Gagal Surprise

Pada tanggal 5 januari yang lalu, tersebutlah seorang suami yang hendak memberikan kejutan kepada istri tercintah. Sepulang kantor, hadiah yang sudah disiapkannya disimpan rapi di dalam tasnya.

Sesampainya di rumah, eh.. ada anak kecil yang mengubek-ngubek tas bapaknya untuk mencari oleh-oleh. Walhasil hadiahnya itu kemudian tertangkap tangan dan sempat disita oleh sang penemu.

Sesudah dinego, hadiah dikembalikan pada yang berhak (tapi anaknya tetap minta jatah hihihi..)

Alhamdulillah.. jazaahullah khoiron, zauji.. 

#bahagiaitusederhana

#chocolover

Menjadi Istri yang Qonaah

“Pa, kok hidup kita begini-begini aja ya? tetangga yang lain sudah punya mobil, kita mah motoran aja dari dulu.”

“Yah, ayah kok ngga dapat THR ya kayak yang lain. Kan ibu pengen beli baju baru sama mukena buat persiapan lebaran.”

“Pak, pengen ini.. pak, pengen itu..”

Apakah pernah kita bercakap seperti hal tersebut kepada suami? Saya pernah, tapi tidak seperti contoh yang pertama dan kedua.

Contohnya ketika awal tahun lalu saya bilang, “Bi, pengen beli sofa bed”. Itupun karena melihat sisi manfaat yang bisa diambil, yaitu buat tempat duduk orangtua ketika berkunjung ke rumah kami. Apalagi ibu saya sedikit bermasalah di bagian lutut, sehingga ketika duduk lesehan agak kesulitan ketika berdiri. Kemudian juga bisa menjadi tempat tidur tambahan ketika ada keluarga menginap dan kamarnya penuh. Saya pun patungan dengan zauji ketika membeli barang tersebut, dan saya tahu suami sedang ada rizki agak lebih dan in sya Allah memungkinkan untuk membelinya. Jadi bukan semata-mata “mung pengen

Tapi saya pernah mendengar ada yang berkata seperti yang saya contohkan di atas. Dia mengeluh karena suaminya kurang dalam memberikan nafkah. Apalagi ketika lebaran, tidak ada THR yang dia dapatkan. Sehingga untuk memenuhi tuntutan istrinya tersebut, si suami pun “meminta” kepada atasan-atasannya untuk mendapatkan tambahan uang. Wallahul musta’an, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Qona’ah (merasa cukup dan puas), sikap ini harus dimiliki oleh seorang istri. Tentu saja hal ini pun saya sendiri masih terus belajar untuk bisa bersikap qona’ah. Terkadang masih ingin ini dan itu (ingin perbaiki teras depan, ingin ngecat rumah, ingin perbaiki pagar hihi..kok banyak ya), tapi in sya Allah masih bisa ditahan hingga rizki mencukupi.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya” HR Muslim (no. 1054)

Terkadang karena keinginan seorang istri, maka suamipun mengambil jalan pintas, bahkan dengan jalan yang dilarang Allah, misalnya mencuri atau melalui pinjaman riba. Na’udzubillahi mindzalik. Continue reading

#AyahyangDirindukan

Walaupun judul postingan ini mirip dengan hashtag #surgayangtakdirindukan, tapi isinya sama sekali lain dengan hashtag tersebut yaa hehe.. Apa yang akan saya bahas disini adalah mengenai fatherhood.

Hari Senin satu minggu yang lalu ketika suami dinas ke kota Palu, malam hari sebelum tidur saya chat dengan ayah Khansa via  whatsapp. Kemudian saya minta Khansa yang ada di sebelah saya untuk mengetik. Khansa ketik, “Abi lagi apa”. Sesudah dijawab oleh ayahnya, lalu Khansa saya minta untuk kirim audio, dia bertanya, “Abi makan apa?”. Trus kesenengan deh, berulangkali gantian sama Abu Khansa kirim-kiriman audio sampai akhirnya saya sudahi dan minta Khansa untuk tidur karena sudah malam .

Sesudah itu saya merem sambil pukpuk Khansa di sebelah saya, lalu pas saya melek untuk cek Khansa apakah sudah tidur atau belum, lho kok dia malah lagi prembik-prembik mau nangis sambil bilang “Khansa mau sama abi”. Bilang begitu terus beberapa kali, padahal sudah saya jelaskan “Iya, in sya Allah hari Kamis abi pulang”. Akhirnya dia mau tidur sambil mengusap airmata dan ingusnya.

