlindung dari sikap dzalim ya, apalagi terhadap seseorang yang  -bi idznillah- telah membantu melepaskan kesulitan kita.

Penuhi hak saudara kita SEGERA, disaat kita mampu.

Siapa yang bisa menjamin bahwa esok hari kita masih ada waktu untuk melunasi hutang kita. Padahal jiwa seorang muslim itu tergantung dengan hutangnya sampai ia dilunasi, bahkan bisa menjadi penyebab tertahannya seseorang untuk memasuki surga.

Dari Samurah, ia berkata: Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- berkhutbah kepada kami lalu mengatakan:

هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَ: هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَ: هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ. فَقَالَ n: مَا مَنَعَكَ أَنْ تُجِيبَنِى فِى الْمَرَّتَيْنِ الأُولَيَيْنِ، أَمَا إِنِّي لَمْ أُنَوِّهْ بِكُمْ إِلاَّ خَيْرًا، إِنَّ صَاحِبَكُمْ مَأْسُورٌ بِدَيْنِهِ. فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ أَدَّى عَنْهُ حَتَّى مَا بَقِىَ أَحَدٌ يَطْلُبُهُ بِشَىْءٍ

“Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorangpun menjawabnya. Lalu (beliau) berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorangpun menjawabnya. Lalu beliau berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Maka seseorang berdiri dan mengatakan: “Saya, wahai Rasulullah.” Maka beliau mengatakan: “Apa yang menghalangimu untuk menjawab pada (panggilan) pertama dan kedua kalinya? Saya tidak menyebut kalian kecuali yang baik. Sesungguhnya teman kalian tertahan (yakni untuk masuk ke surga) dengan sebab utangnya.” Samurah mengatakan: “Sungguh aku melihat orang tadi melunasinya, sehingga tidak seorangpun menuntutnya lagi dengan sesuatupun.” (Shahih, HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Al-Hakim, dalam riwayatnya: “Kalau kalian ingin maka tebuslah, dan kalau kalian ingin maka serahkanlah dia kepada siksa Allah.” (Shahih At-Targhib no. 1810)

Niatkan dalam hati ketika berhutang, bahwa in sya Allah kita akan berusaha semampu mungkin untuk melunasinya. Jangan sampai kita meminjam tanpa ada maksud untuk mengembalikannya dengan alasan “ah, gampang ama sodara ini”, “ah, dia kan berkecukupan”, dan alasan-alasan lainnya.

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- ia berkata Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ

“Barangsiapa mengambil harta manusia dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa mengambil harta manusia dengan niat menghancurkannya, niscaya Allah menghancurkan dia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Bismillah ya, semoga kita terhindar dari golongan orang yang meremehkan hutang.

hutang2

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s