Tips Mengajarkan Sholat pada Anak

Dulu ketika Khansa usia 2 tahunan, saya membelikannya mukena anak. Saya ingin memperkenalkan salah satu kewajiban umat Islam, yaitu sholat lima waktu. Dia suka sekali mengenakannya dan menirukan gerakan sholat yang saya lakukan. Di usia tersebut tentu saja sholat ala Khansa tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku… sak karepe dewe lah hihi..

Saat usia 4 tahun dan mulai TK, Khansa diperkenalkan dengan bacaan, gerakan sholat, dan juga jumlah rakaat yang secara benar. Alhamdulillah tata cara sholat Khansa sudah ada kemajuan dan in sya Allah setahap demi setahap mulai sesuai syari’at.

Akan tetapi yang membuat saya seringkali mengelus dada yaitu ketika dia diminta untuk sholat saat tiba waktunya adaaa aja alasannya. Entah main dulu atau alasannya yang lain. Malas-malasan lah pokoknya. Yah, saya pun berusaha memaklumi dan masih mentolerir karena memang dia belum terkena beban syari’at untuk sholat. Namun sebagai orangtua, tentu saja saya berkeinginan agar anak saya nantinya menjadi hamba Allah yang menjaga sholat hingga akhir hayatnya. Pertinyiinnyii… bagaimana caranya?

Ditengah “kegalauan” saya dengan sikap Khansa yang ogah-ogahan diajak sholat, saya qoddarullah membaca artikel copas-an di whatsapp mengenai seseorang yang mengunjungi keluarga temannya dan menemukan bahwa anak temannya tersebut tanpa disuruh mau untuk sholat. Ketika ditanyakan bagaimana caranya, ternyata temannya mendoakan anak-anaknya dengan doa yang terdapat dalam Al Qur’an yaitu surat Ibrohim ayat 40.

sumber : pinterest

                              sumber : pinterest

Maasya Allah.. artikel yang sangat menginspirasi. Saya lalu mempraktekkan doa tersebut. Dalam sujud saya berdoa agar menjadikan anak keturunan kami (hingga hari kiamat nanti) adalah orang-orang yang mendirikan sholat (dan ditambahkan doa agar ditetapkan dalam iman dan Islam sampai akhir hayat).

Tak lupa saya juga mengingatkan Khansa akan pentingnya sholat. Bukan dengan menakut-nakuti Khansa akan keberadaan neraka apabila dia tidak sholat, akan tetapi lebih menekankan agar dia bersyukur kepada Allah dengan melakukan sholat. Seringkali ketika pillow talk saya bilang kurang lebih seperti ini “Khansa lihat kan di jalan, ada anak-anak yang ngga punya rumah, ngga punya makanan. Sedangkan Khansa punya rumah jadi ngga kehujanan dan kepanasan, ada makanan dan minuman. Khansa harus bersyukur sama Allah sudah diberikan banyak rizki seperti itu. Caranya bersyukur bagaimana? dengan Khansa sholat”

Alhamdulillah ikhtiar saya melalui doa dan pemberitahuan secara berulang tentang cara bersyukur kepada Allah dengan sholat, bi idznillah (dengan izin Allah) membuahkan hasil.. Khansa perlahan mulai berubah. Dia menjadi anak yang semangat untuk sholat, bahkan di awal waktu. Saya pun malah sering diingatkan Khansa untuk sholat sesudah adzan berkumandang. Gantian dia yang ngoyak-ngoyak saya hehe..*kuwalik*. Alhamdulillah di usianya yang 5 tahun dia mulai rutin menjalankan sholat 5 waktu, bahkan Subuh pun dia bangun untuk menunaikan sholat walaupun terkadang sambil terkantuk-kantuk. Pernah beberapa kali dia bangun yaitu jam 2, jam 3 kemudian jam 5 untuk menanyakan apakah sudah saatnya sholat Subuh.. *semangat bingits*

Hal yang membuat saya terharu, ketika 3 hari yang lalu dia sakit demam dan mengeluh pusing, namun ketika tiba saatnya sholat dia kemudian ambil air wudhu dan tetap melaksanakan sholat. Mudah-mudahan istiqomah sampai akhir hayat ya nduk.