Walah genduk ini, padahal kalau ada ayahnya kadangkala keduanya “berseteru”. Ayahnya juga sih sukanya nggodain anaknya sampai teriak-teriak. Biasanya ta tinggal tidur saja “wis kono sing akur” hihi.. Lha rukunnya itu kalau ayahnya mulai keluar rumah atau ambil kunci motor. Langsung deh, gadis kecilnya membuntuti di belakang. Begitupun kalau ayahnya sholat ke masjid biasanya Khansa minta ikut. Alhamdulillah walau kadang “ribut” tapi hubungan ayah-anak dekat, sama-sama sayang. Buktinya? lha itu kalau ayahnya ngga ada dicariin hehe.. Ayahnya juga hafal benar kesukaan anaknya, mulai dari makanan sampai hal kecil lainnya.

Menjadi ayah memang sesuatu. Sanggup mengubah laki-laki yang tadinya tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga menjadi salah satu anggota paspampers (pasukan pengganti pampers)terkemuka. Itu ketika anaknya masih bayi. Ketika beranjak dewasa tantangannya lebih banyak lagi. Bagaimana menjadi ayah yang dekat dengan anak-anak ditengah kesibukan mencari nafkah. Mengatur waktu bagaimana menyelesaikan pekerjaan kantor dengan bermain dengan si kecil. Memanage hati ketika pulang hendak istirahat eh ada yang minta main kuda-kudaan, atau pasar-pasaran. Continue reading

Dari Chatting menjadi Cheating

Cheating bisa luas sekali maknanya. Diambil dari bahasa Inggris yang berarti curang, maka cheating bisa terjadi dalam berbagai hal, misalnya cheating di bidang penulisan,  cheating dalam pertandingan olahraga, atau cheating ketika ujian, dan lain sebagainya. Tapi yang akan saya bahas dalam hal ini adalah cheating dalam sebuah pernikahan, yaitu pengkhianatan cinta.

Bukan sekali dua kali saya dicurhati mengenai seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Dari lingkaran terdekat saja saya mengetahui ada 7 pasangan yang mengalami hal tersebut, dan saya yakin masih banyak pasangan yang mengalami hal tersebut. Kok yakin amat? karena saya pernah membaca salah satu postingan teman di FB yang dikhianati suaminya ketika dia sedang hamil tua, dan di komentar-komentar teman saya tersebut keluarlah curhatan beberapa istri yang mengalami hal serupa.

Duluuuu..cheating atau perselingkuhan bisa berawal dari ngobrol dengan teman lawan jenis di kantor, berlanjut sms-an, kemudian ketemuan, dan mulailah babak baru dalam pernikahanya yaitu adanya perselingkuhan.

Sekarang..cheating lebih mudah dilakukan, apalagi dengan banyaknya media sosial atau sarana chatting yang menjadi penghubung, sebut saja facebook, twitter, bbm, whatsapp, line, instagram, path, dan lain sebagainya. Bisa saja di depan istri menjadi seorang suami yang baik, berbuat seakan-akan tidak ada apa-apa, tapi dibalik handphone, tersembunyi obrolan dan kata-kata mesra kepada lawan jenis, bahkan janji-janji manis untuk bertemu di suatu tempat.

Ya, berawal dari chatting kemudian menjadi cheating. Ini bisa terjadi pada siapa saja (baik pria maupun wanita), kapan saja, dan dimana saja yaitu selama ada kesempatan, godaan syaithan dan lemahnya iman. Na’udzubillaahi min dzalik.

Padahal Allah sudah mengingatkan, dalam firman-Nya disebutkan,

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Penjelasan makna ayat وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

Dan janganlah kalian mendekati zina.
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam rangka melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan zina dan larangan mendekatinya, yaitu larangan mendekati sebab-sebab dan pendorong-pendorongnya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/55)

Kemudian dalam hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Ditetapkan atas anak cucu Adam bagiannya dari zina akan diperoleh hal itu tidak mustahil. Kedua mata zinanya adalah memandang (yang haram). Kedua telinga zinanya adalah mendengarkan (yang haram). Lisan zinanya adalah berbicara (yang haram). Tangan zinanya adalah memegang (yang haram). Kaki zinanya adalah melangkah (kepada yang diharamkan). Sementara hati berkeinginan dan berangan-angan, sedang kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)

Sumber : disini

Continue reading

Jangan Mudah Meminta Cerai

pic taken from tempo.co
pic taken from tempo.co

pic taken from tempo.co

“Haduuh…punya ibu mertua kok gini amat ya, apa-apa salah, ini salah itu salah..ngga tahan aku.. mau minta cerai aja!”

“Waah…gimana inii…kamu kok beli akik seharga 10 juta pake ngegesek kartu kredit ngga bilang-bilang aku??? Padahal aku aja bela-belain super irit buat mengurangi pengeluaran kita. Terus ini gimana cara mbayarnyaaa??? udah ah aku minta cerai!”

“Aku ngga kuaaattt..punya suami tidurnya ngorok, mana orangnya jorok..ceraaai…ceraaai..ceraaai..”