Mudah-mudahan sharing cerita saya bisa bermanfaat, karena ini berdasar dari pengalaman pribadi. Tips bagaimana agar anak mau menjalankan ibadah sholat, yaitu dengan mendoakan, menyemangati, serta satu hal penting yaitu memberi contoh. Akan tidak berarti jika kita koar-koar menyuruh anak sholat sedangkan kita sebagai orangtua malah melalaikan kewajiban tersebut. Actions speak louder than one thousand words.

Semoga anak keturunan kita adalah hamba Allah yang menunaikan sholat dan berpegang teguh pada tali agama Allah sesuai Al Qur’an dan As Sunnah.

Advertisements

Cerita Ramadan Khansa

Ramadan tahun 2016 ini alhamdulillah Khansa (5 tahun) banyak perubahan lebih baik dari tahun sebelumnya baik dari segi ibadah puasa, baca Al Qur’an maupun sholatnya. Semoga terus meningkat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya  *aamiin, in sya Allah*.

Tidak ada reward yang kami iming-imingkan ke Khansa, saya dan suami hanya bilang beberapa hari sebelum puasa bahwa in sya Allah sebentar lagi bulan Ramadan, semua in sya Allah berpuasa, Khansa ikut juga berpuasa ya. Bulan Ramadan nanti pahalanya akan ditambah sama Allah, jadi banyak-banyak beribadah. Alhamdulillah dia bersemangat untuk ikut.

Mengapa sejak dini kami mengenalkan Khansa untuk berpuasa?

Hal ini telah ada contoh dari shahabat di masa Rasulullah sesuai hadits berikut..

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ « مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ » . قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

“Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa.” Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Tentu saja tidak memaksakan kepada anak ya, karena memang mereka belum terkena beban syari’at. Kalaupun di tengah-tengah puasa mereka mau makan atau minum tidak apa-apa. Yang dilakukan orangtua hanyalah memotivasi/ memberi semangat kepada mereka untuk berbuat amal kebaikan. Lain perlakuannya ketika mereka sudah baligh kelak.

Continue reading

Jujurlah, Anakku

Ajarkan kepada anak kita untuk tidak mengambil barang yang bukan haknya. Ajarkan hal itu, sedini mungkin.

Kisah pertama,
Beberapa waktu lalu di toko kami, ada anak kecil yang mengambil salah satu mainan yang tergantung di tempat display. Waktu itu saudara saya yang sedang jaga di toko. Saudara saya pikir dia ambil untuk menunjukkan kepada ibunya yang sedang pesan makanan di warung sebelah.

Eh ternyata sesaat kemudian dia mau pulang dan mainan itu tetap dibawanya. Ketika saudara saya bilang ke ibunya kalau anaknya membawa mainan kami, ibunya menyanggah, dan anaknya hanya diam saja. Ketika ditunjukkan bukti bahwa ada mainan yang sama di toko kami, baru ibu itu percaya dan mengembalikannya kepada kami.

Kisah kedua,
Ketika saya sedang belanja sayur di pasar, tiba-tiba si penjual menegur dengan keras seorang ibu yang sedang belanja di samping saya. “Bu, itu ayamnya keluarkan dari tas! Ibu itu mau beli kacang merah atau mau beli ayam?!”. Kemudian kata ibu pembeli di sebelah saya, “Eh maap kebawa (sambil mengeluarkan satu ekor ayam dari tas belanjanya)”, kemudian berlalu dari lapak sayur itu. Weleh, iso-isone ki lho, kebawa kok gede banget tho buu.. ayam utuh sodara-sodara!

Mari sama-sama belajar dari kedua kisah di atas. Jika anak pada kisah pertama perilakunya tersebut dibiarkan dan tidak diajarkan kejujuran/tidak boleh mengambil barang yg bukan haknya sejak dini, bisa jadi dikemudian hari dia akan tumbuh menjadi seseorang yg tersebut pada kisah kedua ketika dewasa.

Anak tersebut mungkin akan menjadi seseorang suka mengambil sesuatu yang bukan haknya, dia tidak merasa bersalah ketika merampas harta saudaranya, mencuri barang orang lain, atau merebut pasangan orang lain ‪#‎eh‬

Padahal sesuai firman Allah -subhanahu wata’ala- bahwa kita tidak diperbolehkan mengambil yang bukan haknya, tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara yang buruk.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, …” [an Nisaa/4 : 29].

Ajarkan mereka untuk senantiasa berlaku jujur, kapanpun, dimanapun. Bahwa jujur itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kepada surga.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” Hadits Bukhâri (no. 6094)

Ajarkan mereka bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu, dan kelak di akhirat kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, termasuk mengenai harta kita, darimana didapatkan dan kemana dibelanjakan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.

Dengan mengajarkan anak point-point kejujuran di atas -tentunya disertai dengan doa kepada Allah memohon supaya anak kita dikaruniai akhlak yang baik- maka in sya Allah itu akan menjadi salah satu modal utamanya dalam mengarungi kehidupan.

Continue reading

#Anak_mah_Gimana_Orangtuanya

parenting

                                     credit : http://www.corr.us

Dalam hal mendidik anak, tiap orangtua tentu mempunyai style yang berbeda-beda. Ada yang otoriter, anak tidak boleh ini itu, ada yang bersikap santai sehingga anaknya dibebaskan melakukan semua dan dituruti segala keinginannya tanpa batasan, dan ada yang bersikap pertengahan yaitu anak dibebaskan bertindak tapi diawasi dan diarahkan kedua orangtuanya. Silakan saja mau mengambil sikap yang mana dalam memperlakukan anak.

Saya teringat pada cerita seorang teman semasa di kantor dulu, ada salah satu teman kami (sebut saja A) yang anaknya hingga usia hampir 6 tahun kosakatanya masih sangat sedikit, cenderung pasif dengan lingkungan, dan seringkali tantrum ketika keinginannya tidak dituruti sehingga menyebabkan orangtuanya kemudian mengalah dan menuruti keinginan anaknya tersebut, walaupun mungkin hal itu kurang baik baginya. Anaknya ini suka banget nge-game, sehari-hari sebagian besar dilewatkan dengan gadget dan TV , ketika teman saya menasihati A untuk mengurangi jatah anaknya nge-game agar bisa berkomunikasi dan bersosialisasi lebih baik tapi tanggapan A dia bilang tidak bisa karena nanti anaknya pasti marah. Lho, piye iki..malah anaknya yang mengontrol orangtuanya. Tapi ya sudahlah, saya bukan orang yang berhak dan berkompeten untuk komentar lebih jauh.

Saya hanya akan menuliskan pengalaman pribadi saya mengenai anak.

Sudah sekitar 3 bulan ini Khansa tiap minggu selalu menunggu-nunggu datangnya hari Sabtu. Kenapa ya? hal ini karena hari Sabtu adalah jadwalnya boleh makan permen. Hampir tiap hari selalu bertanya, “Ummi, hari ini hari apa?”, kemudian sesudah saya jawab dia menghitung sendiri hari-hari menuju Sabtu.

Mengapa saya berlakukan one day a week for candy? Ya, karena melihat kondisi giginya agak memprihatinkan yaitu gripis dan ompong tiga gigi seri atasnya. Salah sayasebagai emaknya yang sebelumnya kurang memperhatikan kadar konsumsi permen Khansa. Dulu hampir tiap hari dia makan permen, dan ngga hanya satu per hari *maapkeun ummi ya nduk*. Kalau gosok gigi mah alhamdulillah rutin.