*****

Itulah kira-kira gambaran yang terjadi di sekitar kita, seorang istri seringkali terlintas di pikiran atau dengan mudah mengucap meminta cerai kepada suami.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, tidak tahan dengan kebiasaan buruk suami minta cerai, tidak tahan dengan mertua minta cerai, tidak tahan dengan ekonomi pas-pasan minta cerai. Begitulah  wanita yang kebanyakan cenderung mengutamakan emosi daripada logika *termasuk saya*. Wallahu a’lam.

Para ahli psikologi membedakan pria dan wanita dari otaknya. Otak manusia terdiri dari dua bagian, yaitu sisi yang kanan dengan sisi yang kiri. Setiap sisi bertanggung jawab untuk fungsi yang berbeda. Dalam otak wanita, lebih banyak serat penghubung dan serat ini lebih besar dibanding yang terdapat pada otak pria. Hal ini membuat wanita memiliki kecenderungan lebih besar untuk menggunakan kedua sisi otak secara bersamaan. Sehingga wanita lebih pandai berbicara, open minded juga lebih pandai menjalin hubungan atau berinteraksi dengan individu lain. Tetapi, wanita cenderung menggunakan emosi ketika memproses informasi dan saat berkomunikasi.
Sumber : disini

Walaupun latar belakang bagaimana seseorang dibesarkan mempengaruhi pola pikirnya, tapi berbeda dengan wanita yang cenderung menggunakan emosi, maka laki-laki cenderung menggunakan logikanya. Continue reading

Cemburu itu Perlu

jealousyBeberapa waktu lalu, saya membaca di salah satu postingan teman FB. Dia bercerita berdasar kisah nyata mengenai  sepasang muda mudi (sebut saja fulan dan fulanah) yang saling suka sejak remaja tapi kemudian tak dapat menikah karena adanya perbedaan keyakinan diantara keduanya. Hingga fulanah menikah dan mempunyai anak, si fulan masih sendiri.

Cerita berlanjut sesudah fulanah menikah, ternyata dihatinya masih menyimpan rasa. Suatu saat fulan meng-add facebook fulanah lalu fulanah menerima friend request tersebut. Kemudian,  ketika fulanah bertanya pada suaminya apakah boleh menerima bbm invitation dari fulan, ternyata suaminya memperbolehkan. Padahal sang suami tahu kisah antara dua orang tersebut. Suaminya tidak ingin memaksakan istrinya untuk melupakan masa lalunya, karena suaminya pun menyadari bahwa terkadang dia masih teringat dengan mantan kekasihnya.

Hmm..bagaimana pendapat ibu-ibu? mungkin ada yang pro dan kontra. Yang pro berpendapat “ya tidak mengapa kalau hanya sekedar bertegur sapa via chat seperlunya, toh sudah dewasa dan bisa menjaga diri masing-masing”. Untuk yang kontra berargumen “tidak sepantasnya seorang istri yang sudah menikah untuk menjalin komunikasi yang intensif dengan lawan jenis, terlebih lagi dengan pria yang dulu memiliki jalinan kasih”

Monggo saja mau berpendapat bagaimana, yang jelas tiap pilihan ada konsekuensinya. Yang akan saya kemukakan disini adalah sikap suami terhadap istri apabila hal tersebut terjadi.
Continue reading

Jagalah, Selagi Ada

Kita tentu tahu bagaimana kehilangannya Pak Habibie ketika Ibu Ainun meninggal, kebersamaan mereka berpuluh tahun meninggalkan begitu banyak memori yg mendalam. Suka dan duka mereka hadapi bersama selama berpuluh tahun mengarungi kehidupan rumah tangga, sehingga terpatri kuat kelembutan dan kesetiaan sang istri ketika disampingnya.

Begitu juga dengan Buya Hamka ketika istri beliau mendahuluinya.
Berikut adalah penuturan Irfan, putra Buya, yang menuturkan bagaimana Buya sepeninggal istrinya atau Ummi Irfan .

***

“Setelah aku perhatikan bagaimana Ayah mengatasi duka lara sepeninggal Ummi, baru aku mulai bisa menyimak. Bila sedang sendiri, Ayah selalu kudengar bersenandung dengan suara yang hampir tidak terdengar. Menyenandungkan ‘kaba’. Jika tidak Ayah menghabiskan 5-6 jam hanya untuk membaca Al Quran.

Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?”tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi. [Ayah – Irfan Hamka (hal 212-213)]

***

Dan begitu pula Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- yang merasa kehilangan ketika ditinggalkan oleh Khadijah. Begitu banyak kebaikan Khadijah selama menjadi istri beliau, sehingga sesudah beberapa lama sepeninggal beliau Rasulullah seringkali memujinya. Continue reading