Lalu sekarang sesudah diberlakukan aturan seminggu hanya satu hari makan permen alhamdulillah dia bisa. Walaupun kadang dia berusaha nego dengan memelas “Ummi, hari ini boleh makan permen?”, tapi saya berusaha tetap tegas bahwa hanya Sabtu saja diperbolehkannya. Saya khawatir kalau sekali saja saya goyah, maka itu akan menjadi senjata dia dikemudian hari, “Lha, kemarin aja boleh makan permen ngga hari Sabtu”. Apalagi melihat kadar “kekritisan” Khansa dalam berbicara dan keahliannya membalikkan kata plus didukung kekuatan ingatannya. Pokokna bikin geleng-geleng kefala kalau dia sudah mulai criwis tanya ini itu. Kata ustadzahnya, bakat jadi wartawan. Saya menimpali, kasihan narasumbernya atuh ustadzah, pasti minta “Udahan ya mba jangan tanya-tanya lagi” haha.. ini mah pengalaman pribadi emaknya, lha habis kalau Khansa tanya pasti sampai detil sedetil-detilnya dan diulang-ulang.

Tadinya saya berpikir bisa ngga ya melalui the candy rule? Continue reading

Video Belajar Islam untuk Anak

warnaAlhamdulillah seiring perkembangan teknologi, semakin mudah juga kita dalam mengakses informasi terkait dengan kajian ilmu agama. Mau mendengarkan kajian bisa via streaming web di laptop atau install RII (Radio Islam Indonesia) di playstore lalu tinggal dengarkan berbagai faidah ilmu dari asatidz.

Begitu juga dalam hal mendidik anak, telah banyak situs bermuatan materi pendidikan anak dengan pendekatan Al Qur’an dan Assunnah, salah satunya adalah tamananakshalih. Selain situs tersebut, juga ada channel youtube RumahBelajar. Di channel tersebut terdapat berbagai video bermanfaat untuk materi diniyah anak, misalnya bahasa Arab, akhlak, dan doa harian.

Nah, dibawah ini adalah satu contoh video belajar bahasa Arab dengan tema “Warna”. Video ini saya upload di fanpage facebook Zona Edukasi Anak dengan menyebutkan sumbernya, alhamdulillah banyak yang suka dan share, artinya bahwa video tersebut in sya Allah sangat bermanfaat. Bahkan ada beberapa yang bertanya cara ngesave di hp. Jazaahumulloh khoiron untuk tim Rumahbelajar karena sudah menyajikan sesuatu yang bermanfaat untuk pendidikan anak Islam.

Yup, daripada nobar sama anak film-film kartun yang kurang bermanfaat, mendingan nonton yuk aneka video bermanfaat yang sarat kandungan pendidikannya di channel tersebut. Untuk yang punya facebook, bisa download melalui album video di FP Zona Edukasi Anak.

Oya, video-video tersebut juga menjadi rujukan dalam materi multimedia di TK Anshorussunnah. Nah, untuk pemilik TK/TPA/Playgroup bernafaskan Islam, boleh juga tuh sesekali nonton bareng video tersebut bersama siswa-siswi didiknya.

Belajar Bahasa Arab untuk Anak Tema "Warna"

Belajar Bahasa Arab untuk Anak Tema "Warna"Credit : Ummu Abdillah Najiyyah

Posted by Zona Edukasi Anak on Saturday, September 19, 2015

Kecil-kecil Kok Cadaran?

credit : twitter.com/islamparenting

credit : twitter.com/islamparenting

“Duh, kasian amat ya kecil-kecil sudah disuruh pakai cadar”, demikian batin saya ketika melihat sekelompok anak-anak memakai jilbab ritz safar ketika saya datang kajian di sebuah pondok di daerah Cileungsi Bogor.

Mereka adalah anak-anak yang belajar di pondok tempat kajian diselenggarakan. Saat itu memang cadar mereka dibuka karena ruangan untuk ibu-ibu terpisah dengan jama’ah laki-laki. Tapi di jilbab mereka terdapat cadar tempel dengan menggunakan retsleting yang memudahkan untuk dibuka tutup, sehingga saya berasumsi bahwa mereka disuruh untuk mengenakan cadar tersebut oleh orangtua mereka masing-masing.

Ternyata asumsi saya tidak sepenuhnya benar.

Belum tentu orangtua anak-anak tersebut yang meminta mereka untuk mengenakannya. Bisa jadi keinginan untuk memakai cadar berasal dari anak-anak itu sendiri. Kok tau?

Hal ini saya ketahui sesudah ngobrol dengan para ummahat tentang anak mereka masing-masing. Salah satunya adalah anak dari teman saya Ummu Saffa, anak ke 3 beliau yang bernama Hafshoh (kelas 1 SD) meminta sendiri untuk mengenakan cadar ketika suatu saat kami berjumpa di salah satu kajian di Cibinong. Kemudian ada lagi anak dari Ummu Zidan yang bersekolah di salah satu SD bermanhaj salaf di Bogor, beliau bercerita kalau anaknya ketika hari berpakaian bebas selalu meminta untuk memakai gamis lebar lengkap dengan jilbab bercadar, anaknya kelas 2 SD.

Kemudian satu lagi saya dapatkan ketika beberapa waktu lalu membaca di buku komunikasi TK, salah seorang ibu menuliskan di buku komunikasi tersebut bahwa anaknya ingin mengenakan cadar ketika sekolah, beliau meminta tolong kepada ustadzah untuk dibantu memotivasi apabila ada teman yang mengejeknya (dan in sya Allah tidak ada anak yang mengejek karena anak-anak di TK Anshorussunnah sudah akrab dengan cadar). Dan tahukah usia anak tersebut? baru 5 tahun. Continue reading

Eits, Jangan Pipis Sembarangan

pic taken from konsultasisyariah.com

pic taken from konsultasisyariah.comSudah agak lama kejadiannya, tapi masih berbekas dalam ingatan.

Waktu itu ada yang sedang berkunjung ke rumah kami, seorang anak kecil laki-laki. Ketika saya sedang memandikan Khansa, dia bilang mau kencing, ya sudah saya buru-buru merapikan Khansa dan membawa anak tersebut ke kamar mandi. Usia anak tersebut 5 tahun, saya pikir umur sekian sudah paham adab buang air kecil jadi saya hanya memperhatikan dari luar saja. Eh, tak tahunya dia hanya membuka celananya sedikit, pipis, kemudian memasang kembali celananya (yang saya yakini terkena cipratan air kencingnya), kemudian hendak keluar kamar mandi tanpa cuci tangan. Hoaa…horor langsung pikiran saya haha.. Lebay biarin, tapi bagi keluarga kami menjaga diri dari najis itu penting.

Langsung saja saya masuk kamar mandi dan saya mandikan sekalian anak tersebut (karena qoddarullah dibawakan baju oleh ibunya). Bisa dibayangkan jika tangannya yang terkena sisa air kencingnya kemudian dia buat bermain di rumah kami atau main dengan Khansa maka najisnya bisa nempel kemana-mana, belum lagi kalau kemudian dia makan maka masuklah bakteri ke dalam mulutnya. Jadi jangan heran kalau saya agak berhati-hati dalam masalah ini.

Pada kasus di atas, saya tidak mempermasalahkan apakah anak lelaki tersebut mau kencing berdiri atau jongkok, karena dalam hal ini tuntunan Rasulullah memperbolehkan untuk kencing berdiri (dengan catatan selama tempatnya tertutup, tidak ada orang yang dapat melihat auratnya, dan tidak ada bagian tubuhnya yang terciprati air kencingnya), walaupun lebih afdhol jika kencing sambil jongkok/duduk. Penjelasannya silakan simak fatwa berikut : Continue reading